Konten Media Partner

Mengais Rezeki dari Jual Lumut Sawah

banjarhits

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Mengais Rezeki dari Jual Lumut Sawah
zoom-in-whitePerbesar

Banjarhits.id, Banjarmasin - Sepasang suami istri sibuk membersihkan lumut yang direndam dalam baskom, sesaat setelah lumut diturunkan dari bakul purun. Pasangan Ijum dan Isah itu telaten membolak-balik lumut yang Ijum dapatkan dari sawah mulai pagi sampai sore hari. Lumut-lumut ini mesti direndam dalam air untuk memisahkan kotoran lumpur yang melekat.

Tumbuhan lumut mudah dijumpai di tempat yang lembab dan berair di persawahan. Petani padi menganggap lumut termasuk hama penggangu yang bisa memghambat pertumbuhan padi. Namun, bagi Ijum dan Isah, lumut bisa menjadi penghasil pundi-pundi rupiah untuk menopang ekonomi keluarga.

Di Banjarmasin dan sekitarnya, para pemancing kerap memanfaatkan lumut sebagai umpan yang disukai ikan seperti nila, tilapia, mujair, sepat siam, dan ikan lainnya. Ketika Banjarhits.id menyambangi rumah kediaman Ijum di Jalan Tatah Bangkal, Kelurahan Tanjung Pagar, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Ijum dan Isah kompak berbagi tugas.

Ijum memang bertugas mencari lumut di persawahan memakai jukung—perahu dayung kecil. Adapun Isah mendapat tugas menjual lumut, setelah dibersihkan. Isah tidak perlu tempat khusus untuk menjual lumut karena cukup di dalam wadah ember. Ia akan memasukkan lumut-lumut ke plastik kecil ketika ada pembeli.

"Dari pagi sampai sore saya berjualan lumut di pinggir jalan bersama beberapa warga lainnya," kata Isah kepada Banjarhits.id, Minggu (12/8/2018).

Ijum mencari lumut liar di persawahan sejak pagi selepas subuh. Ia memakai perkakas sederhana seperti jaring kecil untuk mengais lumut di sawah. Pencarian lumut tidak bisa terlalu banyak karena lumut yang sudah diambil tidak bertahan lama, seperti di habitat aslinya. Menurut Isah, lumut yang sudah diambil dari sawah paling maksimal bertahan selama 24 jam.

"Setelah diambil dari sawah, paling tahan pagi sampai malam. Kalau lewat dari itu baunya sudah tak sedap karena busuk, orang engg mau beli kalau sudah bau," ujar Isah, sembari menyalin tempat lumut hasil pencarian suaminya dari pagi.

Jual lumut jelas menopang perekonomian keluarga mereka. Tapi, Ijah mengaku omsetnya tak menentu setiap hari karena tergantung dari penghobi mancing yang membeli lumutnya. Isah menambahkan, setiap satu baskom biasanya mendapat uang Rp 30 ribu.

"Kalau hari biasa paling laku satu baskom, kalau akhir pekan seerti sabtu dan minggu Alhamdulillah bisa laku dua baskom lumut,” ucap Isah. (Hanafi)