Konten Media Partner

Menelusuri 'Pasar Seni Rakyat', Pasar Ramah Lingkungan di Gorontalo

banthayo.idverified-green

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktivitas di pasar seni Desa Huntu, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Rabu, (18/12). Foto: Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas di pasar seni Desa Huntu, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Rabu, (18/12). Foto: Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)

BANTHAYO.ID, GORONTALO - Sinar matahari menembus di sela-sela daun, memberi cahaya terbatas ke dalam hutan bambu di belakang rumah warga, di Desa Huntu, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Pagi itu, Minggu (15/12), berlangsung transaksi jual beli di sana. Namanya Pasar Seni Rakyat. Pasar yang pertama kali digelar secara tradisional ini tak sedikit pun menghasilkan sampah plastik sekali pakai.

Pasar ini hanya digelar setiap hari Minggu. Buka pada pukul 06.00 WITA hingga 10.00 WITA. Kendati begitu, menjelang pukul 12.00 WITA, semua jualan telah habis terjual, namun pengunjung masih saja ramai. Hutan bambu yang sejuk membuat pengunjung lupa dan betah belama-lama.

Pasar yang pertama kali digelar secara tradisional, tanpa sedikit pun menghasilkan sampah plastik sekali pakai. Foto: Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)

Pasarnya tidak cukup luas. Lokasi pasar itu hanya kira-kira 10x10 meter. Penjualnya pun hanya masyarakat setempat yang memang ingin berjualan Usaha Kecil Menengah (UKM), dan Non-Government Organization (NGO) yang tertarik membawa produknya.

Karena ini adalah yang pertama kali digelar, maka produk yang dijual pun masih didominasi oleh makanan. Ragam kudapan lokal yang dijual adalah kue cucur, kue wapili, dan aneka gorengan yang memang sering ditemui.

Lokasi pasar itu hanya kira-kira 10x10 meter. Foto: Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)

Selain itu juga ada bubur jagung, atau dalam istilah lokal disebut sebagai "bubur sada", dengan lauk ikan yang sudah dicampur cabai khas Gorontalo. Minyak goreng kampung yang dibuat secara sederhana oleh masyarakat setempat menambah cita rasa dengan aroma yang menggoda.

Pasar ini juga menjual sayur segar yang langsung dipetik dari perkebunan di desa itu. Sayur-sayur tersebut sudah dibalut dengan daun pisang. Pengunjung yang membelinya tidak perlu menggunakan wadah lagi, kecuali jika membelinya dalam jumlah banyak. Walaupun begitu, sayur yang dijual sebenarnya hanya dalam porsi kecil, cukup dipakai untuk memasak sehari-hari.

Produk yang dijual di pasar seni didominasi oleh makanan dan sayuran. Foto: Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)

Pasar seni ini sendiri sebenarnya diinisiasi dan merupakan agenda dalam rangkaian kegiatan Maa Ledungga, pesta rakyat jelang panen padi, yang pembukaannya dilakukan pada lima hari sebelumnya. Uniknya, pasar ini menggunakan narasi "Tanpa Plastik Sekali Pakai", sehingga pembeli yang datang, diharuskan membawa wadah sendiri.

Namun, konsep yang diusung dalam pasar ini, selain konsep “zero waste”, juga pemberdayaan masyarakat dalam memanfaatkan produk lokal. Karena banyak potensi di desa, semisal pangan lokal, yang sebenarnya jika dikelola dengan baik akan mampu menambah penghasilan ekonomi. Lalu, agar tidak harus mengeluarkan biaya mahal ke pasar yang jauh, maka bisa dijual di pasar ini, karena dibuat di desa itu sendiri.

Pasar seni ini diinisiasi dan merupakan agenda dalam rangkaian kegiatan Maa Ledungga. Foto : Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)

“Kami sudah lama memikirkan konsep ini. Kira-kira lima bulan yang lalu. Kami benar-benar ingin menerapkan ini di Gorontalo. Rencana kami sih di Kota Gorontalo, tapi karena bertepatan dengan acara di sini, jadi ya sekalian saja,” kata Zahra Khan, salah satu inisiator.

Walaupun begitu, konsep pasar yang "zero waste" dan pengembangan potensi desa semacam ini sebenarnya sudah banyak dilakukan di daerah lain, namun di Gorontalo, konsep ini sama sekali masih baru.

Penekanan narasi untuk tidak menggunakan sampah plastik adalah semangat mendukung pengurangan sampah. Karena dengan membuang sampah pada tempatnya saja, tidak cukup menjadi tindakan yang bertanggung jawab kepada lingkungan. Tindakan itu sama sekali tidak mampu memastikan bahwa sampah yang dibuang tersebut benar-benar mampu terolah lagi. Apalagi, di tingkatan bawah, misalkan desa, belum ada teknologi pengelolaan sampah yang memadai.

Bukan anti terhadap plastik, tapi mengurangi penggunaannya. Apakah penggunaannya berkelanjutan atau tidak, itu yang perlu diperhatikan menurut Zahra. Karena plastik sebenarnya, tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan manusia saat ini.

Pasar ini menggunakan narasi "Tanpa Plastik Sekali Pakai". Foto: Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)

“Saat ini, karena masih yang pertama kalinya, maka pasar ini memang masih tahap perkenalan juga kepada masyarakat. Ke depan, jika memang respons masyarakat bagus, kami ingin menggelarnya, tapi tidak tiap minggu. Misalkan sebulan sekali, atau dua minggu sekali,” ujarnya.

Pemilihan tempatnya yang teduh, di bawah hutan bambu, menjadi salah satu konsep natural untuk pasar seni ini. Karena konsep tempatnya adalah pasar seni tradisional, maka keberadaannya juga harus se-tradisional mungkin. Dekat dengan masyarakat, baik dari segi lokasi, maupun harga dan produknya memang dibutuhkan dalam sehari-hari.

Pemilihan tempatnya yang teduh, di bawah hutan bambu, menjadi salah satu konsep natural untuk pasar seni ini. Foto : Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)

Ke depan, pasar ini akan disiapkan untuk orang-orang yang tertarik menjual produk-produk lokal, jajanan khas tradisional yang menggunakan bahan baku lokal. Sehingga Pasar seni ini tidak hanya menjadi sebuah pasar yang dipandang sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli, namun menjadi sebuah gerakan masyarakat dalam menciptakan kelokalan, baik pangan dan konsep yang mendukung ekonomi kerakyatan, dan lingkungan yang berkelanjutan.

Dalam upaya mendukung gerakan "zero waste", pasar seni ini menjadi sebuah gambaran bahwa, pasar yang tanpa plastik itu bisa diciptakan oleh masyarakat sendiri, tidak perlu menunggu regulasi pemerintah. Karena yang terpenting adalah mampu membangun kesadaran masyarakat, dan itu dilahirkan dari hal-hal kecil semacam ini.

-----

Reporter : Wawan Akuba