Konten Media Partner

Foto: Di Balik Rahasia Selawat dan Pengolahan Kopi Pinogu di Gorontalo

banthayo.idverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kopi Pinogu tumbuh secara alami di kawasan hutan di Kabupaten Bone Bolango. Senin, (29/7). Foto : Rahmat Ali/banthayoid
zoom-in-whitePerbesar
Kopi Pinogu tumbuh secara alami di kawasan hutan di Kabupaten Bone Bolango. Senin, (29/7). Foto : Rahmat Ali/banthayoid

BANTHAYO.ID,GORONTALO - Pasangan suami istri di Gorontalo, Lukman (65) dan Suniarti (58), punya cara khusus mengelola Kopi Pinogu. Sejak tahun 2000 mereka menggunakan teknik itu, saat mereka memutuskan menetap di Desa Tulabolo, Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.

Keputusan itu diambil karena mereka ingin menjadikan perkebunan sebagai penonggak ekonomi. Terlebih mereka memiliki kebun kopi yang siap panen.

"Kopi yang banyak di kebun," ujarnya, Senin (29/7).

Kopi Pinogu sudah ad sejak ratusan tahun, saat ini sebagian masyarakat telah membudidayakan kopi tersebut di sekitar desa. (Foto : Rahmat Ali/banthayoid)

Banthayo.id berkesempatan melihat langsung pengelolaan Kopi Pinogu. Pasangan suami istri itu menggunakan alat tradisional untuk mengelola kopi.

Menurut Lukman, mereka punya ritual khusus agar kopi menghasilkan rasa terbaiknya.

Tahap awal memisahkan biji kopi dari kulitnya, dengan cara ditumbuk. Di tahap itu harus memiliki interval. Yakni, interval pertama cukup tiga kali menumbuk, kemudian dihentikan sesaat dan dilanjutkan lagi ke interval ke dua dengan empat kali tumbukan sambil berselawat nabi.

"Semua pekerjaan itu harus diimbangi dengan selawat, supaya ada keberkahan," kata Lukman.

Pengolahan Kopi Pinogu, masih menggunakan peralatan tradisional. (Foto : Rahmat Ali/banthayoid)

Lanjut Lukman, setelah kulit kopi terlepas, biji kopi dikeringkan dalam sehari. Saat kering, biji kopi diulek kembali untuk mengeluarkan kulit ari yang masih menempel di biji kopi. Ritualnya sama, memiliki interval dan membacakan selawat. Mereka meyakini ritual itu bisa memengaruhi rasa dari kopi.

"Selesai itu, barulah menghasilkan biji kopi yang siap dikonsumsi," sambungnya.

Cara pembuatan yang masih dilakukan secara konvensional diyakini mampu memberikan rasa khas Kopi Pinogu. (Foto : Rahmat Ali/banthayoid)

Lukman menambahkan, kopi di lereng gunung Hungayono miliknya sering dikirim ke luar daerah. Jenis kopi yang ia miliki, robusta dan liberika.

Tahap awal memisahkan biji kopi dari kulitnya, dengan cara ditumbuk. (Foto : Rahmat Ali/banthayoid)
Buah kopi Pinogu yang banyak tumbuh di lereng gunung Hungayono, Kabupaten Bone Bolango. (Foto : Rahmat Ali/banthayoid)
Buah kopi Pinogu yang banyak tumbuh di lereng gunung Hungayono, Kabupaten Bone Bolango. (Foto : Rahmat Ali/banthayoid)
Buah kopi Pinogu yang banyak tumbuh di lereng gunung Hungayono, Kabupaten Bone Bolango. (Foto : Istimewa)
Kopi Pinogu, yang dijual dalam bentuk kemasan, mulai banyak di jumpai dipasaran. (Foto : Istimewa)

----

Reporter : Rahmat Ali

Editor : Febriandy Abidin