Konten Media Partner

Cerita Pengelola Wisata di Bone Bolango di Masa Pandemi COVID-19

banthayo.idverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pantai Botutonuo, yang berlokasi di Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Senin, (8/6). Foto: Dok istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Pantai Botutonuo, yang berlokasi di Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Senin, (8/6). Foto: Dok istimewa

GORONTALO - Pandemi COVID-19 terpaksa membuat Pemerintah Provinsi Gorontalo menutup berbagai tempat yang menimbulkan kerumunan orang, termasuk sektor pariwisata.

Wisata-wisata di Gorontalo cukup beragam, mulai dari wisata sejarah, alam, religi dan lain sebagainya. Termasuk yang ada di Kabupaten Bone Bolango. Salah satu objek wisata di sana, yaitu Pantai Botutonuo, yang berlokasi di Kecamatan Kabila Bone.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Felmi Gaib mengatakan, salah satu yang menjadi daya tarik para wisatawan adalah pesona laut dan pantai yang bersih.

Tak bisa dipungkiri, pesona alam di Desa Botutonuo itu menjadi favorit dari warga, baik dari kabupaten maupun kota di Gorontalo. Kata Felmi, wisata Botutonuo memiliki tujuh lorong jalan masuk. Sebelum adanya COVID-19, setiap lorong akan ramai dikunjungi wisatawan.

“Biasanya pengunjung tidak datang setiap hari, namun setiap Sabtu dan Minggu. Kadang datang pagi, siang, sore. Dalam sehari biasa bergantian tiga kali. Sebelum pandemi itu banyak pengunjungnya bahkan mencapai ratusan,” ujar Felmi.

Pantai Botutonuo, yang berlokasi di Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Foto: Dok istimewa

Merebaknya pandemi COVID-19 menyebabkan wisata Pantai Botutonuo harus ditutup, hal itu bertujuan agar masyarakat tidak berkerumunan yang akan menyebabkan penyebaran virus semakin cepat.

“Adanya pandemi ini, dampaknya pengunjung sama sekali tidak ada, sudah empat bulan lamanya,” ucapnya.

Felmi mengatakan, di bibir-bibir pantai terdapat gajebo yang biasanya menjadi tempat pengunjung untuk rehat setelah lelah berjalan-jalan atau berenang menikmati kondisi alam Pantai Botutonuo. Gajebo tersebut dibuat oleh masyarakat sekitar dan disewakan.

Felmi menuturukan, sebelum adanya COVID-19, tiap bulan penghasilan dari rental gajebo bisa menghasilkan Rp 5-6 juta.

“Pendapatan tiap minggu RP 1,5 juta. Adanya wabah ini, sudah tidak ada sama sekali penghasilan. Dampak perekonomiannya sangat terasa,” tuturnya. Senin, (8/6).

Pantai Botutonuo, yang berlokasi di Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Foto: Dok istimewa

Selama empat bulan ditutupnya wisata Botutonuo menyebabkan tempat itu sepi dan dampaknya pada penghasilan warga sekitar. Kata Felmi, penurunan pengunjung ini membuat ia terpaksa harus beralih berdagang, dan juga beberapa masyarakat sekitar yang biasa memperoleh penghasilan dari wisatawan yang datang saat ini beralih profesi menjadi nelayan.

“Saya berdagang setelah adanya corona, agak lumayan keuntungannya. Tapi masih banyak tanggungan seperi buat makan, bayar cicilan,” jelasnya.

Wisata Botutonuo, kata dia, sebulan terakhir ini sudah mulai ada yang berdatangan. Bahkan pada minggu lalu sudah ada yang datang. Pada hari itu, ia mengaku dapat Rp 1 juta.

“Biasanya lebih,” ucapnya lanjut.

Pantai Botutonuo, yang berlokasi di Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Foto: Dok istimewa

Pemerintah Provinsi Gorontalo tengah menyiapkan diri menyambut pemberlakuan new normal. Sosialisasinya mulai dilakukan, kata Felmi, sejak seminggu yang lalu pihak kepolisian telah mensialisasikannya.

“Wisata Botutonuo siap menyambut new normal,” ujarnya.

-----

Reporter: Fadhil Hadju