Konten Media Partner

Cerita di Balik Berita: Saya, Haji Isam, dan Jurnalisme

banjarhits

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi koran. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi koran. Foto: Pixabay

“Aku senang kamu independen, tapi menulis harus sesuai kebenaran,” begitu pesan Andi Syamsudin Arsyad kepada saya sebelum beringsut dari lobi Hotel Novotel di Banjarbaru. Satu jam meriung, Syamsudin mesti buru-buru terbang lagi karena si isteri sudah menunggu di pesawat pribadinya. “Istriku sudah di pesawat.”

----

Duduk meriung bersama kolega di sebuah lobi Hotel Novotel Banjarbaru, Andi Syamsudin Arsyad datang lebih dulu beberapa menit sebelum saya tiba. Senin siang pada 11 November lalu, pria yang kerap disebut Haji Isam, itu jauh-jauh terbang menumpang pesawat pribadi untuk menemui saya.

Kami -- saya dan Haji Isam -- sejatinya pernah bersua pada Maret 2017 ketika Haji Isam mengikuti ajang Open Championship Xtreme Offroad Racing (IOCXOR) di Kota Banjarbaru. Penugasan dari redaktur Majalah Tempo membuat saya mesti menemui sosok Haji Isam yang dikenal orang paling berpengaruh di Kalimantan Selatan.

Tak mudah menembus lapis penjagaan paddock milik Jhonlin Racing Team -- tim balap besutan Haji Isam. Nyali sebagai koresponden Tempo memaksa saya harus menembus lapis maximum security untuk sekedar mewawancarai Haji Isam.

Sempat ngobrol sejenak, pertemuan beberapa menit ini meninggalkan kesan tak enak di tengah deru mesin mobil balap yang meraung-meraung. Dua tahun lebih berlalu, Haji Isam masih mengingat momen itu ketika ia kembali bersua saya dalam urusan berbeda.

Kali ini, saya sebagai pimpinan redaksi banjarhits.id -- startup media online bentukan kumparan.com di Kalimantan Selatan. Toh, Haji Isam masih ingat ketika seorang diri wartawan nekat menerabas barikade penjagaan, lalu memaksa wawancara pada Maret dua tahun lalu.

"Sempat kamu memaksa, jadi aku emosi. Sebenarnya watakku enggak seperti itu, ada waktunya. Kayak gini kan kita santai, ngobrol-ngobrol. Sudah lah itu masa lalu yang masalah balapan," kata Haji Isam mengawali perbincangan pada 11 November lalu.

Ketika pertemuan kedua, Haji Isam nampak tenang, tak sedikit pun meluapkan kekesalan terhadap sosok wartawan di hadapannya. Laku yang kontras ketika saya menemuinya pada Maret dua tahun lalu.

Satu jam lebih meriung di lobi hotel, kami membincang banyak hal, mulai soal kisruh pemberitaan, hobi, gurita bisnisnya, hingga secuil urusan keluarga. Tapi, dalam tulisan ini, saya tak menjelaskan gamblang substansi pertemuan itu. Tentu, tak elok membuka privasi orang ke khalayak luas.

Dalam pertemuan itu, saya menawarkan ruang klarifikasi bagi HI -- begitu akronim Haji Isam biasa disebut-- untuk menjelaskan detail soal pemberitaan yang beredar. Mula-mula, HI sepakat memakai hak jawab yang substansi kalimatnya disusun tim pengacara, meskipun ada kemungkinan sengketa pers ini dibawa ke Dewan Pers.

Dua hari pasca pertemuan itu, surat somasi dari tim pengacara HI tiba di kantor kumparan. Surat yang sama sepertinya dikirim ke Dewan Pers. Redaksi kumparan mengirim foto-foto surat somasi tersebut ke saya. Saya pun lekas mengontak HI ihwal kesepakatan hak jawab yang hendak dipakai.

“Oh begitu, pengacara yang urus Mas, aku gak cek,” begitu secuil pesan singkat HI kepada saya. Sehari setalah somasi itu, warga yang keberatan atas tulisan saya, melaporkan banjarhits.id ke Polda Kalimantan Selatan atas materi berita bernuansa provokasi dan SARA.

Saya sadar, ini sebuah resiko yang mesti ditanggung seorang profesi jurnalis. Kini, ada kecenderungan tulisan wartawan diseret ke ranah pidana lewat UU Informasi dan Transaksi Elektronik untuk membungkam sikap kritis.

Berkaca dari pertemuan saya dan HI, praktek jurnalisme tentu tak luput dari sebuah kesalahan. Dalam kasus berita yang dipersoalkan HI, saya berusaha menjalankan tahapan kerja-kerja jurnalistik, kendati masih banyak celah. Itu sebabnya, saya memberi ruang hak jawab kepada HI untuk meluruskan hal-hal yang dianggapnya tak patut.

Saya menyitir sebuah pemikiran dari eks Pimpinan Redaksi Majalah Tempo, Arif Zulkifli: Jurnalisme adalah laku—ikhtiar dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Satu yang terpenting dalam laku itu adalah kesadaran bahwa fakta yang dikumpulkan sesungguhnya berpotensi menyimpan kekeliruan, kelemahan, dan sesuatu yang lancung—secermat apa pun fakta itu dikumpulkan. Jurnalis menyimpan daifnya sendiri.

Tentu, saya banyak mengambil hikmah dari peristiwa ini. Saya terus berikhtiar menempa diri menjadi lebih bernas sebagai wartawan, meski tak mungkin menuju sebuah wartawan ideal.

Bukankah sebuah ujian hidup menjadikan laku dan mental manusia lebih bermutu dan lebih baik lagi?

Semangat ini yang saya tanamkan untuk membesarkan media rintisan banjarhits.id -- media online lokal yang sejatinya berdiri tanpa kepentingan latar politik.

Bagi saya, praktek jurnalisme sebuah ikhtiar menuju kebaikan di tengah segala kelemahannya. Wartawan dan media mesti menempatkan diri pada sebuah independensi dan kepentingan publik, tanpa direcoki kepentingan pemilik modal di tengah kebebasan pasca reformasi.

Pada akhirnya di pengujung tahun 2019, ujian ini makin menabalkan semangat saya dan banjarhits.id memilih jalan pedang dan sebuah independensi news room di tengah bandang media syarat kepentingan politik dan pemodal.

Pimpinan redaksi banjarhits.id,

Diananta Putra Sumedi