Konten Media Partner

Duh, 3 Warga Batola Pilih Tidur di Kolong Jembatan Antasari

banjarhits

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Duh, 3 Warga Batola Pilih Tidur di Kolong Jembatan Antasari
zoom-in-whitePerbesar

banjarhits.ID, BANJARMASIN – Sebagian warga yang ngotot bermukim di bawah sisi kiri Jembatan Antasari, Kota Banjarmasin, justru datang dari luar kota alias bukan penduduk asli Banjarmasin. Tiga dari sembilan orang di sana diketahui berasal dari Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan.

Hal ini diungkap oleh Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Banjarmasin, Hermansyah. Ia mengatakan Satpo PP meninjau ke lokasi untuk sosialisasi dan pendataan sembilan orang yang mendirikan pondokan baru. Pihaknya menemukan tiga orang yang berasal dari Kabupaten Barito Kuala.

“Ini bukan warga Banjarmasin semua. Ternyata ada tiga warga yang berasal dari Kabupaten Batola, Marabahan, dan sisanya warga Kota Banjarmasin dari sembilan warga ini," ucap Hermansyah kepada banjarhits.ID, Rabu (9/1).

Kendati bukan warga asli Banjarmasin, Hermansyah tak kuasa memulangkan mereka ke tempat asal karena pekerjaannya sebagai drop ship di Pelabuhan Lima. Ia mengakui Satpol PP belum bisa bertindak tegas terhadap keberadaan orang yang tinggal di kolong jembatan.

"Bagaimana bisa kami pulangkan mereka bekerja di sana? Mereka ini bandel disuruh pindah ke rusunawa juga tidak mau, kemudian dititipkan di rumah singgah juga ogah mereka ini. Maunya ya tetap tinggal di sana," ujar Hermansyah.

Toh, ia sudah berulang kali sosialisasi meninjau ke lokasi untuk secara persuasif mengajak mereka pindah ke tempat yang lebih layak demi mewujudkan Banjarmasin nol kumuh. Namun, ia berjanji akan menindak tegas pemukim bandel tersebut lewat pemagaran total di lokasi.

“Masih menunggu keputusan dari Dinas PUPR kapan bisa terkait penyediaan pagar, kami selalu siap menertibkan jika di perlukan," ungkapnya.

Satpol PP Banjarmasin sudah mengobrak gubuk yang berdiri di bawah kolong Jembatan Antasari. Toh, mereka masih bertahan dengan mendirikan gubuk baru di bawah sebelah kiri jembatan. Warga miskin ini menolak pindah ke rusunawa karena keberatan harus membayar sewa bulanan. (Zahidi)