Sosok Wanita Sepuh Penganyam Kerajinan Purun Asli Banjar

Banjarhits.id, Banjarmasin - Jemari wanita sepuh itu cekatan menyulam potongan pipih purun seraya duduk bersila di hadapan lembaran tikar purun. Kedua tangannya sesekali merapatkan sulaman purun membentuk motif khusus. Di usianya yang menginjak kepala delapan, ia masih mahir menganyam purun menjadi kerajinan tikar.
Maklum, semenjak remaja, wanita sepuh bernama Nenek Laya ini sudah menganyam tikar purun turun-temurun. Alih-alih menimang cucu, Nenek Laya yang kini berusia 80 tahun, ini mesti telaten menganyam tikar purun untuk menopang biaya hidup.
Setelah anak-anaknya mandiri hidup berumah tangga, ia memang tinggal sebatang kara di lingkungan RT 4 Kelurahan Alalak Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara. Ia sekedar buruh tani dan pencari ikan ketika fisiknya masih kuat.
Tapi ketika bulan Ramadan, Nenek Laya rehat sejenak menganyam purun karena permintaan menurun. "Bulan puasa ini libur tak membuat tikar purun. Nanti setelah Lebaran mulai lagi," ujar nenek yang punya tiga cucu dan empat cicit itu, Sabtu (26/5).
Toh, jerih payah menganyam tikar purun sejatinya tak banyak mendatangkan duit. Apalagi penghasilannya tak menentu, tergantung pesanan. Duit hasik penjualan tikar biasanya ludes untuk memenuhi kebutuhan hidup dan modal membeli bahan baku purun. Menurut dia, harga bahan pokok purun segedeng alias satu ikat Rp 5.000.
Adapun satu produk tikar menghabiskan bahan baku dua ikat purun. Kalau pesanan lagi menumpuk, Nenek Laya, memakai jasa tenaga tambahan tetangganya. "Sudah tua tak kuat lagi, sekarang manggah dan badan sakit kalau lama duduk menganyam," tutur Nenek Laya.
Rumah reot miliknya sempat menerima bantuan renovasi bedah rumah tiga tahun lalu. Nenek Laya pun sudah menikmati layanan air bersih dari PDAM. Tapi bagian pembanyuan dan kamar mandi rumah itu luput dari sentuhan program untuk kelurga prasejahtera. Kondisi belakang rumahnya masih compang-camping. Toh, ia bersyukur menerima bantuan bedah rumah.
Selain Nenek Laya, ada pula Nenek Munah yang masih cekatan menganyam kerajinan purun di kediamannya, lingkungan RT 5, Kelurahan Alalak Utara. Munah seumuran dengan Nenek Laya, 80 tahunan. Hasil kerajinan tikar purun buatan Munah masih tersisa di rumahnya.
Munah menggarap dua corak anyaman tikar purun: Ramak Sahang dan Batapak. "Kalau corak Salung Mudik, aku tidak bisa karena susah mengerjakannya," ujar Munah.
Hasil kerajinan tikar purun umumnya dipakai para petani untuk tempat menjemur padi yang baru dipanen. Tikar purun juga dipakai alas tempat tidur dan hamparan di ruang tamu. Sementara harga jual tikar purun tergantung ukuran. Untuk tikar purun bercorak ukuran panjang lebih 2 meter dibanderol seharga Rp 50 ribu dan Rp 30 ribu untuk tikar purun polos tanpa corak.
"Mengerjakan satu tikar ukuran panjang memerlukan waktu dua-tiga hari," kata Munah. Mereka membeli bahan baku purun di Kampung Tatah Masigit, Kelurahan Berangas, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala. "Tak jauh tinggal menyeberang sungai dari sini," Munah melanjutkan.
Dari pendapatan hasil menjual karya kerajinan tangan yang nyaris punah ini, Munah menghidupi dan membesarkan anak-anaknya. Seperti Laya, Munah pun menekuni kerajinan purun semenjak usia remaja secara turun-temurun. Ia kerap mencari purun di rawa-rawa selagi muda. Namun, kini Munah tak kuat lagi seiring usia yang mendekati satu abad.
Semangat Nenek Laya dan Munah yang telaten membuat kerajinan khas Banjar ini layak diacungan dua jempol. Laya prihatin wanita masa kini di kampung tersebut, condong memilih pekerjaan pembantu rumah tangga ketimbang meneruskan keahlian menganyam purun.
"Kalau menganyam tikar hasilnya tidak seberapa. Daripada berdiam diri tidak ada kerjaan aku membuat tikar purun," ucap nenek Laya. (Yudi Yusmili)
