Konten Media Partner

Marak Diskriminasi, Waria Banjarmasin Dilatih Menjahit

banjarhits

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Marak Diskriminasi, Waria Banjarmasin Dilatih Menjahit
zoom-in-whitePerbesar

Banjarhits.id, Banjarmasin - Transpuan atau yang lebih akrab disebut waria merupakan kelompok masyarakat rentan terhadap perlakuan diskriminasi, termasuk di Kota Banjarmasin. Menurut Wakil Ketua Komunitas Transpuan Paris Barantai Kota Banjarmasin, Keket, masih ada waria mendapat perlakukan diskriminasi dari keluarga sendiri maupun masyarakat.

Keket menuturkan kondisi semacam itu menyulitkan waria mengekspresikan jati diri sesuai potensinya. Untuk mengurangi rasa minder akibat diskriminasi, Komunitas Transpuan Paris Barantai Banjarmasin melaksanakan berbagai kegiatan sosial dan memberikan pelatihan keterampilan kepada anggotanya, seperti menjahit, keterampilan tata rias, dan salon kecantikan.

“Kegiatan ini bertujuan mewujudkan inklusi teman-teman komunitas transpuan di tengah masyarakat agar kebutuhan dan hak-hak mereka terpenuhi, mereka juga warga Indonesia yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama, merekan punya hak untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak,” ujar Keket saat ditemui wartawan di Banjarmasin, Sabtu (24/3/2018).

Keket menjelaskan kegiatan yang dilaksanakan melalui program peduli pilar waria Banjaramsin ini sudah berjalan semenjak tahun 2014 lalu. Selain kegiatan pelatihan keterampilan, ia menggelar kegiatan promosi sosial dan bakti sosial yang bertujuan memberi pengertian kepada masyarakat tentang sosok waria. Keket berharap waria semakin terampil lewat pemberdayaan.

“Kita juga ada melaksanakan kegiatan bakti sosial seperti memotong rambut gratis serta memberikan bantuan swadaya dari teman-teman komunitas untuk anak panti asuhan” jelasnya.

Saat ini Komunitas Transpuan Paris Barantai Banjarmasin memiliki 25 orang anggota aktif. Dirinya berencana melakukan eksistensi ke daerah lain di Kalimantan Selatan, namun!masih menunggu keputusan dari pusat.

Sebelumnya, Keket telah melakukan kegiatan eksistensi ke beberapa daerah di Kalsel, seperti Balangan dan Amuntai. “Namun saat ini masih menunggu keputusan dari pusat, karena cakupan program peduli itu sendiri sementara ini hanya ada di banjarmasin” kata Keket.

Lewat kegiatan ini, ia berharap bisa membuka pemikiran keluarga dan masyarakat tentang transpuan tanpa harus mendiskriminasi waria. Sebab, kata Keket, masyarakat berasumsi waria atau transpuan sudah menyalahi kodratnya. Padahal cara pandang itu keliru. Menurut dia, masyarakat melihat transpuan sebaiknya tidak hanya dari aspek keagamaan dan kebudayaan, tetapi dilihat dari aspek kemanusiaan.

Marak Diskriminasi, Waria Banjarmasin Dilatih Menjahit (1)
zoom-in-whitePerbesar

Ia mengajak masyarakat ataupun keluarga yang mempunyai anggota keluarga tranpuan, bersama-sama membuka pemikiran tentang transpuan tanpa harus mendiskriminasi. “Jangan hanya karena dalam agama, waria menyalahi kodrat menjadi seorang perempuan lalu mereka didiskriminasi, tetapi lihatlah juga dari aspek kemanusiaannya,” harap Keket. (Hafiz Ramadhani)