Ketika Bahasa Jawa Menjadi Identitas Sehari-hari Masyarakat Dusun Kepuh

Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Yoga Kusumantoro Raharjo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Yogyakarta- Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang didengar dan dipahami seseorang sejak kecil. Ia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari identitas diri yang membentuk cara berpikir dan cara seseorang memahami lingkungannya. Lewat bahasa ibu pula, nilai-nilai, kebiasaan, dan norma diwariskan diam-diam, dari satu generasi ke generasi berikutnya, sering kali tanpa disadari oleh yang mewariskan maupun yang menerima.
Dalam konteks literasi, bahasa ibu menjadi fondasi awal kemampuan berbahasa. Melalui bahasa pertama yang dikuasai, seseorang belajar mendengar, berbicara, membaca, dan menulis, sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis. Bahasa ibu juga menjadi wadah kekayaan budaya dan kearifan lokal, mulai dari cerita rakyat, peribahasa, hingga nilai-nilai kehidupan yang maknanya sering kali sulit diterjemahkan utuh ke bahasa lain. Karena itu, menjaga bahasa ibu sama artinya dengan melestarikan identitas budaya para leluhur dan kehilangannya berarti kehilangan lebih dari sekadar kosakata.
Sayangnya, di era globalisasi, bahasa ibu di berbagai daerah perlahan terdesak. Generasi muda semakin jarang menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari, tergeser oleh bahasa Indonesia dan derasnya arus digital. Namun kondisi ini tidak sepenuhnya berlaku di Dusun Kepuh, Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman sebuah dusun yang, dari pengamatan penulis selama masa KKN, seolah menyimpan bahasa Jawa krama sebagai denyut nadinya sendiri.
Bahasa Jawa Bukan Sekadar Alat Komunikasi
Bagi masyarakat Dusun Kepuh, bahasa Jawa masih menjadi bahasa utama, baik di lingkungan keluarga maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Penggunaannya tidak terbatas pada percakapan informal, tapi juga hadir dalam musyawarah warga, tahlilan, pengajian, merti dusun, dan berbagai kegiatan kemasyarakatan lainnya.
Lebih dari sekadar alat komunikasi, bahasa Jawa di Dusun Kepuh berfungsi sebagai identitas sosial. Lewat bahasa ini, warga menunjukkan rasa hormat, mempererat hubungan antarsesama, sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.
Krama Inggil di Setiap Pertemuan Warga
Selama masa observasi, penulis melihat sendiri bagaimana bahasa Jawa krama masih hidup dan mengalir alami di tengah masyarakat bukan sesuatu yang dipaksakan, melainkan kebiasaan yang seolah sudah mendarah daging. Pengalaman pertama terjadi saat tim KKN mengadakan pertemuan perdana dengan Bapak Dukuh beserta keluarga di Pendopo Dusun Kepuh. Komunikasi berlangsung dalam bahasa Jawa krama sebagai bentuk penghormatan kepada tuan rumah dan para sesepuh dusun. Bagi beberapa anggota tim KKN dari luar Pulau Jawa, pengalaman itu cukup mengejutkan mereka belum terbiasa mendengar percakapan formal dalam krama yang begitu aktif dan wajar digunakan.
Hal serupa terjadi saat penulis mengikuti pertemuan rutin bapak-bapak dusun. Seluruh rangkaian acara, dari pembukaan hingga diskusi, berlangsung dalam bahasa Jawa krama yang tertata rapi. Bapak Suratna, sang pembawa acara, memandu pertemuan dengan krama yang fasih dan santun, seakan tak ada jeda untuk mencari kata yang tepat. Menariknya, meski pernah menetap di Cikarang selama hampir dua puluh tahun, kemampuan berbahasa krama beliau tetap terjaga utuh bukti kecil namun meyakinkan bahwa kedekatan dengan bahasa ibu bisa bertahan meski seseorang lama tinggal jauh dari lingkungan aslinya.
Sambutan atau pambagyaharja dari tokoh masyarakat pun tak lepas dari bahasa Jawa krama yang baik dan luwes. Tingkat tutur yang santun ini menegaskan sesuatu yang lebih dalam: bahwa bahasa Jawa di Dusun Kepuh bukan sekadar dipertahankan sebagai alat komunikasi, melainkan dijaga sebagai wujud etika, kesopanan, dan identitas sosial masyarakatnya sesuatu yang diucapkan bukan karena kewajiban, tapi karena sudah menjadi bagian dari cara mereka menghormati sesama.
Pengunakan Bahasa Jawa Krama Masih Bertahan Di Kehidupan Gen Z
Yang menarik, pelestarian bahasa Jawa di Dusun Kepuh tidak berhenti di kalangan orang tua saja. Justru di sinilah bagian yang paling menggugah: para pemuda yang tergabung dalam organisasi RECINDA juga masih aktif menggunakan bahasa Jawa krama dalam berbagai kegiatan mereka, di tengah zaman ketika bahasa daerah kerap dianggap "kurang gaul" oleh generasi sebaya mereka di banyak tempat lain.
Hal ini tampak jelas saat penulis mengikuti salah satu rapat pemuda RECINDA. Berbeda dari kebiasaan di banyak daerah yang cenderung memakai bahasa Indonesia dalam forum resmi, seluruh rangkaian rapat mulai dari pembukaan, sambutan, hingga diskusi berlangsung dalam bahasa Jawa krama. Penggunaan bahasa yang santun ini menunjukkan bahwa para pemuda tidak hanya mampu berbahasa Jawa, tapi juga memahami unggah-ungguh atau tata krama berbahasa sebagai bagian dari budaya Jawa sesuatu yang jauh lebih sulit dijaga ketimbang sekadar menghafal kosakata.
Melihat kondisi ini, penulis merasa bangga sekaligus kagum. Di tengah derasnya arus globalisasi dan teknologi, para pemuda Dusun Kepuh membuktikan bahwa bahasa daerah dan kemodernan tidak harus saling meniadakan. Mereka tetap menjadikan bahasa Jawa sebagai bagian dari identitas, bukan sebagai peninggalan yang perlahan ditinggalkan.
Upaya pelestarian ini perlu terus dijaga agar bahasa Jawa tetap hidup dan diwariskan ke generasi berikutnya. Kebiasaan berbahasa krama yang diajarkan sejak dini di lingkungan keluarga menjadi fondasi utama pembentukan karakter dan kesadaran berbahasa. Ketika anak-anak tumbuh dengan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu, mereka tidak hanya belajar berkomunikasi, tetapi juga mewarisi nilai kesopanan, penghormatan kepada yang lebih tua, dan identitas budaya yang selama masih ada yang mau mengucapkannya akan terus hidup dari generasi ke generasi.
