Tumpeng Palsu dari Bandung Bikin Penasaran

Puding replika nasi tumpeng ciptaan Rofiqoh Djawas dengan brand Dapur Ambu (Agus Bebeng)
BANDUNG, bandungkiwari - Ketika irama perut hadir dengan ketukan 4/4 ditemani petikan blues yang menyayat, tentu berharap menemukan makanan yang mampu memenggal derita eksistensi sebagai manusia. Imajinasi liar berkalung lapar, pastilah berharap bertemu nasi putih yang hangat beserta lauk pauk nan empuk.
Namun, bayangkan bagaimana jika di depan mata Anda ada sepiring nasi putih bersama rekan-rekannya yang menggiurkan hanya mampu menjadi santapan visual semata. Alih-alih membuat cacing di dalam perut berhenti orasi, malah semakin keras berteriak melawan ketidakadilan.
Persoalan itulah yang akan dihadapi jika melancong ke Bandung, dengan membawa perut lapar, kemudian bertemu nasi tumpeng beserta rekan-rekannya yang ternyata palsu. Palsu yang dimaksud tentu bukan karena tumpeng terbuat dari beras sintetik atau terbuat dari gabus, melainkan makanan yang dilihat tersebut terbuat dari puding.
Puding replika tersebut ciptaan seorang perempuan muda bernama Rofiqoh Djawas, dengan brand Dapur Ambu sebagai merek usaha rumahannya. Perempuan yang akrab disapa Viqo ini memang membuat makanan tiruan istimewa khas Sunda.
Sekilas memang tidak ada yang aneh dengan sepiring nasi dan tumpeng yang khas dengan warna kuningnya tersebut.
Namun sekali lagi, jangan tertipu! Jangan melihat makanan lezat itu dengan mata biasa. Cobalah sentuh makanan itu dengan ujung jemari, tentu akan terasa kekenyalan seperti umumnya puding yang dijual di pelbagai tempat penjualan makanan.
Puding tiruan kuliner lokal ini memang sengaja dibuat oleh Viqo, sebagai bentuk kecintaannya pada masakan tradisional.
Berangkat dari kegemarannya berkeliling ke daerah, dengan berbekal keilmuan Desain Komunikasi Visual, Viqo ingin menghadirkan bentuk baru makanan tradisional dalam olahan puding yang bisa diterima masyarakat kota.
Ketertarikannya pada makanan tradisional, menurut Viqo karena dirinya menemukan beragam hal yang filosofis yang terkandung dalam sajian tradisi.
Hal itulah yang mendasarinya untuk menggali makanan tradisi dengan pendekatan seni desain yang menjadi latar belakang pendidikannya tersebut.
“Jika kita melihat puding umumnya, tentu biasa saja tidak ada ketertarikan lain. Beda halnya apabila melihat puding dengan bentuk Tumpeng atau potongan daging ayam. Ini tentu menarik secara visual, terutama anak-anak yang tertarik dengan bentuk dan warna yang kuat” tegas perempuan jebolan S2 ini.
Selain memang karena kegemarannya mengolah makanan tradisi dan desain yang selama ini digelutinya. Ada hal lain yang sebenarnya ingin dicapai seorang Viqo melalui pendekatan puding replika.
“Tumpeng itu masakan yang selalu hadir setiap waktu, melepas batas budaya dan agama. Selain itu Tumpeng memiliki nilai kearifan lokal yang tinggi. Ini pun misi saya untuk mengenalkan tradisi sejak dini kepada anak-anak” jawabnya ketika ditanya memilih Tumpeng sebagai bentuk puding ciptaannya. (Agus Bebeng)
