Foto: Kisah Dewi Gandari dalam Drama Tari

BANDUNG, bandungkiwari - Gedung Sunan Ambu Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Kamis malam (15/8) itu, menghadirkan satu penggalian kisah tentang perempuan.

Para penari mengajak berkelana pada masa kerajaan dengan gerakan tari yang gemulai dan dinamis.
Permainan cahaya mencoba menjelaskan sisi terdalam cerita "Gandari Menjelaga". Sebuah drama tari karya Anggraeni yang diangkat dari cerita wayang: Epos Mahabarata.
Karya ini mengangkat salah satu tokoh perempuan yang bernama Dewi Gandari, putri Raja Prabu Subala dari kerajaan Gandara, yang harus menerima perjodohan dengan Pangeran Kuru (Astina), yaitu Destrarasta.
Pementasan itu pun bercerita tentang penolakan diri Dewi Gandari pada kenyataan hidup. Namun akhirnya Gandari harus menerima takdir.
Dirinya pun menutup mata dengan kain putih sebagai bentuk kesetiaan pada takdir hidupnya.
Drama tari ini pun disajikan dengan penggabungan tari tradisional dan kontemporer, melibatkan multimedia; pun penataan musik tradisi.
Pola gerak dan unsur pendukung pengadegan dikuatkan dengan penguatan pada suasana emosi diri seorang Dewi Gandari.
Malam itu Gandari memang hadir seolah menginterupsi tentang perempuan yang harus menerima pernikahannya. Simbol menutup mata dan kain putih yang melilit di badan seolah memberi tafsir untuk menerima takdir yang memeluknya. (Agus Bebeng)
