Konten dari Pengguna

Merawat Tradisi, Mempererat Kebersamaan dalam Merti Dusun Kepuh

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yoga Kusumantoro Raharjo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Acara Merti Dusun Kepuh (Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Acara Merti Dusun Kepuh (Dokumentasi Pribadi)

SLEMAN – Warga Dusun Kepuh, Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggelar tradisi Merti Dusun pada Minggu (6/9/2026). Perhelatan tahunan ini bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan tahun ini mengusung tajuk Dharmasanti Budaya. Tradisi Merti Dusun sejatinya telah berlangsung turun-temurun, namun sempat vakum setelah erupsi Gunung Merapi meratakan permukiman Dusun Kepuh. Tahun ini, warga kembali menghidupkan tradisi tersebut setelah sekian lama terhenti.

Dukuh Kepuh, Panggung Widada, mengatakan pelaksanaan Merti Dusun tahun ini jauh lebih sederhana dibanding masa lalu. "Pada zaman dahulu acara Merti Dusun sangat meriah, pasti ada kebudayaan Jawa seperti wayang, jatilan, dan lainnya. Tetapi tahun ini hanya sak madyanya saja," ujarnya.

Atur Pambagya dari Bapak Panggung Widada selaku Dukuh Kepuh (Dokumentasi Pribadi)

Walau acara dilakukan dengan sak madya, antusiasme warga tidak berkurang. Hal itu terlihat dari arak-arakan yang cukup ramai dan diikuti oleh seluruh masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Mereka bersama-sama mengikuti rangkaian acara dengan penuh semangat.

Acara diawali dengan arak-arakan yang dipimpin oleh Bregada Kepuhsari, beranggotakan warga Kepuh sendiri. Barisan dilanjutkan oleh para perangkat Dusun Kepuh, diikuti gunungan berisi berbagai hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, dan hasil pertanian lainnya. Di bagian belakang, warga Dusun Kepuh turut mengiringi jalannya arak-arakan dengan antusias.

Gunungan yang dibawa dalam arak-arakan tersebut menjadi salah satu simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi dan kehidupan yang telah diberikan. Hal tersebut disampaikan Anjar, selaku panitia Merti Dusun.Merti dusun ini diikuti oleh seluruh warga kepuh dari orang tua hingga anak-anak menjadi satu di pendopo kepuh untuk melantukan sholawat dan doa.

Bapak Anjar Sebagi Pranatacara (Dokumentasi Pribadi)

Setelah arak-arakan tiba di pendopo, acara dibuka oleh pranatacara (pembawa acara). Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan atur pambagyaharja yang disampaikan oleh Dukuh Kepuh, Lurah, dan Camat Cangkringan. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan umbul donga atau doa bersama yang dipimpin oleh Suratna. Suasana yang semula ramai perlahan berubah tenang seiring seluruh warga mengikuti doa bersama tersebut. Selain doa, sejumlah hidangan seperti nasi gurih dan ayam ingkung turut menjadi bagian penting dalam rangkaian Merti Dusun. Hidangan ini dimaknai sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah yang telah diberikan. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan rebutan gunungan hasil bumi. Warga beramai-ramai memperebutkan hasil bumi yang sebelumnya diarak menuju pendopo. Bagi masyarakat, gunungan bukan sekadar kumpulan hasil bumi, melainkan juga simbol rasa syukur yang kemudian dibagikan dan dinikmati bersama.

Merti Dusun Kepuh menjadi menarik karena mampu mempertemukan budaya Jawa dengan nilai-nilai agama Islam dalam satu rangkaian tradisi. Perpaduan tersebut menunjukkan bahwa agama dan kebudayaan Jawa dapat berjalan berdampingan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Merti Dusun tahun ini dilaksanakan secara sederhana atau sak madya. Namun, bagi masyarakat, yang terpenting bukanlah kemeriahan acara, melainkan bagaimana tradisi tersebut tetap mampu menjaga guyub rukun antarwarga. Dukuh Kepuh, Panggung Widada, mengungkapkan bahwa kesederhanaan tidak mengurangi makna Merti Dusun selama kebersamaan warga tetap terjaga.

Selain menjadi wadah untuk berdoa dan mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Merti Dusun juga menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul dan mempererat hubungan satu sama lain. Rangkaian acara yang dilakukan bersama-sama turut mencerminkan nilai gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat. Dari kesederhanaan itulah, Merti Dusun Kepuh terus menjadi tradisi yang tidak hanya diwariskan, tetapi juga dirawat bersama oleh masyarakat dari generasi ke generasi.

Meski digelar dalam skala terbatas, semangat warga untuk terus menghidupkan tradisi ini tidak pernah surut. Bagi warga Dusun Kepuh, Merti Dusun bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan cara untuk terus mengingat asal-usul, merawat hubungan dengan sesama, dan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Nilai-nilai itulah yang membuat tradisi ini tetap relevan meski zaman terus berubah. Warga berharap penyelenggaraan Merti Dusun tahun depan dapat kembali digelar dengan lebih meriah, seiring pulihnya kondisi dusun pascabencana beberapa tahun silam. Namun, di balik harapan akan kemeriahan tersebut, semangat guyub rukun tetap menjadi hal yang paling ingin dijaga. Bagi masyarakat Kepuh, kemeriahan boleh datang dan pergi, tetapi kebersamaan dan gotong royong adalah warisan yang harus terus dirawat dari generasi ke generasi.