Konten Media Partner

Ngadi Wunu-Wunungo, Tradisi Membaca Alquran dengan Bahasa Gorontalo

banthayo.idverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tradisi Wunungo yang digelar di kawasan Taman Menara, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Jumat (3/5). (Foto: Burdu/banthayoid)
zoom-in-whitePerbesar
Tradisi Wunungo yang digelar di kawasan Taman Menara, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Jumat (3/5). (Foto: Burdu/banthayoid)

BANTHAYO.ID – Ratusan warga dari berbagai kecamatan di Kabupaten Gorontalo memadati Taman Pakaya Limboto untuk menyaksikan pertunjukan tradisi Ngadi Wunu-Wunungo, Jumat malam (3/5). Tradisi tersebut merupakan kegiatan membaca Alquran dalam Bahasa Gorontalo.

Selain itu, mereka juga membacakan syair tentang pujian kebesaran kepada Allah dan pujian untuk para Nabi, yang diiringi ketukan alat musik tradisional rebana. Wunungo dalam Bahasa Gorontalo adalah pembacaan syair-syair yang mengandung petuah dan nasihat.

Pembacaan syair ini pun dilafazkan secara bersamaan atau berkelompok. Tak ada sejarah yang mencatat siapa pencetus tradisi ini. Sebab, pada zaman dulu, tak ada yang menulis karya-karya seni budaya religius dalam sebuah buku catatan.

Para guru dari berbagai wilayah melantunkan Syiar Ngadi Wunu-Wunungo. (Foto :Burdu/banthayoid)

Diperkirakan, tradisi kuno ini sudah ada sejak abad ke-18. Pada masa tersebut, masyarakat Gorontalo sudah banyak yang menganut agama Islam dan menghafal Alquran.

Menariknya, tradisi Wunungo ini digelar dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Para peserta yang ikut pun berprofesi sebagai guru.

Untuk melestarikan nilai-nilai budaya, para guru tersebut diharapkan bisa menjadi pelatih bagi murid-muridnya. Begitulah yang diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo, Lilian Rahman.

Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo, bersama Ketua TP-PKK Kabupaten Gorontalo, berbaur dengan para peserta. (Foto: Burdu/banthayoid)

Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulutenggo, Apolos Marisan, mengatakan potensi kebudayaan harus terus dilestarikan pada era milenial seperti saat ini, agar tidak punah. "Harus dijaga," imbuhnya.

Sementata itu, Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo, sedikit kaget melihat teks syair Wunungo yang bertuliskan huruf Arab pegon.

Syair Wunungo yang bertuliskan Arab pegon sempat membuat Bupati Gorontalo kaget. (Foto :Burdu/banthayoid)

“Kalau menari Saronde saya sudah beberapa kali, waktu menikah saya juga menari Saronde. Tapi yang buat saya kaget ternyata lantunan syair Wunungo itu menggunakan huruf Arab pegon seperti di Brunei Darusallam,” tutup Nelson.

Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo, dan Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulutenggo, Apolos Marisan, didaulat menari Saronde. (Foto :Burdu/banthayoid)

----

Reporter: Burdu

Editor: Febriandy Abidin