Cerita Pendayung Jukung di Tengah Modernitas Transportasi

banjarhits.id, Banjarmasin – Pria sepuh sedang mengayuh jukung—perahu kecil berbahan kayu—menyeberangi Sungai Kelayan ketika siang menjelang, Minggu (26/8/2018). Terselip di antara gang sempit perkampungan padat penduduk itu, Salman Alfarizi (58) telaten usaha jasa penyeberangan tradisional di tengah modernitas Kota Banjarmasin.
Bapak tiga anak dan tujuh cucu kelahiran 6 Juli 1960 ini masih cekatan menyebrangkan para penumpang dari Jalan Kelayan A ke Pasar Baimbai di Jalan Kelayan B dan sebaliknya. Penumpangnya kebanyakan ibu-ibu. Kawasan Kelayan A dan Kelayan B merupakan kawasan padat penduduk di Kota Banjarmasin yang dipisahkan sebuah sungai sepanjang 4,4 kilometer.
"Saya rutin menarik penumpang setiap hari mulai dari pukul 08.00-13.00 wita setiap hari. Paling libur kalau lebaran saja atau kalau lagi gak enak badan,” kata duda yang telah 10 tahun ditinggal mati istrinya itu kepada Banjarhits.id, Sabtu (25/8/2018).
Ia sudah 24 tahun mengais rezeki lewat jasa penyeberangan jukung. Perahu tua itu dirawatnya dengan menambal bagian yang berlobang menggunakan dempul, hanya perawatan ringan yang bisa dilakukan. Maklum, biaya dok sebesar tiga juta dirasanya sangat berat untuk mempermak perahunya.
Dalam sehari Salman bisa hampir ratusan kali mondar-mandir sungai kelayan. Alhasil warga sangat akrab dengan sosok Salman. Klotok atau perahu yang ia gunakan sejatinya perahu yang seharusnya menggunakan mesin. Namun, Salman memilih tak memakai mesin karena terbentur minimnya modal dan biaya BBM.
Menurut dia, profesi penarik getek sudah turun temurun dari orang tuanya. Kebanyakan mendayung berdampak pada kesehatannya yang makin menua. Salman kerap pegal-pegal di bagian bahu, pinggang, dan perut. “Tapi mau gimana lagi cuma ini pekerjaan,” ucap Salman seraya mengusap keringat.
Ia berharap ketiga anaknya tidak meneruskan jasa penarik jukung. "Cukup saya saja mas, saya ikhlas banting tulang asal anak-anak saya kehidupannya lebih baik dan Alhamdulillah dua anak saya sudah lulus sekolah dan bekerja," kata dia.
Sebelum mangkal di pelabuhan Pasar Baimbai, Salman pernah mangkal di Pasar Lima dan Haur Kuning. Menurutnya pembangunan jembatan membuat dirinya terpaksa berpindah tempat karena sepi penumpang. Dalam sehari, Salman biasa meraih penghasilan Rp 60 ribu. Apabila ada hajatan kawinan, ia bisa meraup Rp 80 ribu.
Adapun tarifnya sebesar Rp 1.000 untuk sekali angkut. Salman pun mesti setor retribusi ke pemilik dermaga dan keamanan lokasi sebesar dipotong Rp 15 ribu per hari. Ia pernah jatuh sakit setelah melayani banyak penumpang. "Kalau tujuh tahun yang lalu disini ramai mas, kalau pas ada hajatan kawinan saya sampai kewalahan,” ujar Salman.
Ia miris melihat Sungai Kelayan yang makin kotor penuh sampah. Apalagi saat air sungai surut ia kesulitan mendayung karena jukung tak bisa melintasi sungai. Tabrakan antar perahu pun pernah terjadi meski tak menimbulkan korban jiwa. "Kalau lagi pandit (air surut) terpaksa istirahat, perahunya gak bisa nyebrang. Kalau air pasang baru bisa narik lagi," terangnya.
Adapun seorang pelanggan setia geteknya yang akrab dipanggil Yati, mengatakan lebih memilih transportasi getek karena lebih dekat dan ongkosnya murah. "Saya mau ke pasar seberang jadi hampir setiap mau belanja lewat sini, ongkosnya juga murah" kata wanita yang bermukim di Gang Papadaan, Kelayan A ini. (Hanafi)
