Konten Media Partner

Kisah Eksil Tragedi 65 Pemenang Bandung Contemporary Art Award 2019

BandungKiwari

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Vincent Rumahloin berpose dengan latar karyanya berajuk "Don't Call Me Hero: Soegeng Soejono". Karya ini jadi pemenang Bandung Contemporary Art Award (BaCAA) 2019. (Dok Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Vincent Rumahloin berpose dengan latar karyanya berajuk "Don't Call Me Hero: Soegeng Soejono". Karya ini jadi pemenang Bandung Contemporary Art Award (BaCAA) 2019. (Dok Istimewa)

BANDUNG, bandungkiwari - Tahun 1965 merupakan babak baru lembaran sejarah Indonesia. Di tahun ini terjadi tragedi yang diawali peristiwa G/30/S dan diikuti rangkaian tragedi kemanusiaan lainnya, salah satunya dialami para eksil di pengasingan.

Potret para eksil itu diabadikan lewat seni fotografi dan video oleh seniman muda Vincent Rumahloin. Karya-karya Vincent berajuk "Don't Call Me Hero: Soegeng Soejono" jadi pemenang Bandung Contemporary Art Award (BaCAA) 2019, penghargan seni rupa kontemporer seniman yang rutin digelar ArtSociates Indonesia.

Vincent yang banyak mengekplorasi fotografi seni ini memetik fragmen sejarah masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru tahun 1965, sebuah periode yang menempatkan banyak pihak di dalam posisi yang tidak menguntungkan, termasuk Vincent Sugeng Soejono alias Bung Yono.

Instalasi foto di atas meja dan dinding galeri, juga video, mengisahkan Bung Yono dan kawan-kawannya yang hidup sebagai orang biasa di Praha namun dijadikan eksil politik sejak masa Orde Baru hingga saat ini.

Bung Yono awalnya mahasiswa yang dikirim oleh pemerintah Sukarno untuk menuntut ilmu di Praha, Ceko. Namun sejak tragedi 1965 meletus, nasib Bung Yono berujung diasingkan. Bung Yono tak bisa pulang ke Indonesia. Pemerintah Orde Baru menolaknya.

“Kita dapat menyaksikan cuplikan rentang hidup Bung Yono selama 30 tahun dalam karya ini, dimulai pada waktu kedatangannya di Praha hingga beliau kembali ke Indonesia untuk berkunjung,” kata Christine Toelle, panitia BaCAA, melalui keterangan tertulisnya, Senin (30/9).

Lewat karyanya, Vincent menunjukkan bagaimana penyalahgunaan kekuasaan dapat mengubah nasib orang dengan semena-mena. Ia mendedikasikan karya ini sebagai apresiasi terhadap Bung Yono, dan berharap karya ini menjadi titik tolak perbincangan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia pada 1965.

Vincent adalah satu dari tiga seniman muda pemenang anugerah BaCAA #6 2019. Pengumuman anugerah seni paling bergengsi di Bandung ini dilakukan anggota Dewan Juri BaCAA #6, Wiyu Wahono dan Asmudjo J. Irianto, serta Andonowati, Direktur ArtSociates Indonesia sekaligus sebagai penyelenggara, di Lawangwangi Creative Space, Jalan Dago Giri No. 99, Mekarwangi, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (27/9) malam. Namun karya para pemenang dan finalis lainnya masih dapat diapresiasi di Lawangwangi Creative Space hingga 27 Oktober 2019.

Dewan Juri BaCAA #6 terdiri dari para profesional di seni rupa global, yaitu Asmujo J. Irianto (Kurator, Indonesia), Hady Ang (Kolektor dan Penikmat Seni, Singapura), Naima Morelli (Jurnalis Seni, Italia), Melati Suryodarmo (Seniman, Indonesia), Pei-Yu Lin (Praktisi Galeri, Projek Fullfill Art Space, Taiwan) dan Wiyu Wahono (Penikmat Seni dan Kolektor, Indonesia). Dewan Juri BaCAA #6 sengaja tidak memposisikan juara pertama dan seterusnya. Ketiga pemenang diposisikan sebagai seniman terbaik.

Vincent sendiri berhak mendapat hadiah uang tunai Rp100 juta rupiah. Dua seniman lainnya adalah Bandu Darmawan yang memperoleh hadiah berupa kegiatan Artist in Residen di Intermondes, La Rochelle, Perancis; serta Audya Amalia mendapatkan hadiah Art Trip ke museum seni, galeri, institusi seni juga pameran-pameran selama satu minggu di Eropa atau di Amerika.

Bandu Darmawan mengolah karyanya yang terinspirasi dari sebuah film thriller berjudul Ouija. Bandu, pada karyanya, menyoroti persoalan manusia yang selalu berupaya menemukan cara berkomunikasi dari zaman ke zaman. Sementara Audya Amalia menyajikan karya berjudul "His Mom Told Me To...." yang menguak banyak kisah kehidupan di dalam rumah tangga.

Mengenai kriteria penilaian, dewan juri mengutamakan karya seni rupa kontemporer. Wiyu Wahono menjelaskan, seni rupa kontemporer tidak memiliki batas dan memang harus keluar dari batas atau definisi seni. “BaCAA adalah arena kompetisi bagi seniman-seniman muda di Indonesia yang memproduksi karya-karya seni rupa kontemporer yang cutting-edge, bukan avant-garde yang selama ini salah dipahami. Jadi, kami di Dewan Juri memang memilih karya-karya yang seni kontemporet yang cutting-edge di BaCAA ini,” katanya.

Selain itu, secara umum, Dewan Juri BaCAA #6 cenderung memilih karya para finalis yang menyajikan karya-karya naratif, landasan berpikir atau konsep karya yang lebih menyentuh persoalan sosial, individu juga sejarah hingga politik berdasarkan karya-karya yang lolos seleksi. Dari sisi media, BaCAA #6 memilih medium seni yang beragam baik dari aspek pilihan material juga cara penyajiannya yang lebih eksploratif.

Karya yang disajikan memang tidak sesederhana karya dua dimensi, karya-karya harus didukung oleh cara penyajiannya dalam bentuk instalasi seni dengan pemanfaatan teknologi video, suara, digital fotografi, dan cetak digital, found-object, casting dan teknik modern lainnya yang dianggap masih efektif menyampaikan pesan dan mengemas konteks karyanya.

Sebelumnya, kompetisi BaCAA #6 diawali dengan Open Call terhadap seniman berumur di bawah 35 tahun. Sampai 17 Juli 2019, ada ratusan submisi yang diterima panitia. Setelah beragam seleksi, Dewan menentukan 15 Finalis.

Pilihan karya seni rupa kontemporer dari BaCAA #6 pada tahun ini juga diharapkan dapat menguatkan pengetahuan para kolektor, pencinta seni dan masyarakat umum baik di Indonesia dan internasional tentang karya-karya seniman muda dari Indonesia. (Iman Herdiana)