kumparan
KONTEN PUBLISHER
31 Oktober 2018 13:12

Kisah 3 Pencuri dalam 60 Tahun Perjalanan Studiklub Teater Bandung

Salah satu adegan pementasan "Pesta Pencuri" karya Jean Anouilh, dengan sutrada IGN. Arya Sanjaya. Pementasan yang menceritakan polemik tipu menipu, masyarakat kelas bawah sampai bangsawan yang dibalut dengan komedi ini merupakan bagian dari Ulang Tahun Studiklub Teater Bandung (STB) ke-60. (Foto-foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)
ADVERTISEMENT
BANDUNG, bandungkiwari – Tiga pencuri bernama Bono, Hector dan Gustave terlibat saling mencopet antar sesama kawan. Sampai akhirnya mereka bertemu seorang bangsawan yang menawari mereka menginap di sebuah villa keluarga, villa Des Boyard.
Di villa itu tiga pencuri tersebut merencanakan aksi pencurian. Namun dua di antara pencuri jatuh cinta kepada keponakan sang bangsawan. Romantika di antara ponakan bangsawan dan copet pun terjalin. Sampai suatu ketika diselenggarakan festival dengan tema ‘pesta pencuri’ di kota tersebut.
Rencana pencurian itu pun kandas, karena tanpa mereka sadari mereka masuk dalam rencana besar yang dirancang oleh sang bangsawan.
Itulah kisah pementasan teater berjudul “Pesta Pencuri” karya Jean Anouilh yang disutradarai IGN. Arya Sanjaya di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung, Selasa (30/10/2018) malam.
Pementasan yang menceritakan polemik tipu menipu, masyarakat kelas bawah sampai bangsawan yang dibalut dengan komedi ini merupakan bagian dari ulang tahun Studiklub Teater Bandung (STB) ke-60.
ADVERTISEMENT
60 tahun tentu bukan usia muda untuk sebuah kelompok teater. Bertahannya STB dalam liku kehidupan zaman patut mendapat apresiasi karena mampu mengada sampai saat ini. Apalagi apabila menelisik dalam sejarah teater, STB wajib menjadi catatan kaki tentang teater modern tertua di Indonesia.
STB yang didirikan pada 13 Oktober 1958, atas inisiatif 7 tokoh yaitu: Jim Lim, Suyatna Anirun, Sutardjo A. Wiramihardja, Adrian Kahar, Tin Srikartini, Thio Tjong Gie dan Soeharmono Tjitrosuwarno ini telah memberikan warna dan sumbangsih terhadap teater modern Indonesia.
Dalam perkembangannya selain melakukan pementasan-pementasan teater, STB melakukan studi terhadap teater modern yang belum begitu familiar pada masa itu. Bahkan STB menjadi tempat belajar dan berbagi keilmuan untuk banyak seniman teater di Indonesia. Salah satu kegiatan untuk studi keaktoran dan teater adalah adanya pelatihan yang disebut “Acting Course”.
Acting Course yang kali pertama dilaksanakan pada 1962 di Jalan Kebun Bibit Bandung, sampai saat ini telah melahirkan banyak seniman teater yang tersebar ke pelbagai daerah di luar pulau Jawa. Kini pada usia yang ke-60 tahun STB tetap hadir dalam kancah teater Indonesia, terus menggelorakan semangat jiwa pantang menyerah dan kecintaan pada dunia teater.
ADVERTISEMENT
“Diharapkan dengan 60 tahun ini memacu STB meneruskan benang merah untuk setia pada proses produksi,” ucap Sis Triadji Ketua STB.
Lebih lanjut Sis menambahkan hal yang paling dikejar oleh STB saat ini adalah keberlangsungan garapan produksi teater. Maka tidak mengherankan apabila dalam kurun waktu 1 tahun STB mementaskan pertunjukkan teater dengan 2 naskah yang berbeda.
