Opini & Cerita
·
2 Juni 2019 8:20

Merawat Tradisi Tumbilotohe lewat Miniatur Menara Pakaya Limboto

Konten ini diproduksi oleh banthayo.id
Merawat Tradisi Tumbilotohe lewat Miniatur Menara Pakaya Limboto (400975)
Festival Tumbilotohe di Lapangan Rektorat UNG. Sabtu, (1/6) Foto : Wawan Akuba/banthayoid
Banthayo.id,Gorontalo - Sejak tahun 2014, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG) secara konsisten merawat tradisi tumbilotohe atau malam pasang lampu yang berlangsung di halaman Rektorat UNG.
ADVERTISEMENT
Setiap tahun konsep yang dibuat mahasiswa selalu berbeda dan memiliki ciri khas. Dengan menggabungkan berbagai keahlian dari enam jurusan yang ada di Fakultas Teknik, instalasi dan layout tumbilotohe selalu menyedot perhatian pengunjung.
Tak heran, setiap tahun UNG menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat malam tumbilotohe. Tahun ini, mahasiswa Fakultas Teknik membuat miniatur Menara Pakaya Limboto sebagai ide besar dalam 'Festival Tumbilotohe' di UNG.
Merawat Tradisi Tumbilotohe lewat Miniatur Menara Pakaya Limboto (400976)
Sejumlah pengunjung memadati lapangan rektorat UNG. (Foto : Wawan Akuba/banthayoid)
Miniatur itu dibuat dari instalasi bambu dengan ketinggian 12 meter. Idenya bermula setelah melihat foto Menara Pakaya Limboto yang viral di media sosial.
“Para penikmat foto banyak ke Menara Pakaya Limboto untuk menikmati indahnya kerlap-kerlip lampunya. Maka, walau hanya miniatur, kami mencoba mereplika menara tersebut," kata Ketua Panitia Festival Tumbilotohe, Fikram Lamato, Sabtu (1/6).
ADVERTISEMENT
"Barangkali dengan ini keinginan masyarakat yang ingin berfoto di Menara Pakaya Limboto, namun merasa terlalu jauh, akan diwakili dengan berfoto di miniatur yang kami buat ini,” sambungnya.
Merawat Tradisi Tumbilotohe lewat Miniatur Menara Pakaya Limboto (400977)
Miniatur Menara Pakaya Limboto setinggi 12 meter dipadati pengunjung. (Foto : Wawan Akuba/banthayoid)
Replika menara itu dibangun dalam waktu satu bulan. Sebanyak 20 lampu light-emitting diode (LED) dengan beragam warna menerangi menara. Setiap tingkat menara memiliki warna lampu yang berbeda. Hasilnya, menara bertingkat lima ini terlihat persis Menara Pakaya Limboto.
Mahasiswa Fakultas Teknik UNG juga menghadirkan lampion yang digantung di setiap sudut instalasi terowongan bambu dan hamparan 2.500 lampu botol berbahan bakar minyak tanah, menjadi satu keindahan yang tak bisa dilewatkan.
Merawat Tradisi Tumbilotohe lewat Miniatur Menara Pakaya Limboto (400978)
Muda-mudi dalam menikmati festival tumbilotohe. (Foto : Wawan Akuba/banthayoid)
Fikram, mengatakan menyiapkan bahan bakar untuk 2.500 lampu botol menjadi tantangan tersendiri bagi mereka, sebab hanya mendapat bantuan 35 liter minyak tanah dari Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo. Untuk menutupi kekurangannya, mereka membeli sendiri minyak tanah menggunakan dana bantuan dari kampus dan beberapa perusahaan swasta.
ADVERTISEMENT
“Dalam sebulan terakhir, kami mengerjakan layout tempat, instalasi listrik, dan bambu, juga mencari dana untuk menutupi kekurangan operasional dan lain-lain. Semua itu memang melelahkan, namun dengan melihat banyaknya pengunjung yang datang, senyum puas para penikmat foto, kami lega dengan hasil yang kami buat,” kata Fikram.
Merawat Tradisi Tumbilotohe lewat Miniatur Menara Pakaya Limboto (400979)
Terowongan yang dibuat dari isntalasi bambu. (Foto : Wawan Akuba/banthayoid)
Arip, seorang pengunjung, mengaku banyak sekali tempat unik dan menarik di Gorontalo selama malam tumbilotohe. Menurutnya, semua tempat didesain dengan sangat menarik dan tidak akan cukup jika dikunjungi hanya dalam tiga malam, terlebih dengan situasi kendaraan yang tumpah ruah di jalanan sehingga harus menembus kemacetan.
“Kampus UNG ini salah satu tempat prioritas saya, makanya saya di sini. Setelah dari sini, saya akan ke tempat lainnya," ujar Arip.
Merawat Tradisi Tumbilotohe lewat Miniatur Menara Pakaya Limboto (400980)
Seorang mahasiswa sedang menyalakan lampu.
Seorang pengunjung lainnya di tempat yang sama, Bianca, berharap agar kegiatan perayaan itu tidak menghilangkan esensi dari tradisi tumbilotohe.
ADVERTISEMENT
“Kan kita tahu sama-sama, tradisi tumbilotohe ini lahir dari kebiasaan kita dulu ke masjid. Dulu, tetua kita gunakan pelita untuk menembus gulita. Namun saat ini, kan, kita telah bebas dari gulita. Jalanan terang benderang menuju masjid, maka jangan justru lupa jalan ke masjid,” ungkap Bianca.
----
Reporter : Wawan Akuba
Editor : Febriandy Abidin