Mahasiswa Manokwari di Banjarmasin Jualan Kerupuk Meski Dapat Beasiswa

"Koko Kruncy, ayo beli," ujar pemuda berambut kribo itu menjajakan dagangan yang ia tenteng dalam kantong plastik hitam kepada banjarhits.id. Pemuda itu bernama Jefry. Kami bertemu dengannya di kantin Student Bussines Centre Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat (19/7).
Dia tampak tak sungkan menawari kerupuk merek Koko Kruncy kepada orang-orang di kantin kampus. Kerupuk berbahan ketan yang dijualnya itu merupakan bikinannya sendiri. Namun, siapa sangka bahwa Jefry sebenarnya mahasiswa penerima beasiswa Afirmasi asal Kota Manokwari, Papua Barat.
Di kampus itu, kini Jefry merupakan mahasiswa semester 6 Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Jefry mulai kuliah di kampus itu setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) Selamat Pagi Indonesia di Kota Batu, Jawa Timur, pada 2016. Bagi Jefry, belajar sambil bekerja seperti itu sudah biasa, sebab dia pun sudah melakoninya saat SMA.
"Dari sekolah ini saya diajarkan segala macam cara mengolah produk. Sebab jurusan saya kemarin (sewaktu SMA) itu kewirausahaan," ucap Jefry kepada banjarhits.id, Jumat (19/7).
Berjualan kerupuk tak semata untuk menopang biaya hidup baginya, melainkan juga mengasah kreativitas dan bakat entrepreneur atau berbisnis. Dia bercita-cita menjadi pengusaha dan membangun sekolah wirausaha di tanah kelahirannya, Kota Manokwari, dan pedalaman Papua Barat.
“Pedalaman lainnya yang susah akses. Saya akan berusaha keras mewujudkan itu," ujar Jefry.
Cita-cita itu memang tak sejalan dengan bidang ilmu yang dipelajarinya saat ini, namun Jefry tak menganggapnya sebagai persoalan besar. Lagi pula, kata dia, tak ada salahnya jika nanti dia menjadi guru bermodal ilmu dan gelarnya itu sambil menjadi wiraswasta.
"Mungkin kalau ijazah saya nanti sarjana keguruan karena saya kuliah di Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan FKIP ULM. Tapi semua itu tidak ada yang tidak mungkin, selagi saya mau bekerja keras, Tuhan kan punya kuasa untuk menentukan sukses atau tidaknya seseorang," ucap Jefri.
“Tak ada yang salah kan semuanya itu. Selagi saya tidak merugikan orang lain," lanjutnya.
Jefry mengatakan dapat menjual rata-rata 30 bungkus kecil kerupuk setiap harinya, dengan keuntungan Rp 25.000 setelah dipotong ongkos produksi sebesar Rp 20.000. Sebagian besar keuntungan itu dia tabung sebagai modal bisnisnya kelak.
“Sedangkan kuliah dan biaya hidup saya sudah ditopang oleh beasiswa Afirmasi," ujarnya.
Setiap dua malam sekali, Jefry harus berjalan kaki dari Kampung Arab, Kecamatan Banjarmasin Utara, ke Pasar Belitung, Kecamatan Banjarmasin Barat, untuk membeli bahan baku kerupuknya berupa ketan, bubuk cokelat, dan gula tubruk. Bahan baku itulah yang diolahnya sendiri menjadi kerupuk Koko Kruncy.
Biasanya dia mulai membuat kerupuk mulai pukul 21.00 WITA. Semua bahan baku mulanya dilarutkan dalam air gula tubruk dan bubuk cokelat, lalu dikukus selama satu jam. Semua itu dikerjakan di rumah yang ia kontrak dengan biaya Rp 750 ribu setiap bulan.
“Keesokan harinya dijemur, lalu sorenya digoreng sebentar dan tahan untuk dijual dua sampai tiga hari ke depan," kata Jefry.
Bantuan beasiswa dan keuntungan dari penjualan kerupuk membuat Jefry tak pernah meminta kiriman uang saku dari orang tuanya.
“Saya belum pernah mengalami kekurangan (uang) dan selalu berusaha menyempatkan menabung setiap harinya dari keuntungan yang saya peroleh. Menabung awal dari kesuksesan," pungkasnya.
