Konten Media Partner

Foto: Pameran Kekerasan Seksual, Semua Terancam Pelecehan

BandungKiwari

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pameran 'Pakaian Penyintas Kekerasan Seksual' yang diselenggarakan Woman March Bandung di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintiskemerdekaan, Bandung, Minggu (24/3). (Foto-foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)
zoom-in-whitePerbesar
Pameran 'Pakaian Penyintas Kekerasan Seksual' yang diselenggarakan Woman March Bandung di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintiskemerdekaan, Bandung, Minggu (24/3). (Foto-foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

BANDUNG, bandungkiwari - Ruangan temaram Gedung Indonesia Menggugat terasa begitu kelam. Sejumlah pakaian, obat anti kehamilan, sepatu, celana dalam, bahkan kondom jadi saksi bisu bagi mereka yang mengalami kekerasan seksual.

Tidak tertinggal tayangan video yang menghadirkan sosok perempuan dengan sajian keterasingan, kekerasan dan sepi seolah ingin berkabar dan menyapa para pengunjung.

Itulah yang akan Anda dapati ketika menyaksikan pameran 'Pakaian Penyintas Kekerasan Seksual' yang diselenggarakan Woman March Bandung di Gedung Indonesia Menggugat, , Jalan Perintiskemerdekaan, Bandung, Minggu (24/3).

Kehadiran barang yang menjadi saksi bisu terasa semakin kental ketika narasi bercerita perihal barang yang dipamerkan.

“Dia memaksaku mengonsumsi obat ini.”

“Dia memasang cermin di sepatunya untuk melihat bagian dalam rokku.”

Itulah sebagian ragam cerita yang mewakili penggalan peristiwa yang dialami para penyintas. Di sisi lain tembok pameran terdapat pula tulisan dari pengunjung yang memberikan dukungan moral kepada mereka.

Menurut PO Women's March Bandung, Nurul Fasivica, kegiatan pameran tersebut diselenggarakan sebagai sarana untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap para penyintas.

"Tujuan penyelenggaraan pameran ini agar masyarakat melek jika pelecehan seksual itu terjadi bukan gegara baju, perilaku atau tempat si korban. Pelecehan bisa terjadi di mana saja, kapan saja atau kepada siapa saja," ungkapnya di sela pameran.

Nurul bahkan menjelaskan salah satu contoh barang yang dipamerkan peristiwanya terjadi di dalam rumah oleh bapak sendiri.

Nurul bersama berbagai komunitas yang peduli persoalan tersebut menjelaskan memang sampai saat ini banyak korban yang tidak berani berbicara.

Untuk itu selain berpameran maupun berdiskusi mereka membuat kampanye dengan tagar Berani Bersuara, dengan harapan kesadaran para penyintas agar berani dan menyadari bahwa banyak orang yang peduli terhadap mereka.

Sebagian besar barang yang ditampilkan pada pameran tersebut merupakan barang dari para penyintas sendiri.

"Beberapa barang bukan barang asli seperti kantong kresek hitam, yang ditampilkan bukan barang sebenarnya," jelas Nurul.

Nurul menceritakan pelaku kekerasan seksual menggunakan kantong kresek saat beraksi karena sang pelaku malu membeli kondom.

Selain penyadaran agar masyarakat mampu menekan kasus kekerasan seksual, Nurul menjelaskan Women's Marc Bandung pun mengadakan kampanye tentang body shaming atau mengejek fisik seseorang.

Seperti diketahui definisi body shaming adalah tindakan mempermalukan seseorang dengan membuat komentar mengejek atau mengkritik bentuk atau ukuran tubuh. Dengan kata lain, pengertian body shaming yaitu perbuatan mencela orang lain atau diri sendiri sebab penampilan fisiknya.

Terlepas dari bahasan di atas, pameran penyadaran yang diselenggarakan Women's March Bandung harus menjadi catatan kaki untuk setiap orang.

Tiada lain karena siapa pun tanpa melihat jenis kelamin, kekerasan seksual bisa menimpa siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

Mungkin esok lusa jika tujuan pameran ini tercapai, pameran Women's March Bandung tidak lagi temaram dan kelam. Namun lebih bercahaya terang dengan masa depan perempuan Indonesia yang lebih bersinar. (Agus Bebeng)