Konten Media Partner

Dari Hobi Ngemil, Nazib-Tuti Bikin Keropok Haji Acan

banjarhits

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ahmad Nazib menunjukkan produk Keropok Haji Acan Kapadasan. Foto: Muhammad Rahim/banjarhits.id
zoom-in-whitePerbesar
Ahmad Nazib menunjukkan produk Keropok Haji Acan Kapadasan. Foto: Muhammad Rahim/banjarhits.id

Berbungkus-bungkus kerupuk tertata rapi di etalase sebuah rumah, Jalan Sadewa VI, Komplek Perumnas Bumi, Kelurahan Dalam, Kecamatan Banjarmasin Selatan. Aneka cemilan khas Banjar ini diberi label 'Keropok Haji Acan Kapadasan'. Pemiliknya Ahmad Nazib dan dan Tuty Awaliyah.

Mereka merintis home industry cemilan kerupuk bermula dari hobi ngemil. Merintis usaha sejak akhir tahun 2014 di Banjarmasin, kini produk buatannya merambah berbagai daerah, seperti Kota Palangkayara dan Pasuruan. Dari produk skala rumahan, Ahmad Nazib sudah menunaikan ibadah haji pada 2015.

Produk Keropok Haji Acan Kepadasan bermula dari iseng-iseng Tuty, istri dari Ahmad Nazib. Tuty yang mengajar di SD-IT Ukhuwah ini sering membawa kerupuk acan ke sekolahan. Ia membagi-bagikan kerupuk ke koleganya di sekolah. Dari sini, kata Nazib, seorang ustadzah SD-IT Ukhuwah ketagihan setelah mecicipi kerupuk bawaan Tuti.

Menurut Nazib, kerupuk buatannya punya rasa khas karena diberi bumbu tabur, seperti rasa jagung manis. Ustadzah yang ketagihan ini lalu bertanya dimana membeli kerupuk sejenis. Adapun Ahmad Nazib seorang dosen kontrak PGMI di UIN Antasari, Kota Banjarmasin.

"Nyaman jar (Enak, katanya). Langsung ditimpali isteri saya, aku menjualnya. Sampai di rumah langsung cerita. Ya sudah, dibikinkan. Tanpa konsep, tanpa ide untuk bikin kemasan, dan sebagainya. Muncul nama Keropok Haji Acan Kapadasan itu serta merta saja, harapannya menjadi haji lah yang bikin," ucap Nazib kepada wartawan banjarhits.id pada Senin (24/6/2019).

Selain kerupuk acan, Tuty sering memboyong kerupuk unyil dan makaroni. Di awal Desember 2014, mereka mengusung kampanye budaya lokal. Keduanya sepakat menamai produknya pakai bahasa Banjar: Karopok Haji Acan Kapadasan. Varian rasanya pun pakai bahasa Banjar, seperti padas ladar, padas banar, dan padas jingkar.

Sadar pentingnya packaging, Nazib dan Tuty meningkatkan kualitas kemasan dengan bungkus plastik tebal 10 mikron dan stiker berkelir. Pada 2015, produknya sudah mengantongi izin edar PIRT dari Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin.

"Alhmdulillah uji laboratorium, negatif untuk borak dan rodhamin atau pewarna tekstil," Nazib melanjutkan.

Mereka pun mengurus Hak Kekayaan Intelektual di Kemenkumham Kalsel lewat jalur mandiri karena belum ikut komunitas UMKM. Nazib makin tertarik menggarap produk ini karena penghasilannya pas-pasan sebagai dosen kontrak. Dulu, ia cuma menerima honor Rp 400 ribu sebulan

Semula, mereka memproduksi pakai mesin manual dengan karyawan sembilan orang. Kini, produksi kerupuk memakai mesin hand sealer dan continous sealer. Pekerja yang semula sembilan orang, justru dipangkas menjadi empat orang akibat mekanisasi. Menurut dia, mekanisasi demi mengejar permintaan yang terus melonjak agar cepat memenuhi pesanan.

"Semakin kesini, Keropok Haji Acan Kepadasan semakin dikenal. Termasuk mendapatkan pembinaan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Beberapa manfaat yang diberikan Disperindag seperti fasilitas sertifikasi Halal dari MUI secara gratis, dan mengikuti studi banding ke Bandung dan Palembang," ujarnya.

Nazib meraup omset bersih Rp 500 – 600 ribu perbulan. Awalnya, penjualan masih konvensional karena pembeli datang ke rumah. Ia pun pelan-pelan belajar sistem jaringan reseller. Nazib melebarkan jangkauan penjualan ke Kalsel, Kalteng, Kaltim sampai Jawa Timur.

Alih-alih berjaya, beberapa reseller memang bertumbangan karena persaingan bisnis. Kini, Nazib dan Tuti melebarkan sayap dengan membuka warung es wancuh.