kumparan
18 Sep 2019 20:17 WIB

Cerita Makam Keramat Nenek Tane Mela di Gorontalo

Pintu gerbang makam Sulthanul Aulia Alasy Ariah, berada di tengah pemukiman di Desa Payunga, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo. Rabu, (18/9). Foto : Dok Banthayo.id
BANTHAYO.ID,GORONTALO - Selain makam keramat Jubalo Blongkod, ada satu lagi makam yang dikeramatkan di Gorontalo. Makam itu berada di samping Masjid Sulthanul Aulia Alasy Ariah, Desa Payunga, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo.
ADVERTISEMENT
Tiba di depan masjid, saya disambangi dua bocah. Mereka adalah Iki dan Dika. Lalu saya diberitahu tempat tinggal penjaga makam yang akan berkisah tentang makam keramat tersebut.
Nama penjaga makam itu adalah Anis Alunggio (47 tahun). Rumahnya tak jauh dari masjid. Kira-kira sekitar 100 meter.
Nenek Alasy Ariah, semasa hidup berdakwah menyebarkan agama Islam di Gorontalo. Foto : Dok Banthayo.id
Nama pemilik makam adalah Sulthanul Aulia Alasy Ariah. Tapi ia lebih dikenal dengan sebutan Nenek Tane Mela.
Anis mengajak saya masuk ke ruangan berukuran 4x4 meter persegi yang berada di samping masjid. Di ruangan inilah makam Sulthanul Aulia berada. Makam yang dikeramatkan itu memiliki panjang sekitar empat meter dengan lebar satu meter.
Nama Aulia Alasy Ariah, menjadi cikal bakal penamaan masjid. yang lebih dikenal dengan sebutan Nenek Tane Mela. Foto: Dok Banthayo.id
Di atas makam berpasir itu terpasang dua batu nisan yang dibalut kain putih. Dua batu nisan itu menandakan bahwa yang di dalam makam tersebut adalah seorang perempuan.
ADVERTISEMENT
Nenek Tane Mela lahir di Makkah, 9 Rajab 1300 Masehi dan wafat di Batudaa pada 17 Ramadan 1432 Masehi, sesuai yang tertulis pada dinding samping makam.
Aulia Alasy Ariah, wafat di usia 132 tahun. Foto: Dok Banthayo.id
“Sepengetahuan saya, beliau adalah seorang laki-laki, tapi ada juga yang mengatakan Sulthanul Aulia itu perempuan," ujar Anis.
Terlepas dari perempuan atau laki-laki, warga sekitar meyakini secara turun temurun bahwa Tane Mela adalah seorang yang berjasa terhadap penyebaran agama Islam di Gorontalo.
"Hingga kini makam itu banyak dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah," ungkap Anis.
Nenek Alasy Ariah, wafat di Batudaa 17 Ramadhan 1432 Masehi. Foto : Dok Banthayo.id
Menurut cerita para peziarah, warga sering mencium bau wangi melati pada setiap Senin dan Kamis malam.
“Pengalaman lain, pernah pada saat melaksanakan salat subuh seorang diri, sepintas saya melihat saf di belakang penuh jemaah mengenakan pakaian putih dan berserban. Hal itu terjadi selama dua kali,” ujar Anis.
ADVERTISEMENT
Selain dikeramatkan, terkadang ada peziarah yang datang mengambil pasir dan potongan kayu yang berada di atas makam untuk dibawa pulang dengan tujuan tak tentu.
Bagain dalam masjid Alasy Ariah. Foto : Dok Banthayo.id
Menurut penjelasan Imam Masjid, Rudi Hagoga (75), Tane Mele merupakan seorang manusia yang setengah badannya memiliki tanda lahir berwarna merah. Tanda lahir tersebut berada di bagian badan hingga ujung kaki. Dengan tanda lahir itu sehingga dia dijuluki Nenek Tane Mela yang artinya "nenek berbadan merah".
Imam Masjid, Alasy Ariah, Rudi Hagoga, saat diwawancarai Jurnalis banthayo.id di selasar Masjid. Foto : Dok Banthayo.id
Keberadan makam Nenek Tane Mela dan sebongkah batu besar di sekitar makam menjadi asal usul pemberian nama Kecamatan Batudaa,” pungkas Rudi Hagoga
----
Reporter : Burdu
Editor : Febriandy Abidin
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan