Konten Media Partner

Mengenal Watingo-Malita, Pembatas Makanan di Adat Gorontalo

banthayo.idverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sesajian pondolo sering ditemui di beberapa hajatan dan doa kematian di Gorontalo. Minggu, (20/10). Foto : Dok Banthayo.id
zoom-in-whitePerbesar
Sesajian pondolo sering ditemui di beberapa hajatan dan doa kematian di Gorontalo. Minggu, (20/10). Foto : Dok Banthayo.id

BANTHAYO.ID,GORONTALO - Sebagian masyarakat di Provinsi Gorontalo selalu menyajikan watingo-malita dalam setiap hajatan. Terlebih, untuk hajatan yang berhubungan dengan adat setempat. Baik syukuran kelahiran, baiat, sunatan, gunting rambut, pernikahan, dan doa-doa kematian.

Watingo-malita difungsikan sebagai pembatas. Foto : Dok Banthayo.id
zoom-in-whitePerbesar
Watingo-malita difungsikan sebagai pembatas. Foto : Dok Banthayo.id

Watingo-malita adalah garam yang dipadukan dengan cabai di dalam satu wadah. Watingo adalah garam, dan malita adalah cabai.

Menurut salah satu imam di Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, Muahama (60), watingo-malita selalu disajikan bersamaan dengan makanan lain di setiap hajatan.

Watingo-malita sudah menjadi budaya turun-temurun di Gorontalo. Foto : Dok Banthayo.id

Setiap hajatan selalu diawali dengan doa bersama. Di doa itu orang-orang akan duduk berhadap-hadapan. Di tengahnya ada makanan yang berjejer teratur.

Di jejeran makanan itu ada lebih dari satu watingo-malita yang disebut sebagai pondolo atau pembatas. Fungsinya untuk membatasi agar orang-orang yang duduk berhadapan tidak melewati pondolo lain untuk mengambil lauk saat menyantap sesajian.

Watingo-malita yang disebut sebagai "pondolo" atau pembatas. agar orang yang duduk berhadapan tidak melewati pondolo lain untuk mengambil lauk saat menyantap sesajian. Dok Banthayo.id

"Watingo diartikan lautan dan malita diartikan segumpal darah," kata Muahama, Minggu (20/10).

Garam yang dimaknai lautan itu sebagai pembatas jarak antara dua pulau. Lalu cabai dimaknai segumpal darah manusia yang mendiami pulau tersebut. Maka watingo-malita sebagai pondolo merupakan syarat saat ada hajatan yang diawali doa bersama, agar orang-orang tidak saling berebut makanan.

Tradisi itu sudah dilakukan turun-temurun. Namun menurut Muahama, hal itu dilakukan berdasarkan keyakinan masing-masing.

----

Reporter : Rahmat Ali

Editor : Febriandy Abidin