Foto: Tari Ketuk Tilu Ramaikan Peringatan Earth Hour di Bandung

BANDUNG, bandungkiwari - Temaram api dari obor menghentak jiwa purba menikmati kekerdilan cahaya dalam keremangan kota. Ada kerinduan masa lalu bertemu api tatkala goyang pinggul ronggeng ketuk tilu menyemarakkan suasana malam nan gulita.
Halaman Hotel IBIS pada Sabtu malam (30/3) memang lebih gelap dibanding malam-malam sebelumnya. Bukan karena hilangnya aliran listrik, melainkan listrik sengaja dipadamkan untuk menyambut perayaan Earth Hour yang serentak diselenggarakan seluruh dunia pada 30 Maret 2019.
Earth Hour mengajak seluruh lapisan masyarakat di dunia untuk memadamkan lampu yang tidak diperlukan di rumah dan perkantoran selama satu jam.
Hal tersebut diselenggarakan untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya tindakan serius dalam menghadapi perubahan iklim.
Kegiatan yang dicetuskan WWF dan Leo Burnett ini pertama kali diselenggarakan pada 2007. Saat itu, 2,2 juta penduduk Sydney berpartisipasi dengan memadamkan semua lampu yang tidak diperlukan pada pukul 20.30 sampai 21.30 waktu setempat. Setelah Sydney, beberapa kota di seluruh dunia ikut berpartisipasi memadamkan lampu untuk merayakan Earth Hour pada 2008.
Berbeda dengan belahan dunia lain, di satu titik Kota Bandung, peringatan Earth Hour bukan hanya memadamkan listrik. Namun, hadir pula sebuah pertunjukan yang diberi judul "Gelar Pakalangan Ketuk Tilu Bandung Baheula".
Acara yang diselenggarakan Masyarakat Seni Rakyat Indonesia (Masri) berkerja sama dengan Hotel IBIS, sanggar Dapur Pangbarep, dan Studio Cantika tersebut menampilkan ragam tarian Sunda dengan sajian utama seni tari ketuk tilu.
Acara dimulai dengan menyalakan lampu obor sebagai simbol peringatan Earth Hour.
"Dahulu pagelaran seni tradisi Sunda menghadirkan obor sebagai penerangan. Setelah adanya peradaban petromak keberadaan obor mulai tergantikan," ucap Nanu Muda sebagai perwakilan Masri.
Sajian gelar ketuk tilu tersebut menurut Nanu Muda menggambarkan kegiatan para pamogoran (penggemar) menari bersama ronggeng (penari sekaligus penyanyi). Tarian yang disajikan adalah tarian gaya ketuk tilu dalam suasana gembira, ceria, dan semangat, yang dikemas lewat suasana Bandung tempo dulu dengan lampu obor di tengah arena pertunjukan.
Selain dalam rangka memeringati Earth Hour, gelaran tersebut pun sekaligus mengenalkan kembali seni ketuk tilu yang kini keberadaannya kurang diminati masyarakat.
Sebelum penampilan ketuk tilu, para penikmat malam Minggu disuguhi dengan ibingan senggot, kalakay murag, tablo, daun pulus keser bojong, cikeruhan, serta ditutup dengan hiburan pakalangan menari bersama Ketuk Tilu Bandung.
Acara yang berlangsung selama 1 jam tersebut usai tatkala lampu kembali dinyalakan. Bandung kembali hadir dengan lampu yang terang benderang menuntun berjuta pasangan yang kasmaran dibalut dinginnya cuaca. (Agus Bebeng)
