Tembang Puitik dalam Aura Seriosa

BANDUNG, bandungkiwari - "Apa hanya tinggal bunga ini, Carlo, kekasihku? Aku memang terlambat menemuimu, menepati janji kita. Namun mimpi dan cintaku takkan pernah tertinggal walau sesaat. Sungguh inti mencintaimu itu tiada ukuran di dunia. Sungguh, aku sanggup menantimu sampai dunia tak lagi berarti".
Kalimat di atas meluncur dari mulut aktor Heliana Sinaga. Sebuah pengantar konser dari karya berjudul Linda pada Chamounix - O luce di quest’ anima pada konser amal Ati Sriati bertajuk 'Nada-nada Nan Tak Bertepi' di Institut Francais Indonesia, Bandung (IFI Bandung), Minggu (3/11) malam.
Malam itu bersama gerimis yang luruh, Ati Sriati, penyanyi Soprano yang telah berkiprah selama 58 tahun dalam seni suara musik klasik ditemani pianis berbakat, Yohanes Siem dan penyanyi tenor ternama, Farman Purnama mengajak pecinta musik klasik berkelana ke negeri yang tak tercatat dalam peta.
Tidak kurang dari 13 lagu menjadi paku bumi yang mematok para pecinta tak bergerak dari ruangan. Ada Kisah Angin Malam Dewi Anggraini (Saiful Bahri Iskandar), Voi lo sapete dari opera Cavalleria Rusticana (Pietro Mascagni), Linda di Chamounix dari opera Linda di Chamounix - O luce di quest’ anima (Gaetano Donizetti), La fleur que tu m’avais jetée dari opera Carmen (Georges Bizet), Un dì, felice, eterea duet, dari opera La Traviata (Giuseppe Verdi), Vissi D'Arte, Vissi D'Amore dari opera Tosca (Giacomo Puccini), dan Je veux vivre dari opera Roméo et Juliette (Charles Gounod).
Ada pula Evermore Without You dari musical The Woman In White (Andrew Lloyd Webber), I Dreamed a Dream dari musical Les Misérables (Claude-Michel Schönberg), All I Ask of You duet dari musical The Phantom of the Opera (Andrew Lloyd Webber), If I Loved You dari musical Carousel (Richard Rodgers), Musica proibita (Forbidden Music) (Stanislao Gastaldon) yang seolah menyihir para pendengarnya.
Dalam konser malam itu Ati mengajak hadirin dan khalayak umum untuk berpartisipasi dalam menggalang dana yang ditujukan bagi Pusat Pengembangan Potensi Anak (PUSPPA) Surya Kanti Bandung.
Konser amal malam itu memang berbeda. Tak seperti laiknya konser musik yang penuh hingar bingar dan keliaran para penggila musik. Konser musik seriosa Ati, penuh kebersahajaan. Pengunjung yang hadir mengenakan pakaian yang santun dan sebagian besar pengunjungnya sudah sepuh.
Beberapa pengunjung malah hadir menggunakan tongkat dan bantuan pendamping untuk menuntunnya berjalan. Mereka tampak memiliki kecintaan yang luarbiasa terhadap musik ini, terlihat meski hujan mengguyur, langkah mereka tidak goyah menuju ruang pertunjukan.
Tentu hal tersebut merupakan paparan visual yang menegaskan musik seriosa masih diminati para pecinta musik Indonesia, meski tidak membludak seperti laiknya konser musik populer lainnya.
Hal tersebut memang tidak lepas dari sosok Ati Sriati yang sampai saat ini penuh dedikasi, cinta kasih dan ketulusan menjaga marwah musik seriosa terus hadir tak lekang dimakan jaman.
Ati memang tidak sepopuler musisi lainnya. Bisa jadi tidak banyak orang tahu jika perempuan kelahiran Sukabumi pada 1969 lalu ini, pernah menjadi juara pertama lomba bintang radio dan televisi bidang seriosa tingkat Jawa Barat selama tujuh kali berturut-turut (1975-1982). Lalu pada 1982, meraih juara pertama tingkat Nasional. Dirinya pun acapkali terlibat berbagai konser di dalam dan luar negeri.
Ati yang sejak kecil terpengaruh musik klasik dari piringan hitam pemberian orangtuanya, merasa prihatin karena tidak adanya generasi muda yang menekuni musik seriosa, terutama di Bandung.
"Dulu pernah ada yang belajar. Tapi karena kesibukannya, seperti kuliah jadi tidak diteruskan" ujar Ati yang memiliki nama lain Si Burung Kutilang.
Dirinya sampai saat ini sangat terbuka apabila ada generasi muda yang ingin belajar musik seriosa. Karena baginya seriosa bukan hanya sebatas hobi, melainkan kecintaan akan hidup.
Lebih jauh Ati menjelaskan musik seriosa memberikan kedalaman jiwa ketika dimainkan. Apalagi jika mengingat Tuhan telah memberikan suara yang begitu beragam dan jenis pada manusia.
Meski begitu, menurutnya, berlatih dan disiplin tetap menjadi hal yang harus dijalani untuk mendapatkan suara yang prima. Untuk menjaga hal tersebut Ati acapkali berlatih di rumahnya saat senggang.
Terlepas dari hal tersebut, menurut Ati minat generasi muda pada musik seriosa saat ini menurun. Berbeda halnya pada dekade 60-80an musik seriosa menapaki puncak keemasannya. "Mungkin karena belajar seriosa itu harus belajar teknik vokal yang baik. Orangnya harus sabar, disiplin. Tidak instan," ucap Farman Purnama yang malam itu tampil menemani Ati Sriati.
Lelaki yang pernah belajar seni pertunjukan vokal klasik di Utrecht Conservatory (Hogeschool voor de Kunsten Utrecht) ini, mengatakan musik seriosa berbeda dengan umumnya musik yang ada. Seriosa yang merupakan bagian musik klasik ini harus dipelajari dengan benar; terutama teknik. Karena menurutnya penampilan di panggung para musisi seriosa menggunakan vokal yang benar tanpa menggunakan mike.
Farman sendiri berharap generasi muda memiliki minat terhadap musik seriosa, karena seriosa menurutnya merupakan art song-nya Indonesia. "Seriosa itu tembang puitik" ucapnya.
Di atas panggung sederhana, yang berpendaran cahaya dan sajian multimedia, Ati Sriati yang ditemani Yohanes Siem dan Farman Purnama mengajak penonton tamasya rasa dalam pusaran tembang puitik berbalut aura seriosa. (Agus Bebeng)
