Konten Media Partner

Milenial Beli Karya Seni di Instagram

BandungKiwari

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Milenial Beli Karya Seni di Instagram
zoom-in-whitePerbesar

Perpustakaan di Griya Seni Popo Iskandar, Jalan DR Setia Budi, Bandung. (Foto: Iman Herdiana/Bandungkiwari)

BANDUNG, bandungkiwari – Fenomena jual beli daring kini sudah lazim. Di zaman media sosial ini orang membeli fesyen, peralatan rumah tangga sampai sembako, cukup dalam genggaman tangan.

Fenomena serupa mulai merambah karya seni—lukisan, patung, dan seterusnya—seperti dialami Rifky Effendy, kurator Orbital Dago Gallery. “Sekarang media sosial membawa perubahan. Banyak toko atau mal yang tutup, pembelinya beralih ke online,” kata Rifky.

Kurator galeri seni rupa di Jalan Rancakendal Luhur Nomor 7 Bandung itu menuturkan, untuk menjawab tantangan zaman Orbital Dago Gallery pun memiliki situs web, Facebook, Twitter, Instagram.

Suatu waktu, Instagram Orbital Dago Gallery menerima direct messages (DM) dari anak muda milenial asal Jakarta yang ingin membeli salah satu karya yang dipajang di Instagram Orbital.

Orbital lalu menjawab DM si calon pembeli berikut memberikan harganya. Calon pembeli tersebut mengaku harus ngecek dulu tabungannya. Ternyata, tabungannya tidak cukup. “Dia cuma punya uang sekian,” katanya.

Singkat cerita, kata Rifky, si pembeli itu akhirnya bisa memiliki karya yang menjadi incarannya. Bahkan dia mengunggah bukti transfer di Instagram pribadinya.

“Ini baru dan menarik, harga puluhan juta ga mungkin dibeli tanpa dilihat,” tuturnya.

Padahal di masa sebelum marak jual beli daring, yang namanya membeli barang, apalagi lukisan atau barang seni, harus melihat fisik barangnya sampai muncul istilah “ada uang ada barang”. Namun kini istilah tersebut mungkin tidak lagi relevan.

“Zaman kita kan harus lihat dulu, pegang dulu barangnya. Saya lihat begini anak sekarang, beli karya tanpa lihat fisiknya dulu,” ucapnya.

Ia menilai, selain perubahan zaman, fasilitas di media sosial juga mendorong orang memiliki barang lewat rangsangan digital. Misalnya lewat Instagram, orang bisa mengontak si penjualnya langsung.

Begitu pula di dunia seni, orang bisa mengontak senimannya langsung selain mengamati foto karyanya. Sebaliknya bagi seniman atau penjual karya, media sosial menjadi ajang promosi bagi karyanya, termasuk memberikan keterangan rinci tentang kreasi dan gagasannya.

Kendati demikian, Rifky mengakui, sejauh ini pembelian barang seni melalui media sosial masih bersifat kasuistik, belum sesemarak jual beli daring untuk komoditas non-seni.

“Instagram masih kasus tertentu, tapi ke depan kita harus pertimbangkan itu. Seperti toko online yang berpengaruh pada tutupnya toko-toko biasa. Jadi ada gerakan atau fenomena baru dalam perilaku marketing masyarakat. Kita optimis,” ungkap salah satu inisiator BDG Connex tersebut. (Iman Herdiana)