Menengok Rumah Alam di Tengah Kepadatan Kota Banjarmasin

Banjarhits.id, Banjarmasin - Mendengar kata Sungai Andai, seketika terlintas salah satu simpul kemacetan dan kepadatan hunian rumah di Kota Banjarmasin. Salah satu kelurahan di Kota Banjarmasin itu memang dikenal kawasan padat hunian. Tapi, ada satu unit rumah berarsitektur alami di lingkungan Kompleks Andai Jaya Persada Blok D.
Kedatangan Banjarhits.id disambut ramah oleh si pemilik rumah, Rakhmalina Bakhriati (42 tahun). “Mau cari bapak ya? Kebetulan bapaknya lagi diluar ada kesibukan,” kata Rakhmalina. Wanita ini istri dari Noorhalis Madjid, Kepala Ombudsman Kalimantan Selatan.
Setelah berbincang sejenak, Lina— panggilan akrab Rakhmalina— membawa Banjarhits.id menuju pelataran belakang rumah berkonsep teduh dan alami itu. Kami mesti terlebih dahulu berjalan kaki melewati titian (jembatan kecil) yang beratap daun rumbia. Gerbangnya dihiasi boneka burung hantu dari kayu. Di bawah titian ada kolam-kolam ikan.
Lingkungannya sangat teduh dan sejuk karena banyak ditumbuhi pepohonan penghijauan dan juga pohon buah, seperti mangga, rambutan, belimbing, sawo, markisa, pisang, jambu air, jeruk purut, matoa, jengkol, hingga petai. Ditambah tanaman hias seperti anggrek, mawar, angsoka, dan kembang sepatu.
Memasuki bangunan utama, kami disambut pintu masuk yang berukuran besar dari bahan kayu ulin dan bagian tengah rumah terdapat tiang utama dari sebatang pohon ketapi yang disokong tiang lain yang terbuat dari pohon kelapa. Perabotnya juga dibuat dari bahan alam, seperti bambu yang dibuat menjadi kursi.
“Yang unik batang pohon itu merupakan sisa pembersihan lahan dari pembangunan rumah,” agar tidak ada yang terbuang makanya kami manfaatkan,” cerita Lina.
Untuk tembok rumah, Lina menggunakan bahan kombinasi batu bata merah dan bambu. Bambu didatangkan dari Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, yang kesohor dengan objek wisata bamboo rafting atau arung jeram menaiki lanting.

Sementara plafon rumah dan lantai memanfaatkan lampit (tikar anyaman rotan) dari Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Sedangkan atap rumah menggunakan sirap yang berasal dari Liang Anggang, Kota Banjarbaru.
”Saya jamin, 100 persen tak ada yang impor," tegasnya.
Rumah Alam sebenarnya nama julukan yang diberikan oleh kerabat, teman, dan pengunjung. "Dipikir-pikir, ini nama yang enak disebut dan mudah diingat. Ya sudah, sekalian saja kami namai Rumah Alam LINS," ujarnya.
Keempat huruf dalam LINS diambil dari potongan-potongan nama Noorhalis dan Rakhmalina. Keduanya menikah pada 1998 dan dikaruniai dua anak: Naufal Lisna Reisya yang lahir pada 1999 dan Haekal Halis Pasha yang lahir pada 2005.
LINS juga pernah dipakai sebuah merek dagang produk kerajinan tangan yang dulu digeluti Lina. "LINS berdiri sejak tahun 1999 dan kemudian vakum. Kami pakai lagi untuk mengenang perjuangan awal-awal menikah," kisahnya.
Keluarga ini mulai tinggal di Sungai Andai sejak tahun 2012, setelah Noorhalis membeli tanah seluas 1.200 meter persegi di belakang rumah. Sebelum Rumah Alam berdiri, tanah kosong itu berupa padang rawa dan hutan.
Rumah Alam seluas 300 meter persegi ini mulai dikerjakan pada 2016 dan sudah mendekati rampung. "Baru 90 persen, tinggal menyelesaikan kolam renangnya," jelas alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari tersebut.
Pembangunan Rumah Alam juga dibantu oleh arsitek asal Swiss bernama Thomas Bronningman, kolega Noorhalis yang kini bermukim di Kota Palangkaraya.
“Katanya rumah ini bertema tropical lifestyle.”
Punya rumah konsep tropical lifestyle bukan tanpa resiko, sang empu rumah pasti akan akrab dengan hewan-hewan kecil, seperti semut dan nyamuk. Toh, Lina tetap menikmatinya.
Rumah ini punya dua teras, satu ruang tamu, dua dapur, dan empat kamar tidur. Tiga untuk kamar keluarga dan satu dikosongkan untuk menerima tamu. Kamar mandi menyatu dengan setiap kamar.
Kebetulan, di halaman samping masih ada tanah kosong. Niatnya diisi dengan pondok lesehan. Guna dipakai LK3 (Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan), lembaga bagi pasangan ini bergiat sejak zaman kuliah. "Kawan-kawan LK3 banyak membantu. Rak buku dari bambu itu mereka yang mengerjakannya," kata dia.
Mereka menempati Rumah Alam pada akhir pekan. Jika sudah tuntas 100 persen, rumah kompleks di depan akan dikosongkan. Dimaksimalkan untuk pelatihan-pelatihan kemasyarakatan.
"Contoh, tadi kami menyediakan tempat untuk pelatihan menjahit bagi teman-teman transpuan," ujarnya.

Ditanya soal berapa mahar yang digunakan membangun rumah alam, Lina hanya tersenyum sambil berkata,” jangan lah kesannya sombong nanti, bangunnya juga bertahap, jadi kalo ada uang dibangun kalo gak ada diam dulu”. (Hafiz Ramadhani)
