Kisah Darman Sang Penyayang Hewan

Poster tapir di Kebun Binatang Bandung. (Foto-foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)
BANDUNG, bandungkiwari - Pagi ceria bersama udara yang segar dan suara hewan yang bersahutan, lelaki berumur setengah abad itu sibuk membersihkan kandang. Sepatu booth membungkus kakinya, sementara sapu lidi terus menari menyerang sampai habis kotoran yang menantang.
Di balik jeruji kandang, beberapa ekor tapir Asia (Tapirus indicus) mulai mencium kedatangan sahabatnya. Beberapa kali mencoba mendorong pintu hendak keluar. Namun lelaki itu terus berbicara meminta sang tapir untuk bersabar.
Lelaki penjaga itu bernama Darman, pada usia ke-51 tahun dirinya sarat dengan pengalaman mengurus bergam binatang di Kebun Binatang Bandung (KBB).

Sejak 1983 Darman telah menjadi bagian dari kebun binatang. Awalnya dirinya hanya bertugas sebagai pembersih dan penjaga cadangan binatang. Namun dalam perjalanannya, Darman mendapat kepercayaan merawat tapir dan menjadi salah satu zoo keeper andalan.
“Sayang dan suka,” jawabnya ketika ditanya modal utama menjadi perawat.
Menurutnya apabila tidak memiliki kegemaran kepada binatang jangan pernah berharap mampu mengurus, bahkan mengembangbiakkan binatang secara benar. Bagaimanapun merawat binatang bukan sebatas memberi makanan jelas Darman.
Darman saat ini bertugas sebagai zoo keeper untuk merawat tapir. Amanat yang tentu luar biasa, mengingat tapir tergolong satwa langka di Indonesia. Populasinya kritis, bahkan IUCN (International Union for the Conservation and Natural Resource) organisasi konservasi internasional telah menyatakan tapir terancam punah, termasuk apendik satu.

Keberadaan tapir yang terancam punah tersebut tentu menjadi tanggung jawab besar seorang Darman. Namun di balik kesederhaan lelaki yang memang mewarisi pekerjaan dari orangtuanya ini, tangan dinginnya telah berhasil membantu kelahiran dan membesarkan 6 ekor Tapir. Total sampai saat ini KBB telah memiliki 8 ekor Tapir.
“Ada yang hamil lagi,” ucapnya dengan wajah sumringah.
Kebahagiaan Darman sang penjaga hewan ini akan hadir apabila tapir yang diakuinya sebagai anak ke-2 ini, dalam kondisi sehat apalagi mampu melahirkan anak-anak tapir. Darman menceritakan bagaimana selalu mengalami ketegangan jika tapir yang dirawatnya dalam proses kelahiran.

“Ampun tegang. Saat itu pernah saya lagi libur, tapi dapat kabar tapir mau melahirkan. Langsung saja lari ke sini,” ucapnya.
Menurut Darman keberadaan dirinya pada proses kelahiran, bukan hanya sebatas tanggung jawab dirinya terhadap pekerjaan. Namun lebih dri itu mampu memberikan ketenangan kepada tapir yang sedang melahirkan. Bagaimanapun menurut Darman, tapir yang dirawatnya lebih tenang ketika dirinya ada di sampingnya daripada orang lain yang asing di mata tapir.
Ketika tapir melahirkan bukan berarti pekerjaan itu beres. Menurut Darman harus mengikuti pula perkembangan anak tapir yang lahir tersebut. Dalam satu kasus Darman menyaksikan sang induk menolak kehadiran anak tapir dan hampir membunuhnya.

Pada saat itulah dirinya hadir sebagai bapak sekaligus ibu angkat untuk anak tapir yang baru dilahirkan. Alhasil keberhasilannya merawat anak tapir dan menjaga tapir yang berjumlah 8 ekor di KBB telah menasbihkan Darman sebagai bapak tapir.
Dibalik perjalannya hidupnya sebagai zoo keeper suka duka menjadi bagian kesehariannya. Kebahagiaanya dalam membatu melahirkan dan membesarkan tapir harus dihadapkan ketika tapir yang dirawatnya harus berpindah tempat ke kebun binatang lain.

Pertukaran binatang memang telah menjadi tradisi kebun binatang untuk proses pengembang biakkan. Itupun yang terjadi ketika Darman dengan sangat berat hati harus menyaksikan “anaknya” jauh dari hadapannya.
Tangannya tidak lagi dapat menyentuh, membelai atau sekadar bermain dengannya.
“Sedih. Ada yang hilang,” ucapnya sambil menerawang, mengenang kepergian sang Tapir.

Namun bagaimanapun kepergian tapir sang anaknya tersebut dapat membuat Darman lebih menerima kondisi psikologisnya daripada tapir yang dirawatnya, mati atau berada di tempat yang tidak jelas.
Di balik tuturannya hidup bersama tapir, Darman sedikit mengeluh. Beberapa tahun lagi dirinya akan pensiun. Darman tidak dapat membayangkan dirinya jauh dari tapir yang telah menjadi anak-anaknya selama ini. Pun dimana KBB telah menjadi rumah ke-2 yang selama ini dirinya menghabiskan hari.

Darman (51), pengurus beragam binatang di Kebun Binatang Bandung. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)
Darman sang penjaga hewan, tidak ingin larut dalam kesedihannya. Bersegera dirinya memasuki area kandang mengajak Willy dan Yuni untuk mandi.
“Ini kebahagiaan saya” ujarnya sambil membelai tapir yang pura-pura tidur di bawah guyuran air. (Agus Bebeng)
