Dua Filmmaker Bandung Angkat Isu Disabilitas di Festival Film Dokumen

BANDUNG, bandungkiwari - Dua film dokumenter karya filmmaker Bandung akan turut ditayangkan pada Festival Film Dokumenter di Yogyakarta, 1-7 Desember 2019 mendatang. Kedua film tersebut bertajuk 'Indera Kaki' karya Ikhsan Achdial dan 'Apa di Kata Nadakanlah, Apa di Nada Katakanlah' karya Gracia Tobing.
Ajiwan AH, Media SIGAB Yogyakarta sekaligus mentor dari program 'The Feelings of Reality' menyebutkan, para filmmaker diarahkan untuk mengangkat sosok penyandang disabilitas sebagai sosok yang tidak berbeda dengan orang lain, bukan dihadirkan sebagai sosok yang lemah. "Dan salah satu hasil yang bisa dikatakan mendekati ekspektasi adalah karyanya Ikhsan, tentang Mas Indra," kata Ajiwan, di Bandung, Kamis (14/11).
'Indera Kaki', judup film karya Ikhsan, bercerita mengenai keseharian Indra Sumedi, seorang tuna daksa akibat tertabrak kereta api. Indra kini bekerja sebagai pembuat kaki dan tangan palsu di Bandung. Film ini juga menyinggung mengenai beberapa pengguna kaki palsu buatan Indra. Salah satunya adalah Hani, yang telah menggunakan kaki palsu buatan Indra sejak usia dua tahun.
Ajiwan menyebutkan, awalnya ide cerita film dokumenter tersebut justru menceritakan mengenai masa lalu Indra. Ia dan mentor lainnya pun menyarankan untuk menghadirkan cerita kehidupan Indra saat ini, yaitu sebagai pembuat kaki dan tangan palsu. "Bagaimana kemudian kaki palsu itu sebagai hal yang urgent bagi kawan-kawan disabilitas. Bagaimana kaki palsu itu menjadi sebuah barang yang sangat berharga," ujarnya.
Kedua film dokumenter yang menggunakan medium virtual reality (VR) tersebut akan dihadirkan bersama tujuh film lainnya, termasuk film dokumenter yang berasal dari Kanada berjudul 'Homestay'. "Nanti dia (film 'Homestay') akan ada sensor di bagian tubuh yang bisa dirasakan. Itu salah satu bentuk pengembangan VR," ujar Project Officer Forum Film Dokumenter, Alwan Brilian.
Film dokumenter yang mengangkat isu mengenai disabilitas dan disajikan menggunakan teknologi VR tersebut mulai diproduksi sekitar Juli hingga Oktober 2019.
Selain Bandung, terdapat tiga kota lainnya yang turut dalam produksi film dokumenter tersebut, yaitu Jakarta, Semarang, dan Sumbawa.
Keunikan dari film dokumenter tersebut adalah, masyarakat dapat menonton film tersebut secara 360 derajat. Alwan menuturkan, hal ini pun menjadi sesuatu hal yang menarik. Ia mencontohkan, bagaimana penonton dapat secara mendetail mengetahui letak tempat tidur ataupun letak kamar mandi Indra dalam film 'Indera Kaki'.
Akan tetapi, nyatanya pembuatan film dokumenter tersebut memiliki tantangan tersendiri. Pasalnya, tidak semua filmmaker pernah melakukan produksi film dokumenter dengan medium VR ataupun mengangkat isu disabilitas. "Bahkan ada yang belum pernah sama sekali dua-duanya," tutur Alwan.
Nantinya, setelah diputar secara premier di Festival Film Dokumenter, seluruh film dokumenter VR tersebut akan dipublikasikan di Youtube. "Jadi, teman-teman bisa sangat memungkinkan untuk mendistribusikan film ini secara pribadi kepada yang lain," ungkap Alwan. Ia menuturkan, untuk menyiasati penggunaan device VR, masyarakat bisa menggunakan card box yang harganya jauh lebih terjangkau. Assyifa)
