Do’a Tisna Sanjaya untuk Negeri Lewat Performance Art “Sujud”

Seniman Tisna Sanjaya bersujud pada acara "Seni dan Pendewasaan Rohani" di Pendopo Mundinglaya ISBI Bandung. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)
BANDUNG, bandungkiwari - Lelaki itu perlahan bersujud di atas serbuk arang ditemani beberapa wadah berisi beragam bahan rempah di sampingnya. Penonton terdiam menyaksikan lelaki yang bersujud begitu khusyuk. Usai bersujud, wajahnya mendongak seraya membaca do’a melantunkan bait suci atas nama cinta dan perdamaian pada langit-langit Pendopo Mundinglaya, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung pada Selasa (4/9/2018) siang yang penuh sesak.
Lelaki itu bernama Tisna Sanjaya, seorang seniman internasional yang sedang memberikan pemahaman seni pada studium generale dan workshop eksplorasi media untuk mahasiswa baru ISBI Bandung yang bertema “Seni dan Pendewasaan Rohani”.
Untuk memahami lebih dalam tema “Seni dan Pendewasaan Rohani”, pada sesi workshop Tisna mengajak para siswa untuk terlibat secara langsung berkarya bersama dengan judul “Sujud”.
Tisna mengambil “Sujud” sebagai dasar pijakan proses berkarya mahasiswa mampu menerjemahkan kata tersebut menjadi sebuah karya. Sebagaimana diketahui “Sujud” merupakan salah satu bentuk ritual umat Islam, sebagai simbol penyembahan diri. Sekaligus hal yang paling banyak mengandung nilai ketundukan, kehinaan, atau penyerahan diri kepada Allah SWT.
Selain ditampilkan di ISBI Bandung dan beberapa kota di Indonesia, karya “Sujud” dibawanya pula berkeliling ke beberapa negara, seperti Austria, Melbourne dan Singapura. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya Tisna memberikan penyadaran kepada kahalayak luas tentang arti penting perdamaian, karena menurutnya persoalan radikalitas bukan hanya ada di Indonesia, tetapi hampir di semua negara.

Seniman Tisna Sanjaya (kiri) membiarkan kakinya dibasuh mahasiswa pada acara "Seni dan Pendewasaan Rohani" di Pendopo Mundinglaya ISBI Bandung. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)
“Saya diundang ISBI untuk membuat presentasi proses kreatif saya tentang situasi perilaku beragama sekarang di Indonesia yang begitu menggelisahkan,” jelas Tisna.
Kegelisahan Tisna terhadap kondisi agama dan politik dalam negeri tersebut disampaikan kepada mahasiswa dengan pendekatan seni. Mahasiswa diajak terlibat secara aktif merespons kondisi tersebut menggunakan tubuh sebagai alat cetak.
Tisna memberikan contoh membuat cetakan dengan tangan, kaki bahkan tubuhnya sendiri yang ditaburi serbuk untuk menghasilkan struktur yang diinginkan. Hal tersebut menjadikan para mahasiswa tenggelam dalam proses berkarya, termasuk beberapa mahasiswa asing yang mengikuti program darma siswa.
Namun menurut Tisna, selain hal yang menggelisahkan terdapat pula situasi sukacita. Sukacita yang didapatkan tiada lain merupakan reformasi yang menghadirkan kebebasan masyarakat untuk bersuara, menyampaikan pendapat, bahkan bersikap.
“Seni itu memiliki daya untuk meluluhkan ruang hampa atas nama agama, politik kapital dan sebagainya. Keberagaman yang ada pada masyarakat, baik agama, suku bangsa maupun pilihan politik tidak menjadi pertikaian. Namun keragaman yang berbeda itu mampu menjadi kekuatan dan keindahan,” jelasnya panjang lebar.

Seniman Tisna Sanjaya (kanan) berdiskusi bersama mahasiswa asing pada acara "Seni dan Pendewasaan Rohani" di Pendopo Mundinglaya ISBI Bandung. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)
Tisna sendiri menilai ISBI memiliki niat yang baik untuk memperat persatuan melalui seni budaya. Hal tersebut menjadi motivasi bagi dirinya untuk berbagi pengetahuan tentang dunia seni, terutama yang terkait dengan kondisi terkini.
Eksplorasi media yang dihadirkan mendapat perhatian dari mahasiswa studium generale ISBI Bandung. Bahkan sejumlah mahasiswa asing tampak tenggelam dalam berkarya. Pada sesi tanya jawab para mahasiswa menyatakan menemukan pengalaman baru. Sementara mahasiswa asing menegaskan dirinya mendapatkan keindahan sekaligus kedamaian berproses bersama Tisna.
Seperti ungkapan Tisna yang menyatakan Seni mampu melepas batas perbedaan memang tampak pada acara tersebut. Do’a yang dirapalkan Tisna saat menaburkan serbuk pada kanvas tentu bukan hanya aksi perfomance art semata. Lebih dari itu adalah do’a yang tulus agar negeri ini menjadi tenang tanpa pertikaian.
Dan, kembali menjadi manusia Indonesia yang memiliki peradaban cinta. (Agus Bebeng)
