PUBLISHER STORY
Leuit Simbol Kehidupan
11 March 2018 17:18 WIB
0
0
(Foto-foto: Agus Bebeng/bandungkiwari.com)
SUKABUMI, bandungkiwari - Angin berbisik di sela daun bambu, menyambut kabut tipis yang mengikis keringat di pelipis. Ada sejumput kalut yang dibawa kabut, saat jarak pandang semakin samar di balik kemudi. Kabut tipis memaksa mobil berjalan perlahan mengikuti lekuk tubuh jalanan terjal berbatu yang licin dilumuri tanah merah.
Sesaat jiwa kota merajuk pulang, mengajak rehat di kasur empuk dengan tawaran berselancar di dunia maya. Namun khayalan buyar saat mobil tergelincir dan mundur ke tepian jurang. Mata kami nanar memandang tepi jurang yang garang. Bergegas kami berloncatan menjegal ban mobil dengan batu. Jarak yang tinggal sehasta menuju tepian, membuat kami istirah seraya memandang lembah yang dibalut karpet alam nan menawan.
Sepeminuman teh, kami melanjutkan perjalanan berbekal tabu dan keinginan menemukan peradaban kehidupan. Gerimis mulai berhenti, tetapi jalanan berbatu masih belum ramah kami lalui. Sementara lumpur dan kubangan seperti mulut buaya yang selalu siap memakan mobil yang lewat. Mata kami semakin awas berjalan ditemani senja dengan bayang kesepiannya.
Setelah perjalanan sekian jam akhirnya kaki kami menginjak tanah Kasepuhan Ciptagelar. Ciptagelar secara administratif berada di wilayah Kampung Sukamulya Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, tepatnya di kaki Gunung Halimun.
Ada haru ketika kali pertama disambut Leuit (lumbung padi) si Jimat dan Imah Gede yang seolah membuka tangannya hendak memeluk. Rindu berkelindan memantul dari deretan Leuit yang seolah menjadi benteng kokoh menangkis anak panah perubahan; laiknya seperti Bisma di Kurusetra yang tidak digoyah dihujam ribuan anak panah. Deretan Leuit itu berdiri memandang matahari, menghimpun jutaan padi yang terkandung dalam rahim peradaban Ciptagelar.
Bagi masyarakat kota, Leuit tentu barang aneh dan sangat tidak penting untuk diberdirikan. Apalagi jika diterjemahkan sebatas ruang penyimpanan padi semata. Bukankah padi bisa disimpan di manapun tanpa harus dibuatkan bangunan khusus dari kayu keras yang demikian mahal?
Hal itu mungkin saja yang ada dalam nalar masyarakat kota yang sangat efisien dan efektif dalam mengelola ruang. Namun tidak untuk masyarakat yang menganut budaya padi, seperti halnya Ciptagelar. Keberadaan Leuit menjadi identitas dan pola kepatuhan terhadap tradisi yang telah diwariskan oleh leluhur masyarakat mereka sejak berates tahun lalu.
“Sekarang Leuit di Ciptagelar mencapai kurang lebih 11.000 bangunan. Tersebar di 568 kampung yang berada di bawah Kasepuhan Ciptagelar,” ucap Yoyo Yogasmana, juru bicara Kasepuhan Ciptagelar.
Gadis remaja Kasepuhan Ciptagelar bersiap mengikuti upacara Seren Taun
Jumlah 11.000 Leuit yang tersebar di Ciptagelar, jelas menandakan jika secara pertanian terjadi swasembada pangan di tempat ini. Selain itu karena memang telah menjadi kewajiban setiap orang untuk memiliki Leuit sendiri. Apalagi jika ada pasangan yang menikah mereka wajib memiliki Leuit bersama yang disebut Leuit Gunakaya.
Masyarakat Ciptagelar meyakini jika tidak menyimpan padi di Leuit mereka akan kabendon atau terkena musibah. Sementara di sisi lain panen padi yang selalu melimpah setiap tahun memerlukan ruang penyimpanan yang semakin banyak. Maka tidak mengherankan apabila Leuit terus beranak-pinak di Ciptagelar.
Jika memandang Leuit dalam perspektif bank pangan kearifan lokal untuk menyikapi kondisi paceklik, tentu Leuit tidak lebih hadir sebagai gudang beras. Namun bagi keturunan Pancer Pangawinan ini Leuit memiliki nilai transenden dalam realitas keseharian.
Leuit memang menjadi barang terpenting bagi masyarakat Ciptagelar, karena tanpa keberadaan Leuit identitas mereka hadir sangat tidak utuh. Leuit bisa dikatakan sebagai simbol kehidupan dan kedaulatan Kasepuhan Ciptagelar.
Sebegitu pentingnya Leuit bagi masyarakat Ciptagelar, bahkan dalam fase Ngalalakon atau perpindahan kampung dari Ciptarasa ke Ciptagelar Leuit si Jimat menjadi bangunan utama yang mengikuti perpindahan tersebut. Selanjutnya ketika proses Ngababakan atau mengawali kehidupan di perkampungan baru “dirasa” menjadi resmi ketika Leuit si Jimat telah berdiri menempati area yang telah ditentukan.
“Leuit seperti generator kehidupan,” imbuh Abah Ugi Sugriana Rakasiwi yang menjadi pemimpin adat Kasepuhan Ciptagelar.
Sebagai konsep generator kehidupan itulah Leuit menjadi hal penting yang selalu hadir menyertai masyarakat Ciptagelar. Kebersamaan antara padi dan Leuit seolah secara sederhana seperti kehadiran siang dengan matahari dan malam dengan bulannya. Hal itu pulalah yang menjadikan Leuit sebagai logo Kasepuhan Ciptagelar. (Agus Bebeng)
Tulisan ini adalah kiriman dari publiser, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: