Pemilihan Rektor Unpad Molor, Mahasiswa Khawatir Ijazah Ditandatangani Plt

Mahasiswa Unpad mengusung spanduk "Selamatkan Unpad" di sekretariat Majelis Wali Amanat (MWA) Unpad, Jalan Cimandiri Bandung. (Istimewa)
BANDUNG, bandungkiwari - Sejumlah mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Unpada (Ampun) kembali berunjuk rasa perihal proses Pemilihan Rektor (Pilrek) periode 2019-2024. Kali ini mereka datang ke sekretariat Majelis Wali Amanat (MWA) Unpad, Jalan Cimandiri Bandung, Kamis (20/12/2018).
Setelah berunjuk rasa, perwakilan Ampun diterma oleh MWA selaku lembaga penyelenggara Pilrek Unpad untuk melakukan audiensi. Usai audiensi, Ampun menilai ada pihak yang sengaja menunda-nunda Pilrek, di mana dalam hal ini sosok yang paling berperan adalah ketua MWA, Rudiantara.
"Saya bisa katakan dengan jelas, orang yang berusaha mengundurkan-ngundur proses ini adalah Ketua MWA Pak Rudiantara," kata koordinator Ampun, Chaidar Maulana Wardana dalam rilis yang diterima Bandungkiwari.
Chaidar menuturkan tudingan tersebut didasari alasan tidak adanya itikad baik dari Ketua MWA untuk melanjutkan agenda pilrek. Salah satunya, sambung dia, dengan tidak menghadiri sidang-sidang pleno untuk membahas kelanjutan pilrek.
"Berdasarkan statuta (aturan), sidang-sidang pleno itu harus dihadiri Ketua MWA sebagai pengambil keputusan. Kami melihat tidak ada itikad baik dari Ketua MWA ini. Ketika ada dorongan dari anggota untuk rapat, Ketua MWA ini selalu menghilang" ujarnya.
Chaidar menjelaskan, agenda pilrek yang terkatung-katung ini dikhawatirkan akan berdampak pada penunjukkan Pelaksana Tugas (Plt) Rektor Unpad. Keberadaan Plt ini menurutnya akan memberikan dampak besar pada mahasiswa.
"Salah satu dampaknya buat mahasiswa, ijazah yang akan kami dapatkan nanti ditandatangani Plt, kami tidak mau itu terjadi. Secara hukum, tanda tangan Plt itu kurang kuat," jelasnya.
Chaidar menyatakan Ampun akan terus mengawal proses Pilrek Unpad, lantaran menurut rencana pada 28 Desember 2018 mendatang MWA akan kembali mengadakan sidang pleno guna membahas agenda Pilrek.
Lebih lanjut perwakilan Ampun lainnyan Leo Tri Lesmana menduga molornya agenda pilrek merupakan kesengajaan. Dia melihat tiga calon rektor yang sudah lolos seleksi tidak dikehendaki oleh Ketua MWA, karena disinyalir menginginkan rektor petahana kembali memimpin Unpad.
"Sejelek apa pun track record tiga calon rektor yang lolos seleksi, sebenarnya yang dipermasalahkan adalah tiga calon itu tidak diinginkan karena Ketua MWA ingin petahana naik lagi," katanya.
Awalnya penetapan Rektor Unpad terpilih akan dilakukan pada 27 Oktober 2018, tiga nama calon rektor yang lolos berbagai seleksi yakni Aldrin Herwany (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), Atip Latipulhayat (Fakultas Hukum), dan Obsatar Sinaga (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik).
Sementara itu, desakan serupa muncul dari Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Padjadjaran (Unpad), Hikmat Kurnia. Ia menyatakan pihaknya mendesak Majelis Wali Amanah (MWA) Unpad, agar segera memutuskan satu dari tiga nama calon rektor Unpad.
"Batas waktunya kan sampai 13 Januari 2019, MWA masih punya waktu untuk memilih rektor. Rektor harus terpilih sebelum tenggat waktu," kata Hikmat, Kamis (20/12/2018).
Hikmat berharap, molornya penentuan rektor Unpad bukan karena dipolitisasi oleh kepentingan-kepentingan individu maupun kelompok. Dia menilai, proses pemilihan rektor yang terkatung-katung hingga saat ini menimbulkan kegaduhan di seluruh aspek civitas akademi Unpad.
Menurut Hikmat, satu-satunya cara agar kegaduhan berakhir adalah segera menentukan nama rektor Unpad sesuai aturan yang berlaku. Pasalnya, dia melihat belakangan ini santer terdengar kabar yang mengatakan bakal ada perubahan dalam aturan pemilihan rektor Unpad.
"Ikuti saja aturan main sesuai statuta. Kalau aturannya berubah ditengah pertandingan ini akan merepotkan semua pihak dan akan menimbulkan pertanyaan. Kalau aturannya mau diubah, harusnya dari awal," jelasnya.
Hikmat mengatakan, pemilihan rektor Unpad seharusnya tidak membuat seluruh sektor civitas akademi Unpad menjadi gaduh. Dia memastikan seluruh anggota IKA Unpad akan mendukung siapapun rektor yang dipilih oleh MWA.
"Ini kan, pergantian yang biasa saja di dalam organisasi. Tapi agar tidak gaduh, ini butuh penyelesaian," katanya. (Utara Jaya)
