Konten Media Partner

Ikebana Jepang Rasa Indonesia, Tak Alergi Kritik Politik

BandungKiwari

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ikebana Jepang Rasa Indonesia, Tak Alergi Kritik Politik
zoom-in-whitePerbesar

Andajani Trahaju dan karya ikebananya di Lawangwangi Creative Space. (Iman Herdiana)

BANDUNG, bandungkiwari – Sejumlah seniman ikebana, seni merangkai bunga asal Jepang, berpameran di Lawangwangi Creative Space. Pameran ini juga menyajikan seni ikebana kontemporer yang mengkritik praktik korup dalam berebut kekuasaan.

Kritik misalkan ditampilkan karya ikebana berjudul “Mahar” karya Andajani Trahaju. Karya “Mahar” berwujud kayu bekas yang sudah tua dimakan rayap. Kayu diberdirikan dan dilumuri timbal. Di bawah kayu tercecer sejumlah uang logam.

Pembuatan karya Mahar dilatarbelakangi maraknya pemberitaan tentang mahar politik baik di musim pemilihan kepala daerah maupun pemilihan presiden di Indonesia. Meski sulit dibuktikan, Andajani Trahaju yakin mahar politik itu ada.

Menurut Andajani yang juga kurator dalam pameran bertajuk “[not]ARTofficial[?]: Out of Track” itu, mahar sebetulnya praktik yang biasa ada pada pernikahan berupa persembahan. Namun kemudian mahar dipakai juga dalam bahasa politik.

Ia menjadikan puncak kayu ikebananya sebagai simbol kekuasaan yang dilumuri timbal. “Semakin ke atas semakin banyak (uang) yang dipakai,” katanya, saat berbincang dengan Bandungkiwari di galeri yang berdiri di Jalan Dago Giri No. 99 Bandung, Jawa Barat, 5 Oktober-5 November 2018.

Selain “Mahar”, Andajani juga memamerkan karya lainnya yang mirip ikebana beraliran klasik. Ia menyebut karyanya memakai gaya bebas yang dikembangkan Sekolah Ohara di Jakarta. Secara sederhana, ikebana adalah seni memindahkan alam ke dalam ruangan.

Ia memakai akar kayu gambil yang sudah dicat mengkilap. Akar kayu dipakai sebagai rangka beragam tanaman bunga termasuk pohon lemon yang berbuah. “Seperti pemandangan alam tapi ada tipuan imajinasinya,” katanya.

Ikebana tersebut tampak klasik tapi memakai gaya bebas. Meski demikian, dalam pembuatannya tak lepas dari filosofi Zen seperti asimetris, harmoni, keseimbangan.

Ia menjelaskan, membuat ikebana memiliki sejumlah pakem yang tak bisa dilewati begitu saja. Misalnya, tanaman yang dipakai harus sesuai dengan alam di mana ikebana itu dibuat. Jika ikebada dibuat di Indonesia, maka tanamannya harus yang berasal dari hutan tripis Indonesia. Tidak bisa dicampur dengan tanaman dari hutan musim dingin.

Sehingga ikebana yang tampil di Lawang Wangi bisa disebut ikebana Indonesia. “Karena tanamannya dari Indonesia, dan musimnya di Indonesia cuma ada dua,” jelasnya.

Ikebana klasik tidak mempersoalkan kritik sosial atau bahkan kekuasaan. Karena itulah dalam pameran tersebut diharapkan lahir ikebana kontemporer yang memiliki pesan, konten dan konteks.

Sehingga media bungga bukan lagi sebagai sentral dari ikebana. Bunga sudah indah, jadi dianggap tak perlu lagi dirangkai dalam rangkaian dekoratif. Seniman ikebana dituntut melahirkah karya yang tidak melulu memamerkan keindahan bunga.

Lalu Andajani membuat “Mahar”, sebuah ikebana tanpa bunga yang mengkritik korupsi. “Jadi sekarang ini sudah bisa menggunakan plastik, metal, kayu. Karena perkembangan ikebana dari klasik ke kontemporer juga akhirnya,” ujar seniman yang memperdalam ikebana di Jepang sejak 1998 dan kini aktif mengajar di sejumlah komunitas.