Tiga Seniman Muda Beda Gaya Bikin Ruang Seni Bersama Huma Studio

Huma Studio, Jalan Cipagalo Girang nomor 6, Buah Batu, Bandung. (Istimewa)
BANDUNG, bandungkiwari – Kehadiran ruang tak bisa dipisahkan dengan seniman. Ruang selanjutnya menjadi tempat berproses sekalgus menghubungkan karya seni dengan publik pecinta seni.
Maka pentingnya keberadaan ruang mendorong tiga seniman muda Bandung mendirikan Huma Studio di Jalan Cipagalo Girang nomor 6, Buah Batu, Bandung. Tiga seniman itu ialah Tina Nuraziza, Tomas Arbibowo, dan Zaenal Abidin.
Mengawali pembukaan Huma Studio, baru-baru ini tiga seniman tersebut menggelar program open studio. Lewat program ini, Huma Studio menjadi ruang yang dapat diakses publik seni maupun akademisi.
“Programnya adalah open studio yang sebetulnya sudah berakhir bersamaan dengan berakhirnya program Bandung Art Month, bdgconnex,” kata Tina Nuraziza, kepada Bandungkiwari, Sabtu (25/8/2018).
Bandung Art Month merupakan event seni rupa yang digelar kelompok atau komunitas seni yang tergabung dalam Bdgconnex. Event ini berlangsung sebulan penuh sejak 15 Juli hingga 15 Agustus 2018.

Kegiatan di Huma Studio, Jalan Cipagalo Girang nomor 6, Buah Batu, Bandung. (Istimewa)
Namun berakhirnya Bandung Art Month tidak berarti menutup Huma Studio. Di studio yang menempati bangunan dua lantai itu, Tina dan kawan-kawan tetap berproses kesenian. Sebab studio bersama yang didirikan awal tahun 2018 ini berlandaskan pada kesadaran akan kebutuhan ruang yang secara pribadi berfungsi sebagai ruang berproses para seniman.
Ketiga seniman yang terlibat dalam pendirian Huma Studio merupakan seniman yang memiliki gaya berkesenian yang berbeda-beda. Tina Nuraziza misalnya, seniman kelahiran Bandung 20 November 1981 ini memiliki ketertarikan pada objek boneka yang dikaitkan dengan tema-tema personal dengan pendekatan psikoanalisis.
Pada awal kariernya di dunia seni rupa, lukisan-lukisan perempuan yang disebut Tina Beni itu telah diikutsertakan di berbagai pameran, diantaranya freeze di Gandaria City Jakarta 2008, Survey #2 edwin gallery Jakarta 2009 dan Jakarta Bienal Di TIM Jakarta 2011.
Pameran tunggal Tina bertajuk Heavenly Flavour 2008 di Bale Tonggoh Selasar Sunaryo Art Space dinilai sukses. Kini Tina Beni mengembangkan karya dua dimensi ke bentuk tiga dimensi dengan beragam material. Ia menggarap objek-objek boneka yang cantik nan imut sekaligus memiliki raut misterius dalam bentuk tiga dimensi.
Beberapa karya tiga dimensinya diberi judul “Mikasa” dan “Mibeni”. Karya ini pernah dipamerkan pada pameran Next Page di The Space, The Parlor, Bandung, 2018, yang merepresentasikan karakter kepribadian atau sosok lain yang muncul dari kondisi mental yang merespons situasi sosial dan lingkungan.
Seniman lainnya, Zaenal Abidin yang akrab disapa Cecen, adalah seniman grafis kelahiran Bandung 11 Mei 1985. Ia menekuni printmaking sejak 2005. Karya-karya Cecen yang terdahulu banyak merespons isu sosial-politik, mulai dari pandangan terhadap iklim demokrasi Orde Baru sampai fenomena keseharian.

Huma Studio, Jalan Cipagalo Girang nomor 6, Buah Batu, Bandung. (Istimewa)
Karya-karya Cecen tampil di banyak pameran seni, di antaranya Bienalle Screen Print NBC, Tokyo, Japan, 6th Kyoto International Wood Arts, Takanabe Municipal Museum, Kyoto, Japan, Festival Grafis Berseni di Lawangwangi Bandung, Bandung Contemporary, Disposition, Bale tonggoh Selasar Sunaryo Bandung, dan Manifesto no. 4 Keseharian di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.
Kepekaannya terhadap dinamika wacana seni melahirkan konsep karya yang terus berkembang. Di akhir tahun 2017 eksplorsi dan keintiman dengan media grafis memicu kesadaran Zaenal tentang makna hidup yang lebih implisit dalam memaknai falsafah kehidupan yang erat relasinya dengan aktivitas grafis itu sendiri.
Penghayatan dari proses repetitif, hal-hal yang reflektif dan kejutan-kejutan dalam fase-fase kehidupan yang terekam dalam memori Zaenal memberi semacam dorongan emosional dan menggiring lahirnya tema-tema karya yang menyinggung wilayah spiritual dan uniknya kerja nalar.
Seniman ketiga ialah Tomas Arbibowo yang dikenal sebagi pematung dengan material resin. Ia lahir di Bandung, 22 mei 1984. Kegemarannya terhadap dunia sepak bola dijadikan sumber inspirasinya dalam berkarya. Beberapa patung tokoh pesepak bola terkenal di buat dengan gaya realis. Produk merchandise yang diproduksi telah banyak didistribusikan untuk kebutuhan fans club dan official sepak bola lokal maupun internasional.
Selanjutnya, Huma Studio hadir sebagai ruang yang diharapkan mampu mengakomodasi daya kerja kreasi para seniman juga pemicu potensi pertukaran gagasan di dalamnya. Studio ini dapat diakses untuk studi metodologi berkarya seniman khususnya grafis dan patung. Sekaligus menampilkan rekam jejak perkembangan karya seniman dari masa ke masa sebagai aset historis. (Iman Herdiana)
