Pencarian populer
PUBLISHER STORY
Pasar Terapung Siring Tendean Abaikan Sisi Historis
5 Desember 2018 17:50 WIB
0
0
banjarhits.ID, BANJARMASIN - Pasar terapung di Kota Banjarmasin kembali hangat jadi perbincangan di ruang publik. Mulai asal-usul, penataan sampai perkembangannya di era kekinian. Apalagi pamor pasar terapung buatan Siring Sungai Martapura, Jalan Piere Tendean, Kota Banjarmasin, makin moncer.
Silang pendapat keberadaan pasar terapung setelah Bupati Banjar Khalillurahman menyinggung eksodusnya pedagang Pasar Terapung Lok Baintan ke Kota Banjarmasin. Menurut Khalillurahman, Pemko Banjarmasin jangan asal klaim para pedagang pasar terapung di Siring Jalan Pierre Tendean. Pernyataan ini ia sampaikan ketika membuka Festival Pasar Terapung Lok Baintan 2018, Minggu (3/12).
Menurut sejarawan Lembaga dari Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan Selatan, Mansyur, alangkah lebih bijak jika penataan pasar terapung lebih memperhatikan nilai historis dan budaya. Mansyur menjelaskan ada nilai sejarah pasar terapung yang harus diperhatikan sesuai tradisi lama orang Banjar.
Tradisi dan kearifan lokal yang muncul pada masa kesultanan Banjar yaitu berjualan mengapung diatas air dengan jukung (perahu).
"Kami mengharapkan, jika pasar terapung yang di Siring Piere Tendean menerapkan seperti apa yang dilakukan oleh orang Banjar dahulu yaitu tetap berjualan di atas jukung. Ada sensasi goyang dari ombak, bukan berjualan di atas bangunan misalnya," ucap Mansyur kepada banjarhits.ID, Rabu (5/12).
Lebih lanjut, kata Mansyur, dari sudut historis atau kesejarahan, pasar terapung (floating markets) Kuin di Banjarmasin sudah ada sejak 480 tahun yang lalu. Diperkirakan pasar terapung atau yang dalam Bahasa Belanda dikenal drijvende markt, mulai muncul pada 1530 Masehi ketika pemerintahan Sultan Suriansyah (Pangeran Samudera).
"Sangat diharapkan pasar terapung yang sekarang, dan lagi ngetrend di Banjarmasin tetap nengacu pada pasar terapung yang dulu diperkenalkan Banjarmasin kepada dunia sejak 480 tahun yang silam, tepat masa pemerintahan Sultan Suriansyah," ujar Mansyur.
Zaman dahulu, kata dia, warga melakukan jual beli dengan pedagang dari Jawa, Melayu, Aceh, Gujarat, Arab dan China serta pedagang lainnya. Dalam perkembangannya hingga 1530 Masehi, tersisa para pedagang Pasar Terapung Muara Kuin Banjarmasin yang berdagang ketika dini dan pagi hari.
"Bahkan untuk sistem jual belinya pun sebenarnya harus menyisakan sistem jual beli yang dulu yaitu barter. Tidak hanya bernilai historis, nilai budaya dalam pasar terapung juga harus diperhatikan. Demi menjaga keaslian suatu budaya daerah," kata Mansyur. (Zahidi)
Tulisan ini adalah kiriman dari publiser, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: