BKSDA Gandeng Warga Lokal Kelola Pulau Bakut

banjarhits.ID, Marabahan - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan menggandeng warga lokal untuk mengoptimalkan dan mengembangkan Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala. Pulau Bakut sebagai kawasan konservasi bekantan yang terletak di tengah Sungai Barito atau di bawah Jembatan Barito.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, Mokhammad Ridwan, menuturkan pengembangan TWA Pulau Bakut berbasis masyarakat sehingga masyarakat sebagai mitra BKSDA Kalimantan Selatan dalam pengelolaan. Ridwan menjamin TWA Pulau Bakut tidak dikerjasamakan dengan pihak swasta.
Selain itu, pihaknya telah membentuk dua kelompok masyarakat asal Desa Beringin, Kecamatan Alalak sebanyak 20 orang dan Desa Marabahan Baru, Kecamatan Anjir Muara sebanyak 20 orang. Alhasil, ada 40 orang yang akan tergabung dalam kelompok masyarakat mitra pariwisata konservasi BKSDA Kalimantan Selatan.
"Mereka yang akan mengelola tempat wisata dari tempat parkir, transportasi, pemandu, cinderamata, kuliner dan sebagainya," ucap Ridwan kepada banjarhits.ID di sela kunjungan Dirjen KSDAE di Pulau Bakut, Rabu (26/9).
Menurut Ridwan, rencananya launching kemitraan konservasi ini pada November mendatang. Tapi, kata dia, Bupati Barito Kuala Noormiliyani berharap launching kemitraan konservasi TWA Pulau Bakut disatukan dengan kunjungan Presiden Joko Widodo ketika Hari Pangan Sedunia pada 18 Oktober 2018.
Ridwan berkata TWA Pulau Bakut sebagai role model pengembangan wisata alam bekantan berbasis masyarakat yang ditentukan oleh BKSDA Kalimantan Selatan. Sebelum ditetapkan TWA, kata Ridwan, Pulau Bakut merupakan lokasi pembuangan sampah dari atas Jembatan Barito.
Melihat kondisi itu, BKSDA berinisiatif membangun TWA Pulau Bakut dengan membangun beberapa fasilitas di antaranya dermaga, musala, pusat informasi, klinik satwa, dan pintu gerbang.
Dalam kurun Januari-September 2018, Ridwan melibatkan mitra swasta untuk ikut membangun sarana dan prasarana, selain dana internal BKSDA Kalsel. Pada 2017, pembangunan dermaga menelan dana Rp 216 juta. Kemudian toilet, mushola, klinik satwa dan pusat informasi sekitar Rp 100 juta serta adanya penambahan dari Adaro Indonesia sekitar Rp 1,7 miliar.
"Panjang titian mangrove sekitar 630 meter dengan menara, loket karcis serta gerbang keluar," katanya. Ridwan melihat masih ada beberapa hal yang harus dibenahi, seperti gazebo untuk pusat pertemuan sekaligus menampilkan film documenter.
Menurut dia, fasilitas tersebut suatu standar dari sarana dan prasarana wisata. "Kemudian wisata-wisata lain yang merupakan standar dari adanya pengembangan wisata alam suatu wilayah," tegasnya. (M Robby)
