Pencarian populer
PUBLISHER STORY

Rumah Sakit Dulu dan Kini Harusnya Beda

Penulis: Pribakti B (Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat dan Dokter RSUD Ulin Banjarmasin). Tulisan ini opini pribadi yang dikirim untuk banjarhits.id

Banjarhits.id - Pasar kuliner cepat bereaksi untuk urusan memanjakan lidah. Wisata kuliner seolah menjadi bagian gaya hidup. Di pusat perbelanjaan manapun, yang namanya pujasera tempat paling ramai dikunjungi. Bila Anda kedatangan tamu tepat ketika jam makan, bawalah ke pujasera. Pasti beres. Aneka menu kuliner tersaji dengan suasana riuh. Namun bila Anda, keluarga atau teman Anda sakit serius, misalnya kanker, jantung atau stroke, ke manakah Anda harus membawa?

Urusan selera makan jelas berbeda dengan masalah kesehatan. Urusan kuliner beres di ujung lidah, tetapi tidak untuk persoalan kesehatan. Pilihan rumah sakit (RS) adalah urusan vital karena menyangkut keselamatan dan harapan hidup. Jelas tidak boleh salah pilih.

Seperti diketahui pelayanan kesehatan mempunyai beberapa ciri khusus. Pertama, kebutuhan pasien akan layanan kesehatan umumnya bersifat mendesak. Kedua, toleransi terhadap kesalahan amat kecil. Ketiga, melibatkan banyak keahlian yang saling memiliki ketergantungan tinggi. Keempat, sulit mengukur output layanan kesehatan.

Si penerima jasa tidak dapat mengukur kualitas layanan medis yang diterima. Begitu kompleksnya masalah medis, tidak mungkin pasien dibiarkan sendiri menghadapi pasar kesehatan yang kian liar.

Kita patut berterima kasih atas kemajuan teknologi, seiring banyaknya tren penyakit dapat disembuhkan dan harapan hidup membaik. Namun disisi lain, biaya kesehatan makin tak terkendali. Inilah masalah terbesar yang dihadapi semua negara.

Tahukah Anda, banyak negara tidak kuat lagi menyangga beban kesehatan rakyatnya. Sebab kenaikan biaya kesehatan cuma simptom belaka, sedangkan penyakit sesungguhnya terletak di keserakahan dan ketidakkompetennya penyedia layanan kesehatan.

Kemajuan teknologi hanya membawa manfaat bila diterima oleh penyedia layanan yang terkoordinir dan teroganisir dengan baik. Sebaliknya, akan membawa malapetaka bila jatuh ke tangan pelayanan yang terfragmentasi (baca: tanpa koordinasi).

Saat ini, umumnya RS masih mengacu desain kerja RS dulu, RS ketika abad ke-19. Para dokter ahli (spesialis dan subspesialis) belum menyadari perlunya membagi peran dalam menangani pasien. Banyak komplikasi yang dialami pasien terjadi akibat tidak terkoordinasinya pelayanan. Cara kerja RS tradisional macam begini masih amat kental, terfragmentasi.

Dalam pekerjaan, tenaga medis masih terperangkap dalam koridor kerja spesialisasi dan subspesialisasi masing-masing. Misalnya, departemen Radiologi, Jantung, Anestesi, Bedah, Penyakit Dalam, dan Kandungan masih membawa budaya dan hirearki kerja dibagiannya sendiri.

Dalam menangani pasien, mereka masing-masing lebih menuntut otoritasnya, ketimbang membuka peluang kerja sama tim untuk mendapatkan yang terbaik bagi pasien. Akibatnya, jangan heran bila kendali mutu dan biaya sulit dilakukan.

Hal lain, mempertemukan para dokter ahli spesialis dan subspesialis dalam satu diskusi demi kebaikan pasien hampir mustahil. Semua sepakat bahwa dokter itu selalu sibuk. Akibatnya pasien bukan merupakan fokus kegiatan, namun hanya sekadar mampir! Acara visit pasien hanya merupakan bagian kecil dari seluruh rangkaian kegiatan harian mereka.

Dari sini timbul banyak peluang terjadinya inefisiensi dan kelalaian medik. Bahkan ketika RS sudah menjadi RS pendidikan tipe A, dokter diundang sebagai nara sumber dalam penanganan/diskusi kasus, sulit hadir dengan alasan klasik: Sedang pelayanan pasien.

Padahal kini, model perumahsakitan telah berubah secara fundamental. Terjadi pengelompokan RS menurut kekhususan layanan unggulan, Organ Oriented Hospital. Di sana para dokter ahli dari berbagai disiplin ilmu yang menyangkut pelayanan organ tersebut, bekerja dalam tim.

Begitu juga peralatan medik yang dibutuhkan tersedia dalam satu blok yang berdekatan, sehingga pelayanan merupakan satu produk yang jelas, terukur, dan mudah dimengerti pasien. Pengawasan melekat diberlakukan.

Di Eropa, sebuah RS dinyatakan layak menjadi pusat layanan unggulan bila ada angka minimal pasien pertahunnya. Apabila pasiennya sedikit, RS tersebut harus ditutup dan pasien dialihkan ke pusat layanan terdekat. Alasannya? Efisiensi!

Bila RS dipaksakan hidup dengan jumlah pasien yang kurang, maka ada penurunan pengguna peralatan medik, SDM, dan pemborosan berkepanjangan. Minimnya jumlah pasien berdampak menurunkan keterampilan SDM medis. Hal lain, bila pasien tersebar, pengawasan (baca: audit eksternal) akan sulit dijalankan.

Penanganan kasus patah tulang, misalnya, sangat berbeda dengan pasien kanker, stroke, gagal ginjal atau sakit jantung. Setiap kelainan membutuhkan keilmuan, peralatan, keterampilan khusus, dan kerja tim yang berbeda.

Terfokusnya layanan membuat pengembangan menjadi lebih terarah dan terkendali, sehingga lomba alat canggih antar RS dapat dihindari. Bukankah mustahil, satu RS akan unggul di semua bidang.

Ambisi itu hanya akan berakhir sia-sia dan mendorong terjadinya pemborosan besar-besaran. Sebaliknya bila pelayanan terfokus, membuat masyarakat terlindungi. Dan semua akan jelas, ke mana mereka harus pergi untuk mendapat layanan yang terbaik.

Untuk itu, kebutuhan pasien dan kemajuan teknologi menuntut RS masa kini harus berubah. Tata kerja yang berorientasi kepada kepentingan dokter harus ditinggalkan. Desain RS harus fokus terhadap kepentingan pasien, memberi kualitas terbaik, dan efisien.

Singkatnya, kini pekerjaan medik bukan lagi kerja perorangan, melainkan kerja tim. Tentu saja hal ini tidak mudah sebab terantuk kultur lama, ketika kebiasaan sang dokter bermain solo dan sistem imbalan yang cash and carry membuat semua sulit berubah.

Di titik ini, dorongan kepentingan pribadi tantangan terbesar. Tidak salah kalau banyak pengamat pelayanan kesehatan mengatakan untuk menghadapi perubahan yang luar biasa RS di era milenial, dunia medik butuh pemimpin-pemimpin baru yang berjiwa heroik.

Ribuan tahun silam kita telah diingatkan bahwa tidak ada yang kekal di bumi ini. Termasuk pelayanan RS. Perubahan akan sangat mengerikan untuk RS yang tidak siap. Lalu, apakah sudah siap RS di negeri ini? Apakah siap pihak manajemen dan dokter ahli (spesialis dan subspesialis) kita untuk melangkah ke depan? Pertanyaan ini harus dijawab. (*) Foto: Pixabay

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.61