Menggali Tradisi Buhun di ISBI Bandung

BANDUNG, Bandungkiwari - Hana nguni hana mangke. Tan hana nguni tan hana mangke. Aya ma beuheula aya tu ayeuna. Hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna. Demikianlah naskah Kropak 632 yang sering disebut “Amanat Galunggung". Nerjemahan naskah tersebut kurang lebih:
Ada dahulu ada sekarang
bila tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang
karena ada masa silam maka ada masa kini
bila tidak ada masa silam tidak akan ada masa kini
Bukan tanpa sebab amanat leluhur masyarakat Sunda untuk tidak melupakan masa lalu tersebut hadir, tiada lain karena ada kegiatan Pentas Kreativitas dan Apresiasi Seni (PKAS) yang diselenggarakan mahasiswa karawitan Insititut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung yang mengusung tema “Buhun Identity Of Indonesian Culture".

Acara kali ke-11 ini memang mengangkat tema tentang "Buhun". Buhun yang dalam bahasa Indonesia mengandung arti masa lampau ini diharapkan menjadi ruang penggalian dan interpretasi para seniman karawitan memandang warisan budaya masa lalu untuk dilestarikan dan dikembangkan pada kondisi saat ini.
Muhammad Amir Abdurrahman, ketua pelaksana acara tersebut memandang perlunya mengenalkan kembali khasanah seni dan budaya 'Buhun' kepada masyarakat luas terutama mahasiswa agar tidak lupa pada pijakan sejarah.

Amir mengkhawatirkan apabila generasi muda melalaikan bahkan melupakan sejarah masa lalu. Karena bagaimana pun warisan budaya yang hadir saat ini merupakan hasil kreasi masyarakat di masa lampau.
"Jas Merah (jangan sekali-sekali melupakan sejarah) kalau kata Bung Karno," ucapnya di sela menyaksikan pementasan Seni Goong Renteng.
Lebih lanjut Amir menyatakan pengertian 'buhun' bukan sebatas kesenian semata. Namun beragam aspek yang diwariskan nenek moyang kepada generasi berikutnya.

Tarawangsa Sanggar Seni Sunda Lugina Rancakalong tampil pada acara Pentas Kreativitas dan Apresiasi Seni (PKAS) yang diselenggarakan mahasiswa karawitan Insititut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung yang mengusung tema “Buhun Identity Of Indonesian Culture". (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)
"Segala sesuatu yang kita lihat saat ini sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dengan massa lalu," tegasnya.
Amir mencontohkan pada kesenian kontemporer terutama seni musik yang dipelajarinya, selalu beranjak dari peninggalan masa lalu.
Pada sisi lain Amir menyatakan dengan mempelajari hal 'Buhun' para seniman muda tidak akan lepas dari estetika dan etika. Dua kandungan makna tersebut menurutnya bisa didapatkan apabila memelajari hal-hal Buhun.

"Dari tradisi buhun, kita belajar banyak hal, seperti penghormatan terhadap alat kesenian. Orang tua kita di masa lalu begitu memiliki penghormatan terhadap alat yang dimainkan. Mereka merawatnya dengan sungguh-sungguh," tuturnya.
Hal terpenting menurutnya kegiatan ini ingin berdampak kepada semua kalangan untuk tidak melupakan masa lalu, karena banyak hal yang bisa diejawantahkan pada saat sekarang.
Untuk menguatkan pencapaian tersebut Amir bersama teman seangkatannya menyelenggarakan seminar dan pementasan.
Pada acara seminar dikedepankan tema “Buhun Sebagai Sumber Kreativitas Masyarakat Millenial” dengan pembicara Jacob Sumardjo (Filsuf/Budayawan), Budi Dalton (Budayawan), dan Man Jasad (Karinding Atack).

Sementara pementasan seni buhun sendiri menampilkan Goong Renteng Mbah Bandong Sasaka Waruga Pusaka Situs Bumi Alit Kabuyutan, Tarawangsa Sanggar Seni Sunda Lugina Rancakalong dan Pantun Sunda Mang Ayi.
Pada hari lain akan pula menampilkan para komposer seperti: Septian Dwi Cahyo (Yogyakarta), Gema Swarstyagita (Jakarta), Gempur Sentosa, Dedi Satya Hadianda, Dody Eka Gustdiman (Bandung), Daniel Antonio Milan Cabrera (Mexico,) Lawe Samahaga (Bogor). Serta peserta kegiatan Young Composer Show yang terdiri dari 5 peserta yang terbagi dari beberapa wilayah seperti Yogyakarta,Surakarta, Madura hingga Denpasar, Bali).
Pun akan tampil peserta kegiatan Young Composer Show yang terdiri dari 5 peserta yang terbagi dari beberapa wilayah seperti Yogyakarta,Surakarta, Madura hingga Denpasar, Bali.

Terlepas dari rangkaian acara tersebut, Oos Koswara seorang penari yang berpijak pada tradisi menyambut baik kegiatan yang diselenggarakan.
"Dengan pementasan seperti ini anak muda akan memahami apa seni tradisi buhun itu sendiri. Karena banyak di antara mereka tidak mengetahui hal ihwal seni tradisi" ucapnya.
Oos sendiri justru berharap kegiatan yang diselenggarakan tersebut dapat memicu mahasiswa untuk belajar lebih jauh tentang seni tradisi.

"Jangan hanya diam di kampus, mahasiswa harus langsung terjun ke daerah yang masih kental dengan tradisi agar memahami kesenian secara baik. Kalau di kampus cukup hanya belajar teknik saja," ungkapnya.
Acara yang menampilkan dua pementasan seni Goong Renteng dan Tarawangsa memang tampak diminati para mahasiswa. Mereka mendapat penjelasan terlebih dahulu dari pimpinan sanggar tentang seni yang dimainkan.
Meski malam semakin larut usai pementasan Goong Renteng, para mahasiswa melihat secara langsung praktik ritus tradisi seni Tarawangsa yang lebih menekankan pentingnya olah rasa dalam menikmati Tarawangsa.
Tentu malam boleh bergerak menuju pagi, hari bisa melanjutkan perjalanan, bahkan tahun akan terus berkelana. Namun tentunya seni tradisi yang dilahirkan para leluhur harus terus terjaga mengikuti irama waktu bahkan babak pergantian abad. (Agus Bebeng)
