Pencarian populer

Kesenian Wayang Golek Dilanda Krisis Regenerasi Perajin

Dalang Wayang Golék, Opick Sunandar Sunarya, menyelesaikan proses pewarnaan dan pembuatan pakaian wayang. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

BANDUNG, bandungkiwari - Goresan kuas kecil menyempurnakan garis motif di kepala ksatria tanpa tubuh. Aksen pada mata seolah mengabarkan jiwa terdalam yang bersembunyi jauh di relung kalbu sang tokoh. Sementara pakaian dengan warna cerah mengabarkan semangat pertempuran dan kegagahan para ksatria dari Pandawa dan Astina.

Di tangan lelaki bernama Opick Sunandar Sunarya, wayang golek buatan dari selacau itu diwarnai dan diberi pakaian, sehingga hadir utuh menjelma menjadi perlambang manusia di bumi. “Kesempurnaan” yang wajib hadir dari wayangnya untuk menjadi tuntunan dan tontonan para pecinta seni tradisi wayang.

Tidak banyak orang yang mengetahui jika Opick mampu membuat wayang dan memperbaikinya. Opick di kancah seni tradisi hadir sebagai dalang yang memiliki karakter berbeda dengan pedalang lain.

“Saya juga belajar membuat wayang sejak lama dari beberapa perajin, terutama dari Abah Endin almarhum yang dianggap maestro pembuat wayang,” ucap Opik seraya memaku pakaian wayang.

Dalang Wayang Golék, Opick Sunandar Sunarya, menyelesaikan proses pewarnaan dan pembuatan pakaian wayang. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

Kemampuan membuat wayang yang dipelajari merupakan kebutuhan untuk melangsungkan profesi dirinya mendalang, sekaligus melestarikan wayang agar tetap hadir pada pertempuran globalisasi saat ini. Terlebih menurutnya ketika mementaskan wayang, yang melakukan adegan pertempuran selalu saja wayang mengalami benturan dan gesekan.

Untuk itu diperlukan kemampuan memperbaiki wayang agar tetap terjaga dan siap dipertontonkan. Bagi Opick menjadi pedalang bukan hanya wajib bisa memainkan wayang, tetapi memahami sejarah dan membuat wayang harus menjadi bagian utuh seorang pedalang.

Apalagi saat ini menurutnya tidak semua dalang mampu membuat wayang. Banyak di antara para pedalang hanya mampu memainkannya saja. Hal tersebut berakibat ketika wayang rusak harus memerlukan orang lain untuk proses perbaikan, sementara harga perbaikan wayang relatif lumayan.

“Mengecet ulang kepala wayang, hanya satu kepala wayang saja bisa mencapai 250 sampai 300 ribu (rupiah),” ujarnya.

Dalang Wayang Golék, Opick Sunandar Sunarya menyelesaikan proses pewarnaan dan pembuatan pakaian wayang. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

Untuk satu kotak wayang yang mencapai seratusan lebih bisa mencapai lebih dari Rp 25 juta. Itu pun belum mencakup perbaikan pakaian atau tubuh wayang yang rusak. Menyiasati hal tersebut Opick pun mempelajari cara memperbaiki sampai membuat wayang, karena bagaimanapun pedalang harus memiliki keilmuan selain mementaskan wayang.

Sementara itu pada sisi lain, Opick menyayangkan banyaknya kesalahan pemakaian wayang dalam pementasan. Banyak wayang yang masuk kategori wayang hias, tetapi dimainkan untuk pementasan. Meski menurutnya hal tersebut sah saja untuk pementasan, akan tetapi pemakaian wayang hias untuk pementasan membuat ketidaknyamanan pedalang.

“Wayang hias banyak yang berukuran besar. Itu bisa membuat dalang cepat lelah. Sementara orang tua kita dulu membuat wayang sesuai dengan ukuran untuk pementasan. Wayang hias sama wayang pake itu beda,” ucapnya.

Hal lain yang terkait soal ketidaknyamanan memainkan wayang, pun wayang hias yang digunakan untuk pementasan berakibat wayang mengalami kerusakan lebih cepat. Tiada lain menurutnya karena penggunaan yang tidak semestinya.

Terlepas dari persoalan tersebut, Opick memang menginginkan kelahiran regenerasi perajin wayang. Regenerasi diperlukan bukan hanya untuk wayang kategori hias, tetapi untuk wayang yang digunakan dalam pementasan. Opick menginginkan hadirnya perajin wayang muda yang memahami pakem pembuatan wayang secara benar.

Sejumlah kepala Wayang Golék selesai diwarnai di kediaman dalang Opick Sunandar Sunarya. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

“Mungkin suatu waktu wayang akan punah jika kita kehilangan regenerasi perajin wayang. Harus ada gerakan penyadaran pentingnya melahirkan perajin wayang muda,” katanya.

Harapan Opick dan pedalang lain tentu bukan tanpa sebab. Apalagi saat ini beberapa maestro perajin wayang sudah meninggal, sementara ada perajin wayang yang tidak memiliki murid untuk meneruskan warisan budaya yang telah sekian lama ini menjadi warna Indonesia.

Jadi, ika kamu memiliki keinginan menjadi perajin wayang, tentu adalah tantangan sekaligus peluang untuk melesatarikan bersama wayang Indonesia. (Agus Bebeng)

Opick Sunandar Sunarya tampil mementaskan wayang golek pada salah satu kegiatan budaya. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: