Drainase Tersumbat, 3 Kabupaten di Gorontalo Terendam Banjir

GORONTALO-Hujan yang mengguyur Gorontalo menyebabkan sejumlah rumah di beberapa wilayah yang rawan banjir kembali terendam. Dari laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo, sedikitnya ada 3 kabupaten di Gorontalo yang sebagian wilayahnya terendam banjir pada, Sabtu (27/6)
Merinci data yang diberikan oleh badan yang khusus menangani bencana tersebut, desa-desa yang terendam banjir ada Desa Padengo, Kabupaten Pohuwato berjumlah 33 rumah; Desa Mohungo dan Desa Lamu, di Kabupaten Boalemo berjumlah 107 rumah; dan Desa Muara Bone, Kabupaten Bone Bolango.
Dari laporan BPBD di masing-masing kabupaten tersebut, seluruhnya penyebab banjir bukan diakibatkan oleh meluapnya air sungai, akan tetapi disebabkan oleh buruknya drainase di masing-masing desa tersebut. Sehingga air yang harusnya mengalir ke bawah, malah meluap dan merendam rumah-rumah penduduk.
Misalnya apa yang diungkapkan oleh Kepala Desa Muara Bone, Alfrits Ana. Ia mengungkapkan, pada Sabtu 27 Juni 2020 pukul 10.30 WITA, air setinggi 30 hingga 50 sentimeter telah menggenangi sebagian rumah warga. Namun bukanlah dari luapan Sungai Bone, akan tetapi berasal dari air gunung yang memasuki drainase, lalu meluap.
“(banjir itu) hanya air yang berasal dari dari air gunung atau akibat sistem drainase yang kecil, (sedangkan) kondisi tanahnya lebih rendah (di desa ini),” katanya.
Sedangkan di Kabupaten Boalemo, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, Roswita Novia Manto mengungkapkan, air setinggi 40 sentimeter yang merendam Desa Mohungo dan Desa Lamu pada sekitar jam 2 siang kemarin itu, terjadi karena ada drainase yang tersumbat sehingga airnya meluap ke permukiman warga.
“Kita sudah eksekusi, jadi dalam hal ini ada saluran yang tersumbat, itu kita sudah kerjakan. Dan kita sudah panggil alat berat untuk kita kerjakan. Dan kemudian untuk teman-teman semua yang BPBD kita sudah ambil data, dan kita siapkan makanan siap saji (untuk masyarakat),” katanya.
Menurut Roswita, memang pihaknya sudah mengingatkan masyarakat untuk potensi banjir yang akan diakibatkan oleh saluran yang tersumbat tersebut, namun masyarakat mengabaikan.
“Memang masyarakatnya waktu tahun-tahun kemarin, itu kita sudah bilang, ada yang (saluran yang) tersumbat, tapi mereka kan tidak kasih, tidak kasih itu ini (kita perbaiki). Cuma tetap untuk sekarang tetap kita (perbaiki). Kita sosialisasikan yang mana itu harus buat saluran yang sudah tersumbat itu. Itu tersumbat dengan sampah semua itu dan tertumpuk dengan tanah,” ungkapnya.
Sedangkan di Kabupaten Pohuwato, menurut keterangan Kepala BPBD setempat, Ramon Abdjul, bahwa hujan yang cukup deras mengguyur wilayah tersebut, menyebabkan drainase di wilayah itu tidak mampu menampung air bah.
"Jadi memang air sungai itu normal, cuma ada drainase yang belum selesai pengerjaannya. Dan ada juga drainase yang ada di tengah kampung itu yang tersumbat oleh lumpur dan sampah. Saya sudah minta kepada camat untuk mengajak masyarakat membersihkan itu (drainase)," katanya
Dengan buruknya sistem drainase, seorang aktivis lingkungan, Rahman Dako, menyoroti bagaimana sikap dan partisipatif masyarakat terhadap lingkungan. Menurutnya, tidak seluruhnya menjadi kesalahan pemerintah. Karena masyarakat juga ikut berkontribusi terhadap banjir lokal tersebut.
Misalkan pada perilaku membuang sampah oleh masyarakat yang belum baik. Sampah dibuang sembarangan di saluran air hingga menutupi aliran air. Sedimen di selokan di depan rumah yang hanya dibiarkan karena berharap pada petugas kebersihan, dan sulitnya masyarakat diajak bekerja sama dalam membersihkan lingkungan.
“Saat diajak ‘mohuyula’ membersihkan sampah atau selokan, yang paling aktif biasanya hanya sebagian masyarakat. Sedangkan banyak masyarakat lainnya sering kali dalam kegiatan mohuyula, hanya jadi penonton dan cuek bebek,” ungkapnya.
Seorang masyarakat lainnya juga mengungkapkan kekesalannya, “ini kalau masih ada yang buang sampah sembarangan di selokan baru mo marah kasana bale b marah, bo debo somo kase tau kalau mo banjir kasana bukan cuma depe rumah yang mo kana (Ini kalau masih ada masyarakat yang suka buang sampah sembarang di selokan, lalu ditegur hanya balik marah, akan saya bilang kalau nanti banjir, tak hanya rumahnya yang kena, tapi semua,” ungkapnya Irawati dengan kesal.
Irawati sendiri adalah seorang warga Boalemo yang kerap menyaksikan bagaimana masyarakat di lingkungannya membuang sampah. Menurutnya, drainase itu oleh masyarakat sudah dianggap semacam tempat sampah. Berbagai macam sampah dibuang ke dalamnya.
“Paling parah adalah, popok bayi yang hanya butuh beberapa saja sudah mampu menyumbat drainase. Jadi jangan dulu deh berharap pada pemerintah kalau kita saja melihat drainase yang tersumbat tidak mau turun langsung membersihkan,” katanya ketus.
-----
Reporter: Wawan Akuba