“Satu naskah babon, satu lagi yang biasa,” tegas lelaki yang mengajar di ISBI Bandung.
Untuk memberikan sumbangsih kepada masyarakat teater, STB pun berencana kembali mengaktifkan Acting Course, karena banyaknya permintaan untuk itu. Selain itu tentunya hal ini pun sebagai regerasi kelahiran aktor. Meski menurut Sis pada saat ini teater tidak kehilangan aktor karena terbukanya para aktor dan kelompok teater yang tidak melarang aktornya untuk bermain di kelompok lainnya.
ADVERTISEMENT
Salah satu produk Acting Course yang diselenggarakan STB adalah IGN. Arya Sanjaya yang merupakan lulusan Acting Course angkatan V. Bergabung pada 1988 dirinya bermain kali pertama dalam lakon King Lear, karya penulis W. Shakespeare.
Memandang usia 60 tahun STB Arya berharap agar kelompoknya tetap mampu hadir mengisi dunia teater Indonesia.
“Saya ingin STB panjang umur dan bisa berulang tahun lebih lama lagi,” ucapnya usai pementasan “Pesta Pencuri”.
Panjang umur STB menurut Arya karena dasar STB adalah studiklub, dengan demikian tidak ada sosok yang sentral dalam kelompok ini. Berbeda menurutnya dengan teater yang bertumpu pada seorang sutradara, dalam istilah Arya, teater sutradara.
“Ketika seorang sutradara yang memiliki posisi sentral tidak ada, maka teaternya akan hilang juga,” tegasnya.
ADVERTISEMENT
STB menurut Arya adalah perkecualian, karena dari waktu ke waktu dalam tubuh STB senantiasa ada lapis-lapis generasi yang hadir dan terus memutarkan roda organisasi. Sehingga STB dapat terus bertahan sampai usia ke-60.
Meramaikan suasana ulang tahun STB, Arya yang kali pertama menyutradarai pada 2004 lalu mementaskan naskah Sang Kuriang karya Utuy T. Sontani, untuk kali ini mencoba menampilkan “Pesta Pencuri”.
Pilihan naskah tersebut menurutnya sesuai dengan kondisi saat ini. Namun dirinya mengembalikan pementasan tersebut kepada penonton untuk menafsir apa yang hadir dalam garapannya. Akan tetapi dirinya tetap ingin memberikan pesan tentang kejahatan, kerakusan, ketamakan dan sisi gelap kemanusiaan.
Terlepas dari harapan Arya sang sutradara, setangkup kebahagiaan dirasakan seorang penonton bernama Nunu Nugraha. Pementasa “Pesta Pencuri” baginya seolah memutar kembali ingatannya ketika masih kuliah dulu.
ADVERTISEMENT
Menurutnya ketika dulu mendengar STB akan pentas ada kebanggaan apabila mampu menyaksikannya. STB seolah seperti magnet yang mampu menarik mahasiswa untuk datang, meski uang saku sangat terbatas untuk membeli tiket. Bahkan menurutnya semasa kuliah, anak-anak mahasiswa peternakan yang jarang berinteraksi dengan kesenian sangat mengenal STB, meski tidak pernah menyaksikan pertunjukannya.
“STB sebagai kelompok teater tertua di Indonesia yang mampu mengikuti zaman adalah salah satu bentuk keberhasilan. Konteks dan teks yang dihadirkan STB mampu melebur pada masa saat ini. Semua memiliki masa, tapi tidak dengan STB. Bagi saya STB selalu memiliki masa,” ucap Nunu yang juga menjadi dosen salah satu perguruan tinggi swasta ini.
Usia STB memang sudah sepuh, tetapi bukan berarti usia tua menjadikan STB mengalami osteoporosis yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang. Bukankah seorang Suyatna Anirun, salah satu pendiri dan sutradara STB pernah berkata, “Usia boleh tua, tapi semangat harus tetap muda, karena teater senantiasa berjiwa muda.” (Agus Bebeng)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan