'Menyulap' Eceng Gondok di Danau Limboto, Gorontalo, Menjadi Karya

BANTHAYO.ID,GORONTALO - Eceng gondok (Eichornia crassipes) adalah tumbuhan yang mengapung di air. Di daerah lain, tumbuhan ini dikenal dengan nama yang berbeda-beda. Memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi, tumbuhan ini dianggap sebagai gulma karena keberadaanya merusak lingkungan perairan.
Tinggi tumbuhan ini sekitar 0,4 hingga 0,8 meter dengan daun tunggal berbentuk oval. Ujung pangkalnya meruncing dengan permukaan daun berwarna hijau. Di Danau Limboto, Kabupaten Gorontalo, tumbuhan ini hampir memenuhi seluruh permukaannya, hingga pemerintah setempat harus menguras dana yang banyak hanya untuk mengurusi tumbuhan ini.
Pertumbuhan eceng gondok yang tak mampu dikendalikan menjadi salah satu masalah yang dihadapi di Danau Limboto. Danau yang masuk dalam 15 danau kritis di Indonesia. Jika eceng gondok mati, bangkainya akan turun ke dasar perairan yang menyebabkan pendangkalan danau.
Selain itu, tumbuhan ini dapat meningkatkan evapotranspirasi atau penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman. Kemudian dapat menghalangi jumlah cahaya yang masuk ke dalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air.
Namun, dari banyak masalah yang ditimbulkannya terhadap danau, di sebuah desa di Kabupaten Gorontalo, tumbuhan ini disulap menjadi sesuatu yang bernilai secara ekonomis. Dengan keuletan dan kreativitas, tumbuhan yang dikeluhkan oleh nelayan ini sampai dilirik oleh negara tetangga.
Rumah produksi yang menyulap masalah di Danau Limboto menjadi rupiah itu bernama Usaha Jaya. Berada di Desa Luwoo, Kecamatan Talaga Jaya, Kabupaten Gorontalo. Berawal dari pelatihan yang difasilitasi Bank Indonesia (BI) perwakilan Provinsi Gorontalo, kelompok ini kemudian mulai mengembangkan usahanya berdasarkan kreativitas dan keterampilan yang mereka dapat.
Yeni Rorintulus, sebagai ketua kelompok Usaha Jaya mengungkapkan, di tahun 2017 adalah awal ia bersama kelompoknya memulai bisnis kerajinan tangan berbahan eceng gondok. Awalnya anggotanya berjumlah 21 orang, namun karena pelbagai hal, kemudian jumlahnya menyusut menjadi lima orang, dan diisi oleh hampir seluruh anggota keluarganya.
Wanita berumur 55 tahun tersebut bercerita kepada banthayo.id tentang kesulitan merintis bisnis yang produknya belum masif diketahui dan digunakan oleh banyak orang. Menurutnya, tantangannya ada pada penghasilan yang sedikit dan tidak mampu membiayai kehidupan sehari-hari. Apalagi dengan jumlah anggota yang banyak. Permintaan barang yang cenderung sedikit, akan sangat menyulitkan dari sisi keuangan.
“Alasan anggota saya mengundurkan diri bermacam-macam."
Menurut Yeni, ketika ia menjalani pelatihan keterampilan di Semarang pada 2017, ia banyak belajar banyak bagaimana memoles produknya agar bisa dilirik oleh konsumen dan dapat bersaing. Walaupun saat ini ia belum kewalahan menerima pesanan ataupun permintaan, namun ia sudah senang ketika beberapa tempat sudah menginisiasi galeri untuk memajang produk yang mereka buat. Meski hal itu masih dengan sistem bisnis beli-putus. Artinya, ia menjual produknya, lalu tidak mengintervensi apa pun modifikasi yang dilakukan, baik harga maupun model.
“Memang kesulitan kami saat ini adalah produk yang masih dibuat berdasarkan imajinasi dan kreativitas kami. Walaupun beberapa masih harus merujuk pada model-model yang sudah ada di pasar."
Diungkapkan Yeni lagi, saat ini memang ketertarikan masyarakat terhadap produk eceng gondok masih kecil, baik sebagai konsumen maupun produsen. Bahkan menurutnya, mahasiswa yang memang menggeluti bidang seni rupa tidak banyak yang tertarik menerapkan ilmunya pada pengembangan desain kerajinan tangan eceng gondok.
“Beberapa kali pelatihan, namun semua berakhir di pelatihan saja, tidak ada yang mau menjadi produsen atau sekadar menggeluti bidang desain maupun pengrajin seperti kami."
Dari sisi harga, Yeni menuturkan masih menjual produknya berdasarkan dimensi dan tingkat kesulitan. Sedangkan model yang dibuatnya masih didominasi oleh tas wanita maupun dompet, sandal dan pernah sekali sepatu. Walaupun ia berkeinginan mengeksplorasi model lain.
“Kalau kami, karena memang belum banyak modifikasi yang dilakukan, maka paling mahal kami menjualnya 200 ribu rupiah. Sedangkan untuk harga termurahnya 50 ribu rupiah.”
Selain itu, ia juga menerima desain sesuai pesanan dari konsumen. Desainnya bisa terserah, namun menurutnya jika terlalu sulit, maka ia akan menolak permintaan. Selama ini ia kerap menyanggupi permintaan pelanggan.
Untuk keuntungan sendiri, ia merasa sudah cukup. Karena jika dihitung bersih, sebulan ia mampu meraup keuntungan hingga tiga juta rupiah. Hal tersebut karena dalam hal distribusi ke pelanggan dan bahan pokoknya memang tidak mengeluarkan biaya. Hal itu dilakukan oleh anggotanya maupun dibantu oleh BI perwakilan Gorontalo. Selama ini juga menurutnya, produknya biasa didistribusikan ke Jakarta maupun Bali. Karena permintaan dari wilayah itu cukup baik.
“Tiga juta rupiah itu sudah cukup dengan permintaan yang sedikit. Tapi kami berharap agar produk ini bisa diterima masyarakat Gorontalo, maupun wisatawan yang berkunjung. Karena biasanya juga, produk kami sebenarnya lebih banyak laku di pameran yang diikuti oleh BI. Kalau pamerannya di luar daerah, biasanya mereka mengambil beberapa produk kami untuk ikut dijual di sana,” tutup Yeni.
Galeri Eceng Gondok
Walaupun begitu, untuk mengenalkan produk kerajinan tangan ini kepada masyarakat luas perlu mekanisme bisnis yang baik. Artinya, perlu adanya sistem promosi yang baik. Untuk itulah, sebuah galeri yang memajang produk-produk eceng gondok kemudian diinisiasi dan dibangun di Jalan HB Jassin, Kota Gorontalo.
Salah satu pemiliknya, Isnawati Ilahude Mohamad. Saya menemuinya di galeri yang diberi nama “Tiar Handycraft”. Ia mengungkapkan, bersama rekannya Aries Jamil memang menginisiasi galeri itu sebagai tempat promosi kerajinan tangan eceng gondok. Galeri itu dibangun sejak Maret 2019.
Di ruang galeri yang berukuran kira-kira 4x6 meter tersebut, ia memasok kerajinan eceng gondok, salah satunya dari rumah produksi milik Yeni. Ia lantas memoles produknya dengan kreativitasnya lalu menjual kembali dengan harga yang variatif.
“Dengan sistem jual-putus, kami sebenarnya memasok produk-produk ini dari tiga tempat rumah produksi. Dan dengan tambahan beberapa aksesori, kami menjualnya dengan harga paling mahal 500 ribu rupiah," katanya.
Namun, Isna sendiri memang tidak hanya memajang produknya di galeri, karena dalam berbagai kesempatan, misalkan jika ada kegiatan pameran di luar daerah, ia selalu membawa produk itu untuk dijual di sana.
“Memang selama ini pembeli didominasi oleh orang luar daerah, apalagi kami sering membawa produk ini dalam beberapa pameran di luar daerah. Di sana banyak yang suka.”
Menurut Isnawati lagi, peminat warga Gorontalo memang masih sedikit. Namun ke depan mereka sedang berusaha bagaimana agar produk ini mampu menyasar kebutuhan konsumen yang lain. Misalkan alat-alat rumahan, seperti tempat tisu dan lain-lain.
“Ada songkok juga yang kami buat dari bahan eceng gondok yang saat ini memang masih masa percobaan. Ini kami siapkan sebagai alternatif dari songkok keranjang (upiya karanji) Gorontalo yang memang sudah lebih dulu terkenal.”
Namun menurutnya, kelemahan produk berbahan eceng gondok adalah tidak bisa tahan basah. Jika ia disimpan di tempat yang lembab, akan berjamur dan merusak bahannya. Makanya untuk masalah tersebut, ia menyiasati dengan membuat soft case khusus.
“Untuk mengantisipasi kerusakan, kami memang membuat soft case tambahan agar produk yang kami jual ini tidak mudah rusak. Karena memang perawatannya itu sama dengan perawatan tas berbahan kulit,” tutupnya.
----
Reporter: Wawan Akuba
