'Mutimualo', Ritual Mandi di Gorontalo untuk Keluarga yang Berdukacita

BANTHAYO.ID,GORONTALO – Sebagian masyarakat di Provinsi Gorontalo masih melaksanakan tradisi Mutimualo, yaitu ritual mandi bersama di sungai setelah menggelar prosesi doa hari ketujuh atas meninggalnya anggota keluarga.
Budaya itu memiliki beberapa tahapan yang harus dilalui. Pelaksanaannya harus dipimpin oleh hulango, seorang dukun kampung. Salah satunya adalah Ta Liko (60), seorang hulango di Desa Limbato, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo.
Saat ditemui pada Jumat, (11/10), Ta Liko mengatakan langkah awal ritual itu yaitu menotok--bontho di bagian tubuh tertentu--kepada seluruh anggota keluarga yang mengikuti prosesi. Seperti di bagian dahi, kedua pundak, lengan, dan lutut.
Sebelum menotok, jari telunjuk hulango akan diolesi campuran buah pinang dan kapur sirih yang sudah dihaluskan. Lalu mereka menuju sungai untuk melaksanakan ritual mutimualo.
“Anggota keluarga yang mengikuti ritual harus melewati pintu depan untuk keluar dari dalam rumah. Kalau kembali harus dari pintu belakang," jelas Ta Liko.
Dipilih satu anggota keluarga tertua untuk mengenakan pakaian putih. Prosesi juga akan diawali dari umur tertua. Lalu ia akan diperintahkan hulango duduk di atas tempat parut kelapa tradisional.
Di tahap itu hulango akan memecahkan kelapa yang sudah dikupas sabutnya di atas kepala. Kelapa yang sudah dipecahkan akan diparut olehnya. Hasil parutan akan diremas oleh hulango di atas kepala semua anggota keluarga yang ikut ritual.
Selanjutnya, anggota keluarga yang paling tua akan diminta untuk memecahkan pelepah pinang untuk kemudian akan dihanyutkan di sungai. Setelah itu, dilanjutkan dengan proses mandi. Lalu hulango akan memercikan air mengunakan daun pinang dan daun lainnya.
“Adat ini memang sering dilaksanakan di Gorontalo oleh keluarga yang berduka atas kematian salah satu anggota keluarga,” jelasnya.
Banthayo mewawancarai salah seorang keluarga yang mengikuti ritual itu. Wiwin Andjami (48), warga di Desa Limbato mengatakan, ritual itu sudah dilakukan turun temurun. Konon, ritual itu mampu membuang kesedihan usai dilanda duka.
Ritual tersebut, menurutnya dilakukan tepat tujuh hari sejak meninggalnya anggota keluarga. Maka seluruh anggota keluarga harus ikut mandi secara bersama di sungai.
“Selain mampu menghilangkan kesedihan, ritual itu juga diyakini bisa membuat anggota keluarga yang berduka menjadi sehat dan pikiran terasa segar,” ungkap Wiwin.
Ritual itu jelas Wiwin, dilakukan sebagai bentuk keikhlasan dari keluarga untuk kepergian mendiang. Jika hal itu tidak dilakukan, menurut Wiwin, rasa duka akan terus menghantui anggota keluarga.
“Ritual tersebut menjadi harapan semoga keluarga yang ditinggalkan tidak lagi merasakan kesedihan yang mendalam dan mendiang bisa mendapatkan tempat yang layak,” tutupnya.
----
Reporter: Rahmat Ali
Editor: Febriandy Abidin
