Foto: Di Balik Rahasia Selawat dan Pengolahan Kopi Pinogu di Gorontalo

BANTHAYO.ID,GORONTALO - Pasangan suami istri di Gorontalo, Lukman (65) dan Suniarti (58), punya cara khusus mengelola Kopi Pinogu. Sejak tahun 2000 mereka menggunakan teknik itu, saat mereka memutuskan menetap di Desa Tulabolo, Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.
Keputusan itu diambil karena mereka ingin menjadikan perkebunan sebagai penonggak ekonomi. Terlebih mereka memiliki kebun kopi yang siap panen.
"Kopi yang banyak di kebun," ujarnya, Senin (29/7).
Banthayo.id berkesempatan melihat langsung pengelolaan Kopi Pinogu. Pasangan suami istri itu menggunakan alat tradisional untuk mengelola kopi.
Menurut Lukman, mereka punya ritual khusus agar kopi menghasilkan rasa terbaiknya.
Tahap awal memisahkan biji kopi dari kulitnya, dengan cara ditumbuk. Di tahap itu harus memiliki interval. Yakni, interval pertama cukup tiga kali menumbuk, kemudian dihentikan sesaat dan dilanjutkan lagi ke interval ke dua dengan empat kali tumbukan sambil berselawat nabi.
"Semua pekerjaan itu harus diimbangi dengan selawat, supaya ada keberkahan," kata Lukman.
Lanjut Lukman, setelah kulit kopi terlepas, biji kopi dikeringkan dalam sehari. Saat kering, biji kopi diulek kembali untuk mengeluarkan kulit ari yang masih menempel di biji kopi. Ritualnya sama, memiliki interval dan membacakan selawat. Mereka meyakini ritual itu bisa memengaruhi rasa dari kopi.
"Selesai itu, barulah menghasilkan biji kopi yang siap dikonsumsi," sambungnya.
Lukman menambahkan, kopi di lereng gunung Hungayono miliknya sering dikirim ke luar daerah. Jenis kopi yang ia miliki, robusta dan liberika.
----
Reporter : Rahmat Ali
Editor : Febriandy Abidin
