Foto: Warga Gorontalo Berbondong-bondong Selamatkan Diri dari Banjir

GORONTALO - Imbas dari hujan yang mengguyur Kota Gorontalo sejak malam kemarin, berakibat pada meluapnya sungai Bone. Buntutnya, sebagian wilayah Kota Gorontalo yang berada di bantaran sungai terendam banjir dengan ketinggian 1 hingga 1,5 meter.

Untuk menyelamatkan diri, terlihat banyak masyarakat yang harus meninggalkan rumah mereka dengan membawa serta barang yang masih bisa diselamatkan. Kepadatan masyarakat terlihat di Jalan Djalaludin Tantu, Kota Gorontalo. Sebab, jalan itu merupakan akses keluar masyarakat dari wilayah Kelurahan Talumolo dan Kampung Bugis.
Akibatnya, kerumunan masyarakat tak terhindarkan. Banyak masyarakat terlihat memikul TV, kipas angin, lemari pendingin serta menyelamatkan binatang ternaknya. Beberapa karena tak lagi punya tenaga, lantas pasrah dan hanya membawa pakaian seadanya.
Irfan, salah seorang masyarakat yang sedang menunggu mobil ayahnya untuk mengevakuasi dirinya dan keluarga mengaku, bahwa memang ia dan keluarganya tak menyangka jika air sungai akan meluap setinggi itu. Sebab, satu jam sebelumnya, air hanya setinggi kaki. Namun, tiba-tiba jadi setinggi kursi dan merendam seisi rumah.
“Semuanya terjadi sangat cepat. Awalnya hanya setinggi tumit. Saya lalu pergi sebentar ke Indomaret. Sekembalinya dari sana, ibu saya sudah teriak-teriak. Dan saat itu air sudah berhasil menghanyutkan kursi yang tadinya ada di teras,” katanya.
Bersama keluarganya, Irfan akan mengungsi ke rumah keluarganya yang ada di Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo. Mereka menganggap bahwa daerah itu masih aman dari banjir, sebab jauh dari sungai besar. Terlebih dari sungai Bone. Walaupun begitu, sebagian kerabatnya ada yang memilih untuk bergeser dan duduk di sekitaran lapangan Taruna Remaja dan depan rumah Dinas Gubernur Gorontalo. Mereka percaya, luapan sungai Bone tak akan bisa mencapai titik tersebut. Lagian, di wilayah itu banyak petugas yang berjaga.
“Baru mo kamana olo torang pak? Tidak ada keluarga di kota bagini. Somo tunggu di sini saja bantuan. Atau somo pindah ke aula wali kota torang (Lalu kami akan kemana juga pak? Kami tak punya keluarga di kota. Kami akan tunggu di sini, atau sebentar lagi akan pindah ke aula wali kota),” kata Neli, salah seorang warga yang rumahnya terendam banjir hingga seukuran dada orang dewasa.
Saat ini, Wali Kota Gorontalo, Marten Taha, sudah turun langsung ke lokasi dan menyiapkan sejumlah tempat pengungsian masyarakat. Setidaknya sudah ada dua tempat pengungsian yang telah ditempati warga saat ini, yaitu di aula kantor wali kota dan gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) No 38 Kota Gorontalo. Selain itu, Marten juga berencana untuk membuka Gedung Bele Li Mbui sebagai tempat pengungsian warga.
Meski begitu, masyarakat yang memiliki balita mengeluhkan tak tersedianya air minum bersih dan minyak kayu putih untuk bayi mereka. Sedangkan di aula kantor wali kota, sejumlah masyarakat harus berteriak-teriak meminta makanan. Sebab, saat air bah datang menerjang, mereka tak sempat makan. Apalagi di tengah pandemi COVID-19, jarang ada masyarakat yang menjaga jarak dan pakai masker.
“Kita akan segera mendirikan dapur umum di lapangan Taruna Remaja untuk masyarakat yang menjadi korban banjir. Kami berharap, kebutuhan mereka akan segera terpenuhi,” kata Marten ditemui di lokasi.
Saat ini, selain dapur umum, sudah ada makanan cepat saji yang sudah dibagikan kepada para pengungsi. Adapun kerugian materil, masih belum dapat dihitung karena hingga saat ini proses evakuasi masyarakat masih berlangsung.
----
Reporter: Wawan Akuba
***
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
