Mengenal Raja Panipi, Pejuang Kemerdekaan dari Gorontalo

BANTHAYO.ID – Makam tua di Desa Barakati, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, menjadi salah satu jejak peninggalan bersejarah.
Makam Raja Panipi atau Bobihu itu terletak di tengah perkebunan kelapa milik warga setempat. Makam itu bisa ditempuh selama 29 menit dari pusat Kota Gorontalo, menggunakan motor atau mobil.
Menurut warga setempat, Umar (53 tahun), Bobihu diberi kepercayaan oleh rakyat untuk memimpin wilayah Panipi pada tahun 1872. Maka warga menyebutnya sebagai Raja Panipi.
“Bobihu dipercaya masyarakat untuk melakukan perlawanan saat melawan kolonialisme Hindia Belanda,” ungkap Umar, Selasa (7/5).
Umar juga mengatakan, warga setempat mengenalnya sebagai seorang pejuang yang gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai raja, Bobihu menjadi incaran utama oleh para tentara Hindia Belanda. Hingga Bobihu bersama empat tokoh lainnya ditangkap dan diasingkan ke Sulawesi Selatan.
Budayawan Gorontalo, Irwan Hamzah (41), mengatakan pada tahun 1678 tentara Hindia Belanda pertama kali mengadakan kontrak perjanjian dengan Raja Gorontalo, dengan maksud daerah itu tunduk pada kekuasaan mereka yang berkedudukan di Ternate.
Pada tahun 1705, Pemerintahan Hindia Belanda telah mendirikan kantor dagang di Gorontalo. Dari sinilah kekuasaan Hindia Belanda di tanah Gorontalo resmi dimulai.
"Dalam masa itu, tercatat ada tiga peristiwa patriotisme yang menonjol di Gorontalo, yaitu Perang Padang, Perang Panipi, serta Perlawanan Olabu dan Tamuu," ungkap Irwan.
Lanjutnya, Bobihu pada masa itu berhasil melepaskan diri dari jajahan tentara Hindia Belanda atas bantuan tokoh agama lainnya. Kembalinya Bobihu ke Gorontalo pada 1874 memicu terjadinya perebutan kekuasaan dengan penjajah.
“Pada perang kedua ini, Bobihu tertembak dan gugur dalam pertempuran,” kata Irwan.
Dari pantauan Banthayo.id, di makam Raja Panipi terdapat bangunan kubah berwarna emas di atasnya. Di seputaran makam terdapat aula yang biasa digunakan keturunan Bobihu untuk berziarah.
Sementara itu, Bupati Gorontalo periode 2005-2015, David Bobihu, menjelaskan pemeliharaan makam telah pemerintah lakukan sejak masa kepemimpinannya.
David yang masih keturunan Bobihu itu mengungkapkan, keluarganya akan membangun museum di dekat makam. Tujuannya agar menjadi wadah mempererat hubungan keturunan Bobihu, serta saling tukar informasi untuk mendapatkan benda-benda bersejarah yang ditinggalkan oleh Raja Panipi dan patut dilestarikan.
“Mungkin saja banyak benda-benda yang ditinggal oleh Bobihu," ujar David.
Bobihu sendiri menurut David, memiliki benda-benda peninggalan. Seperti gelang sakti dan pedang yang bisa disimpan pada museum.
“Saya harap ini bisa dikumpulkan, agar benda peninggal tersebut bisa dilestarikan” ujar David.
Reporter: Rahmat Ali Editor: Febriandy Abidin
