Kisah Buruh Arang di Kalsel: Terpapar Jelaga, Diupah Rp 300 per Kg

Lima wanita buruh arang itu sibuk mengais bongkahan-bongkahan arang yang sudah mendingin. Debu dan jelaga berhamburan ketika mereka mengikis tumpukan arang ini. Ada yang pakai alat sekop kecil, ada pula yang tangan kosong tanpa berselubung sarung.
Nenek Surip, satu di antara lima wanita buruh arang di sana. Wartawan banjarhits.id melipir ke lokasi pembakaran arang di Desa Bulurejo, Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan pada Minggu (13/10/2019).
Lokasinya di bawah rimbun pohon kelapa sawit, tepi jalan poros antar Desa Bulurejo – Dukuhrejo, Kecamatan Mantewe.
Wanita berusia 60-an tahun ini masih telaten mengais arang di tengah usia yang sudah sepuh. Nenek Surip terpaksa kerja keras setelah suaminya wafat. Apalagi, satu putranya masih butuh biaya sekolah jenjang SMA.
“Saya baru kerja seminggu. Anak saya kelas 1 SMA, yang satu kerja serabutan. Sehari rata-rata dapat Rp 30 ribu, yang Rp 15 ribu untuk anak, sisanya beli makan,” ujar warga RT 7 Desa Bulurejo ini kepada banjarhits.id, Minggu (13/10).
Nenek Surip sadar debu dan jelaga arang berdampak buruh bagi kesehatan. Ia sering merasakan sesak dada ketika pulang ke rumah karena dampak debu arang. Toh, ia tetap tak mau pakai masker pelindung hidung saat bekerja.
Tangannya pun belepotan menghitam akibat mengikis tumpukan arang pakai tangan kosong tanpa bantuan alat atau sarung tangan. Ia bekerja bersama tujuh orang lain di tempat pembakaran arang milik Tarmuji.
Setiap 1 kilogram arang, Tarmuji mengupah Rp 300 kepada buruhnya. Selain buruh arang, Surip biasa bertani. Adapun tengkulak membeli arang milik Tarmuji seharga Rp 1.150 per kilogram.
Menurut Tarmuji, harga ini merosot dalam beberapa bulan terakhir. “Dulu harganya Rp 1.300 per kilogram, kami sempat macet 5 bulan karena enggak ada pesanan. Baru dua bulan ini jalan lagi bikin arang,” ujar Tarmuji.
Tengkulak arang akan mengirimkan lagi ke pedagang besar di Surabaya. “Katanya diekspor ke Korea dan Jepang. Kalau untuk pasaran lokal, enggak perlu banyak-banyak bikin arang,” kata Tarmuji, juragan yang memiliki dua tungkaran -- tempat untuk membakar arang.
“Satu tungkaran hasilnya tujuh sampai delapan ton arang. Bahan bakunya limbah kayu ulin, ada yang ngirim ke sini kayunya,” ucap Tarmuji. Ia perlu waktu paling cepat 10 hari untuk membakar kayu ulin menjadi arang siap jual.
Ia berharap Pemkab Tanah Bumbu sudi membantu para pembuat arang dan buruhnya. Sebab, para buruh arang butuh pendampingan ekonomi di tengah upah yang sangat minim.
Harga arang di tingkat produsen sangat tergantung para tengkulak. “Belum ada bantuan dari pemerintah daerah,” ucapnya.
Untuk bikin arang, pekerja menyusun lebih dulu kayu-kayu ulin hingga memenuhi satu tungkaran. Tumpukan kayu ini ditutupi ilalang, lalu ditimbun tanah pada bagian atasnya. Setelah sepuluh hari, api dalam sekam menghanguskan kayu ulin.
