62 Jemaah Haji Telantar, Polisi Menduga Travelindo Defisit Uang

Ditreskrimsus Polda Kalimantan Selatan dan Kanwil Kemenag Kalsel menelisik kisruh dugaan penipuan Travelindo Tour and Travel terhadap jemaah calon haji plus. Menurut Kasubdit 1 Ditreskrimsus Polda Kalsel, AKBP Suyitno Ardi, polisi berfokus mencari solusi lebih dulu agar 62 orang jemaah calon haji segera bertolak ke Tanah Suci.
Dari 62 orang ini, perinciannya 51 haji plus dan 11 haji furoda -- visa haji undangan dari pemerintah Arab Saudi. Ia berharap mereka tetap bisa berangkat ke Tanah Suci tahun 2019.
"Kami mengutamakan untuk keberangkatan calon jamaah. Di luar itu kami masih melakukan penyelidikan," ujar AKBP Suyitno Ardi kepada banjarhits.id, Kamis 1 Agustus 2019.
Saat ini, sedang dirumuskan solusi agar mereka tetap bisa berangkat. "Jadi difasilitasi Kemenag RI, dan Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI)," jelasnya.
Polisi sengaja mendahulukan penangan keberangkatan, mengingat waktu pelaksanaan haji begitu mepet. "Jangan sampai bagi mereka yang ingin melaksanakan ibadah menjadi terhambat," imbuhnya.
Suyitno menjelaskan, keberangkatan puluhan calon jamaah haji ini menjadi kewenangan AMPHURI sebagai lembaga yang memiliki tanggung jawab.
Kendati demikian, calon jamaah haji tak terlalu diuntungkan. Pasalnya, mereka harus kembali membayar biaya keberangkatan sebanyak Rp 60 juta per orang.
"Ini yang dikeluarkan AMPHURI dan diketahui Kementerian. Biaya ini untuk akomodasi mereka," imbuhnya lagi.
Ditanya soal owner Travelindo Supriadi yang diduga melarikan diri. Suyatno tak mau berkomentar banyak. Setahu dia yang bertanggung jawab saat ini di Travelindo yakni Agus. Dia merupakan manajer di perusahaan jasa keberangkatan haji dan umroh tersebut.
"Soal Supriadi keluar kota. Saya belum tahu itu saya hanya sebatas penanggung jawab disini direkturnya adalah agus. Jadi sampai sekarang kami belum bisa komunikasi dengan ownernya," katanya.
Selain itu, kepolisian juga masih belum mendapatkan keterangan jelas soal perkara yang ditangani. Apakah Supriadi benar-benar kabur atau bagaimana. Yang jelas, ujar AKBP Suyatno, perusahaan itu sedang mengalami masalah keuangan.
"Kalau masalahnya ya finansialnya. Dia sedang mengalami defisit. Tak lebih dari itu," pungkasnya.
Puluhan Jamaah ONH Plus yang diduga tertipu terkait keberangkatan ibadah haji melalui Travelindo Tours & Travel masih menunggu kedatangan pemilik penyedia jasa travel tersebut untuk mencari solusi dari polemik ini.
Pembimbing ONH Plus dari Travelindo, Ustadz Anang Zarkasi mengatakan jamaah haji plus yang menggeruduk di lokasi diharapkan sabar menunggu. Anang menjamin Supriadi akan menemui peserta ONH Plus yang terkatung-katung.
"Coba silahkan tanya sendiri ke general manager Travelindo, pak Supriadi selaku pimpinan ini katanya mau menemui kita," ucapnya.
Seorang jamaah asal Kota Banjarmasin masih sabar menunggu kedatangan Supriadi selaku pemilik Travelindo untuk mengklarifikasi kelanjutan keberangkatan jemaah ke Tanah Suci pada musim haji 2019.
"Kami tunggu Supriadi ini, agar VISA kami bisa diterbitkan, terus kami jadi berangkat haji. Kalau begini kan gantung, kalau tidak jadi berangkat berarti ada unsur penipuan," ucap seorang jamaah wanita yang tak mau disebutkan namanya.
Adapun pihak Travelindo melalui General Manager yang tak ingin disebutkan namanya hanya menjawab singkat. "Ya InsyaAllah datang beliau," singkatnya.
"Jadi kami dibebankan Rp 4 miliar ya. Rp 60 juta perorang dikali 53 orang, dan sisanya bayar iban untuk mengeluarkan VISA. Iban ini adalah biaya akomodasi untuk fasilitas mulai dari penginapan, transport dan catering ini include semuanya Rp 4 miliar," beber salah seorang jamaah yang tak mau disebutkan namanya.
