Tradisi Juara Berlanjut, Dusun Kepuh Kembali Menang Lomba Cembrengan

Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Yoga Kusumantoro Raharjo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Klaten – Suasana Dusun Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, riuh oleh sorak-sorai warga saat perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia digelar, Selasa (18/8/2026). Dari sederet lomba tradisional yang diselenggarakan, Cembrengan atau panjat bambu tetap menjadi magnet utama yang paling dinanti setiap tahunnya.
Berbeda dari panjat pinang yang lazim dijumpai di berbagai daerah, Cembrengan di Balerante memiliki tantangan tersendiri. Warga menggunakan batang bambu petung setinggi hampir 10 meter yang licin dan penuh rintangan, sementara setiap kelompok peserta hanya boleh beranggotakan tiga orang. Keterbatasan jumlah pemanjat inilah yang membuat perlombaan ini jauh lebih menuntut dibandingkan panjat pinang biasa. Bukan sekadar mengandalkan otot dan tenaga, para peserta harus benar-benar kompak membaca situasi, menyusun strategi, serta saling menopang satu sama lain agar bisa menaklukkan puncak bambu yang licin karena sudah dilumuri oli dan minyak. Sedikit saja keseimbangan goyah, tiga orang yang saling bertumpu itu bisa langsung terjatuh bersamaan.
Antusiasme serupa juga ditunjukkan warga Dusun Kepuh, Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman, yang tahun ini kembali bersiap ambil bagian dalam perlombaan tersebut. Semangat itu bukan hal baru, sebab keikutsertaan warga Kepuh sudah berlangsung dari tahun ke tahun tanpa pernah absen. Bagi warga Kepuh, Cembrengan tidak sekadar dipandang sebagai perlombaan pengisi rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan. Lebih dari itu, ajang ini telah menjelma menjadi tradisi yang selalu dirindukan kehadirannya setiap tahun. Tak heran bila warga rela datang jauh-jauh ke Balerante bukan sekadar untuk menikmati rangkaian acara Balerante Fest secara umum, melainkan memang khusus untuk mengikuti lomba cembrengan yang menjadi daya tarik tersendiri dalam perayaan kemerdekaan di sana.
Dukuh Dusun Kepuh, Panggung Widodo, mengungkapkan bahwa tradisi menjadi juara itu memang seolah sudah melekat pada warganya. "Pasti setiap ada lomba ini Dusun Kepuh selalu menjadi juara," ujarnya.
Ucapan tersebut kembali terbukti dalam gelaran cembrengan di Balerante tahun ini. Dusun Kepuh menurunkan dua kelompok sekaligus, yang menurut Bapak Panggung juga menjadi bagian dari upaya regenerasi peserta embrengan di kampungnya. Meski diisi peserta lintas generasi, kedua kelompok itu tetap kompak dan menunjukkan kemampuan yang tak kalah mumpuni.
Perlombaan sendiri dimulai pukul 14.00 WIB dan diikuti empat kelompok dari berbagai daerah. Di awal-awal, belum ada satu pun kelompok yang sanggup menjangkau puncak bambu. Namun kegagalan demi kegagalan itu tidak membuat peserta patah semangat. Mereka terus mengatur ulang strategi dan mengandalkan kekompakan untuk menaklukkan batang bambu petung yang licin dan menjulang tinggi.
Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Sekitar pukul 22.00 WIB, setelah berjam-jam mencoba, kelompok Dusun Kepuh yang beranggotakan Mas Epek, Pak Kromo, dan "sang master" Pak Suranto berhasil mencapai puncak bambu. Ketiganya sukses mengibarkan bendera yang terpasang di pucuk batang, sekaligus memastikan gelar juara jatuh ke tangan Dusun Kepuh. Sebagai hasil kemenangan tersebut, kelompok ini membawa pulang hadiah uang tunai dan enam ekor kambing.
Mempertahankan gelar juara hingga sekitar 75 kali tentu bukan perkara mudah. Di balik deretan kemenangan itu, ada perjalanan panjang yang membuat nama Dusun Kepuh begitu disegani dalam ajang cembrengan. Bahkan, saking kuatnya, Dusun Kepuh pernah masuk daftar hitam alias di blacklist dari perlombaan karena dianggap terlalu mendominasi dan ditakuti kelompok-kelompok lain.
Namun, mempertahankan tradisi juara ini tidak melulu mengandalkan kepiawaian peserta lama. Regenerasi justru menjadi kunci agar tradisi tersebut terus hidup. Seiring bertambahnya usia, satu per satu anggota lama mulai mundur dari arena. Meski begitu, mereka tak lantas lepas tangan generasi penerus terus disiapkan agar prestasi Dusun Kepuh tetap terjaga di setiap perlombaan Cembrengan berikutnya.
Panggung Widodo menegaskan, regenerasi memang penting supaya tradisi cembrengan di Kepuh tidak berhenti hanya pada satu generasi saja. Kendati demikian, ada satu nama yang sampai sekarang masih jadi andalan utama: Pak Suranto, yang akrab disapa "sang master." Berbeda dari peserta senior lain yang perlahan pensiun, Suranto justru mengaku belum berniat berhenti selama tubuhnya masih kuat untuk memanjat dan bertanding.
Bagi warga Dusun Kepuh, kemenangan dalam cembrengan tak sekadar soal membawa pulang hadiah. Lebih dari itu, perlombaan ini telah menjadi bagian dari tradisi, kebersamaan, dan kebanggaan yang terus dijaga serta diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
