Pengembangan TWA Pulau Bakut Ditambah Rp 4 Miliar

banjarhits.ID, Marabahan - Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Ir Wiratno dan timnya, mengunjungi Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut di bawah Jembatan Barito, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barto Kuala. Ia ingin melihat habitat bekantan di pulau tersebut sebagai area konservasi.
Menurut dia, Pulau Bakut sebagai lokasi pendidikan konservasi alam yang penting bagi generasi muda. Selain Pulai Bakut, ia mengatakan ada sekitar 123 TWA di Indonesia. Namun, Wiratno mengakui masih banyak TWA belum dioptimalkan.
Meskipun TWA Pulau Bakut seluas 15,8 Hektare, Wiratno berharap mampu meningkatkan minat generasi muda tentang wisata alam dan mengenali jenis flora yang terdapat di lokasi TWA Pulau Bakut. "Ini akan dikembangkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)," kata Wiratno di sela peninjauan lokasi TWA Pulau Bakut, Rabu (26/9/2018).
Ia berharap masyarakat merespons positif atas pengembangan TWA Pulau Bakut karena bermanfaat bagi kepentingan wisata berbasis konservasi. Menurut dia, KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus melakukan pembenahan terhadap sarana dan prasarana TWA Pulau Bakut dengan menambah dana Rp 4 Miliar. "Ini masih perlu anggaran senilai Rp 4 miliar," ucapnya.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, Mokhammad Ridwan mengungkapkan TWA Pulau Bakut merupakan lokasi role model pengembangan wisata alam dan bekantan berbasis masyarakat yang ditentukan oleh BKSDA Kalimantan Selatan.
Sebelum ditetapkan TWA, kata Ridwan, Pulau Bakut merupakan lokasi pembuangan sampah dari atas Jembatan Barito. Melihat kondisi itu, BKSDA berinisiatif membangun TWA Pulau Bakut dengan membangun beberapa fasilitas di antaranya dermaga, musala, pusat informasi, klinik satwa, dan pintu gerbang.
Dalam kurun Januari-September 2018, ia melibatkan mitra swasta untuk ikut membangun sarana dan prasarana, selain dana internal BKSDA Kalsel. Pada 2017, pembangunan dermaga menelan dana Rp 216 juta. Kemudian toilet, mushola, klinik satwa dan pusat informasi sekitar Rp 100 juta serta adanya penambahan dari Adaro Indonesia sekitar Rp 1,7 miliar.
"Panjang titian mangrove sekitar 630 meter dengan menara, loket karcis serta gerbang keluar," katanya. Ridwan melihat masih ada beberapa hal yang harus dibenahi, seperti gazebo untuk pusat pertemuan sekaligus menampilkan film dokumenter.
Menurut dia, fasilitas tersebut suatu standar dari sarana dan prasarana wisata. "Kemudian wisata-wisata lain yang merupakan standar dari adanya pengembangan wisata alam suatu wilayah," tegasnya. (M Robby)
