Konten Media Partner

Tafsir Propaganda “Subang” Digerogoti Tikus di Gang Asem

BandungKiwari

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tafsir Propaganda “Subang” Digerogoti Tikus di Gang Asem
zoom-in-whitePerbesar

Mural di Gang Asem, Subang, Jawa Barat. (Foto: Iman Herdiana/Bandungkiwari.com)

BANDUNG, bandungkiwari - Jika Iwan Fals membuat lagu Tikus-tikus Kantor, di Subang ada mural tentang tikus yang menggerogoti tulisan “SUBANG”. Mural ini terdapat di salah satu dinding rumah di Gang Asem, sebuah jalan yang lebarnya cukup delewati satu mobil saja.

Namun gang ini berada di pusat kota Subang, posisinya berdekatan dengan sebuah penginapan yang tak tauh dari jalan raya Letnan Jenderal Soeprapto.

Panjang mural diperkirakan mencapai tiga meter, dengan lebar sekitar 1,5 meter. Seniman muralnya mendesain tulisan “SUBANG” (huruf kapital semua) menyerupai tekstur keju berwarna kuning cerah dengan background jingga.

Di sekeliling tulisan “SUBANG” terdapat tujuh tikus gemuk berwarna cokelat gelap. Beberapa tikus sedang lahap menggerogoti keju, sementara beberapa huruf dari kata “SUBANG” tampak koyak habis digerogoti hewan pengerat.

Di bagian atas tulisan “SUBANG”, tepatnya di atas huruf “A”, bertengger seekor tikus berdasi merah dan bermahkuta emas. Dia duduk tenang, tubuhnya paling bongsor dibanding tikus-tikus lainnya. Matanya melotot dengan buntut berdiri.

Mural tersebut tampak masih baru, setidaknya dapat dilihat dari kecerahan cat atau warna lukisannya. Di sudut kanan bawah mural terdapat inisial “CAD 24.25/02/18” yang bisa jadi insial dari si senimannya, sedangkan angka 24 dan 25 bisa jadi tanggal pembuatan mural itu, yakni 24 dan 25 Februari 2018.

Sementara di bulan Februari tahun tersebut, warga Subang digegerkan dengan operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (OTT KPK) terhadap Bupati Imas Aryumningsih di rumah dinasnya, Jalan Tamansari. Imas diduga terlibat suap terkait perizinan di Kabupaten Subang. OTT KPK terhadap Imas berlangsung 13 Februari 2018, sebelum mural tentang Subang itu jadi—jika mural tersebut dibuat antara 24 dan 25 Februari 2018.

Menurut kurator Artspace.id, Argus FS, mural adalah bagian dari seni rupa yang dalam beberapa tahun belakangan ini bentuknya bercampur dengan grafiti. Seni rupa figur dan teks tersebut biasa dibikin di atas permukaan tembok ruang publik atau privat. Tujuan mural yang dikombinasikan dengan grafiti untuk menyampaikan pesan secara lebih verbal.

Argus FS kemudian mengamati foto mural SUBANG yang digerogoti tikus di Gang Asem. Menurutnya, lukisan tersebut memang bisa dibilang bentuk mural. “Karena yang ada bentuk figur “tikus” sebagai metafora dari koruptor yang dikombinasikan dengan grafiti dengan teks "SUBANG",” terang Argus, kepada Bandungkiwari.com, Senin (2/7/2018).

Dengan kata lain, seniman yang bikin mural “SUBANG” ingin menunjukkan betapa dahsyatnya kemampuan tikus dewasa ini yang mampu menggerogoti kabupaten sebesar Subang, bukan hanya menggerogoti kantor sebagaimana yang sudah lama dilagukan Iwan Fals.

“Nah, mural dan grafiti di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan sekitarnya, juga di beberapa daerah di Pantura sudah biasa digunakan sebagai media propaganda baik itu propaganda soal keberagaman, budaya, sosial bahkan politik,” papar Argus.

Argus menuturkan, mural di Subang tersebut mengingatkannya pada karya seniman dari Australia yang berpameran di galeri Jatiwangi Art Factory, Majalengka. Seniman Australia tersebut memakai figur monyet dengan background warna merah yang berisi pesan anti-korupsi dan anti-politisi busuk.

Tafsir Propaganda “Subang” Digerogoti Tikus di Gang Asem (1)
zoom-in-whitePerbesar

Gerbang selamat datang di Subang, Jawa Barat. (Foto: Iman Herdiana/Bandungkiwari.com)

“Gambar di Subang itu bisa dikatakan sebuah penanda simbolik bahwa daerah Subang banyak dikerumuni oleh tikus-tikus atau koruptor atau politisi busuk yang toleran terhadap praktik korupsi atau politik kotor seperti money politic yang hingga saat ini sulit dicegah karena sudah menjadi budaya di dalam tubuh partai politik,” terangnya.

Penangkapan Imas oleh KPK tentu menjadi pukulan bagi masyarakat Subang yang berharap daerahnya maju dan tak digerogoti korupsi. Harapan Subang bangkit dan maju muncul lewat pesata demokrasi Pemilihan Bupati dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak Rabu 27 Juni lalu. Warga Subang yang datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) umumnya tidak mau daerahnya dipimpin seorang koruptor.

Salah satu warga yang datang ke TPS, Uyat (77), menegaskan bahwa korupsi masalah krusial yang dihadapi Subang. Dampak korupsi pada Subang sangat besar, antara lain terhambatnya kemajuan dan pembangunan. “Uang rakyat yang dipakai itu kan menghambat pembangunan,” tukas Uyat, saat ditemui di satu TPS di Gang Jagal, Subang.

Ada nada pesimis dari Uyat soal pemilihan bupati. Sebab meski datang ke TPS untuk memilih, ia tak yakin pemimpin Subang selanjutnya akan bebas dari korupsi. Menurutnya, orang bisa berubah, orang baik bisa menjadi orang jahat ketika duduk di kursi kekuasaan.

Sedangkan dalam sejarahnya, Subang berkali-kali digoncang isu korupsi yang dilakukan kepala daerahnya. Dengan kasus Imas, berarti Subang sudah tiga kali mengalami dipimpin oleh pemimpin yang tersangkut kasus rasuah. Sebelumnya Subang digoncang kasus bupati Eep Hidayat, kemudian disusul bupati Ojang Sohandi (bupati yang menggantikan Eep), dan kini Imas yang menggantikan Ojang.

Tak heran jika kemudian muncul mural kritis seperti yang ada di Gang Asem, mural “SUBANG” yang digerogoti tikus-tikus. Namun Subang juga memiliki mural dengan makna positif dibandingkan mural di Gang Asem tadi, yaitu mural yang menghiasi salah satu sisi yang berseberangan dengan Alun-alun.

Di sana terdapat mural yang berjajar beraneka gambar dan warna, salah satunya menampilkan kartun Bupati Imas Aryumningsih. Di mural ini Imas digambarkan berkerudung biru, mengenakan kacamata berbingkai tebal sedang tersenyum memegang piala Adipura. Ia duduk dengan latar pesawahan yang terhampar, pepohonan hijau dan langit cerah.

Tafsir Propaganda “Subang” Digerogoti Tikus di Gang Asem (2)
zoom-in-whitePerbesar

Mural di Jalan RA Wangsa Ghofarana, Subang. (Foto: Iman Herdiana/Bandungkiwari.com)

Menurut Argus FS, praktik pembuatan mural tidak hanya digunakan perupa untuk tujuan seni semata, tetapi juga bisa bertujuan politis yang disponsori oleh lembaga negara maupun pemerintah. “Misalnya BNN untuk kampanye anti-narkoba,” katanya.

Di sisi lain, meski kena OTT KPK, Imas tentu berhak atas asas praduga tak bersalah. Namanya juga masih tercatat di KPU Subang sebagai kandidat calon Bupati Subang yang berpasangan dengan Sutarno. Foto pasangan yang diusung Golkar ini juga terdapat di surat suara pemilihan bupati Subang.

Menurut Sutarno, status Imas baru tersangka, dan butuh penetapan hukum tetap (inkrah) dari pengadilan untuk menyatakan Imas sebagai yang bersalah. “Artinya statusnya kan belum inkrah, apa yang disangkakan belum terbuktilah ya, jadi masih dalam proses,” kata Sutarno, di rumahnya, kawasan Dangdeur, Subang, Jawa Barat, pada hari pencoblosan.

Imas, kata Sutarno, belum menjalankan proses sidang, baru dilakukan penyelidikan oleh KPK. “Saya yakin kita berdoa, semoga ibu sehat, tabah, tawakal menghadapi cobaan ini. Kita doakan dan semua permasalah ini cepat selesai, yang terbaik menurut Allah bukan menurut kita. Dan apa pun, kita harus menjunjung tinggi penegakan hukum. Dari awal kita memang junjung tinggi supremasi hukum. Menghormati,” lanjutnya. (Iman Herdiana)