Senjakala Nasib Benteng Oranje Nassau di Banjar

Sejarawan Nugroho Nur Susanto dari Balai Arkeolog Kalimantan Selatan menyebut benteng Oranje Nassau di Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, sebagai situs tertua bersejarah di Kalsel dan Indonesia. Benteng Oranje Nassau berdiri pada 28 September 1849.
"Temuan kami bahwa benteng Oranje Nassau diresmikan pada tahun 1849 dan Perang Banjar meletus pada 1859. Dibanding lebih tua daripada Sawah Lunto di Sumatera Barat, pada tahun 1870 dan baru beroperasinya di tahun 1900-an," kata Nugroho Nur Susanto kepada wartawan banjarhits.id, pada Minggu (2/2/2020).
Nama tambang itu diambil nama dinasti (wangsa) yaitu Oranje Nassau di Belanda. Berdasarkan catatan sejarah De Loos pada 28 September 1849, Gubernur Jenderal Rochussen datang ke Pengaron di wilayah kerajaan Banjar untuk meresmikan tambang batubara pertama di Indonesia.
Menurut Nugroho, ada dua lokasi bersejarah tentang benteng Oranje Nassau di Pengaron. Pertama, terkait tambang batu bara yang daerah eksplorasi di Gunung Pagaran.
“Kedua, benteng Pengaron terkait peristiwa pengepungan pejuang Banjar sebagai situsnya, ada di sekitaran Polsek yang kini telah tertimbun tanah," kata Nugroho.
Nugroho berkata situs Oranje Nassau mulai diteliti intensif sejak tahun 2005-an. Kemudian, penelitian dilanjutkan oleh Balai Arkeologi Kalimantan Selatan bersama Pemerintah Kabupaten Banjar, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Samarinda dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak pada tahun 2012 - 2017.
Sejak tahun 2014, ada juru pelihara situs 2 orang. Adapun pada 2017 di Desa Pengaron, Pemkab Banjar menjadikan situs ini menjadi tempat wisata sejarah. Namun disayangkan, prasarana wisata Benteng Oranje Nassau dan jalur ke lokasi rusak akibat musim hujan.
“Ini perlu menjadi perhatian pemerintah," kata pria kelahiran 1969 itu.
Nugroho melihat objek wisata sejarah ini telah diperkenalkan ke MGMP Sejarah dan para guru sering berkunjung bersama siswanya. Saat di lokasi, dia menyayangkan situs bersejarah Oranje Nassau tidak terawat dan semakin rusak oleh kepentingan sebagian orang.
Ia berharap kerjasama lembaga teknis untuk mengembangkan dan merawat wisata sejarah Oranje Nassau, sebelum semua habis dieksplorasi alamnya. “Nilai penting situs ini adalah tambang batubara pertama di Indonesia. Dan kedua, yaitu lokasi awalnya Perang Banjar," pungkasnya.
Pemerhati sejarah asal Banjar, Norpikriadi, menguatkan asumsi Nugroho. Menurut Norpikriadi, keberadaan tambang dan benteng Oranje Nassau dianggap penting sebagai tonggak awal tambang batu bara Hindia Belanda (Nusantara).
"Masa itu, Belanda selalu berada dalam situasi persaingan dengan kolonialis lain yaitu Inggris," kata Norpikriadi.
Tambang Oranje Nassau direncanakan sebagai alternatif solusi bagi Belanda jika dalam situasi konflik, dan suplai batu bara dari Eropa diputus Inggris yang dianggap unggul dalam armada lautnya.
Memasuki era revolusi industri, kata dia, batu bara memang menjadi vital sebagai tenaga penggerak kapal-kapal dagang maupun kapal perang yang tak lagi sepenuhnya mengandalkan angin.
Menurut Norpikriadi, konteks lokal dalam posisi penting tambang di benteng Oranje Nassau adalah sejarah Perang Banjar. "Tentu saja dilihat dalam konteks clash pribumi versus kolonial asing, di mana serangan terhadap tempat itu pada 28 April 1859 dianggap sebagai awal Perang Banjar," ungkapnya.
Ia menduga ketidakterawatan situs bangunan benteng Oranje Nassau karena ada sebagian kepentingan masyarakat yang mengambilnya. Sebab pada tahun 2014, ia mendapati fakta lain.
“Selain kurangnya perhatian instansi terkait, kesadaran sejarah masyarakat juga kurang. Sepertinya terdapat kasus pengambilan material situs untuk kepentingan membuat rumah atau yang lain," ungkap Norpikriadi.
Norpikriadi berharap instansi teknis serius melestarikan Oranje Nassau. Bukan hanya fokus pada pemeliharaan fisik, namun pembinaan kesadaran masyarakat secara kontinyu tentang arti penting situs sejarah.
"Dari sini diharapkan terdapat sinergi dalam upaya bersama pelestarian situs benteng atau tambang Oranje Nassau itu," tandasnya.
