Beda Nasib Okupansi Hotel Jelang Akhir Tahun 2018

banjarhits.ID, BANJARMASIN - Memasuki pekan terakhir Desember 2018, tingkat hunian hotel di Kota Banjarmasin dan Kota Banjarbaru belum bergairah lantaran masih mengalami penurunan okupansi di angka 15 hingga 20 persen.
Menurut Sales and Marketing Tree Park Hotel Banjarmasin Noor Alimah, okupansi hotelnya agak menurun selama tiga pekan pertama Desember 2018 dibandingkan Oktober – November 2018. Alhasil, pihaknya memilih promosi masif dan menggencarkan even menjelang pergantian tahun.
"Adanya penurunan okupansi pasca berakhirnya kegiatan dinas-dinas dari pemerintahan yang biasanya cukup ramai, diantisipasi dengan melakukan paket-paket promosi,” kata Noor Alimah kepada banjarhits.ID, Selasa (25/12).
Menurut Alimah, penurunan okupansi karena kalender pariwisata memasuki low season dan masa akhir tahun. “Tak bisa dipungkiri support Tree Park Hotel dari instansi di Kalsel cukup besar, sehingga menjelang akhir tahun tentu terasa. Karena kegiatan dinas dan instansi berakhir,” ucap Alimah.
Adapun Dian Putri, sales Marketing Grand Daffam Q Hotel Banjarbaru, mengaku justru ada lonjakan tingkat hunian di hotelnya memasuki Desember 2018. “Tingkat hunian stabil, apalagi hotel ini konsep syariah. Malah mendekati akhir tahun tamu full booked,” ujar Dian.
Lalu bagaimana nasib hotel non bintang? Menurut Ahmadi, owner Hotel Citra Raya, jumlah hotel di Kota Banjarmasin sudah kelewat banyak. Dengan kondisi ini tentu saja hotel berjaringan internasional atau hotel baru dengan kelas bintang lima atau empat yang kebanjiran tamu.
“Sementara untuk hotel kelas melati kekurangan tamu, bahkan untuk bertahan banting harga,” ucap Ahmadi, sambil menambahkan jumlah hotel harus dibatasi.
Ia meminta Pemerintah Kota Banjarmasin moratorium izin pembangunan hotel baru. Sebab, banyaknya hotel memicu persaingan yang tak sehat antar hotel. “Hotel kelas bintang saja seenaknya memainkan harga, jelas hotel kecil kena dampak,” kata dia. (Anang Fadhilah) Foto: Pixabay
